Singapura Target Kurangi Konsumsi Garam Mulai 2026
Gambar atau konten salah?
Singapura kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kesehatan warganya. Setelah sukses besar dengan kampanye mengurangi gula, negara ini kini mengarahkan perhatian pada konsumsi garam. Pemerintah setempat, melalui Dewan Promosi Kesehatan atau Health Promotion Board (HPB), sedang menyusun rencana besar untuk mengubah kebiasaan makan masyarakat.
Rencananya, kampanye besar-besaran ini akan diluncurkan pada kuartal keempat tahun 2026. Target utamanya sederhana: membuat masyarakat secara alami terbiasa meminta lebih sedikit garam dan saus saat memesan makanan. Bayangkan, seperti halnya kita sekarang otomatis meminta minuman dengan kadar gula lebih rendah, nantinya hal serupa akan berlaku untuk garam.
"Kita perlu menormalisasi permintaan ini," ujar Kepala Eksekutif HPB, Tay Choon Hong. "Ketika semakin banyak orang yang meminta, mungkin di masa depan kita bisa menerapkan rendah natrium sebagai standar baku (default)." Pernyataan ini menunjukkan ambisi besar Singapura untuk menjadikan pilihan rendah garam sebagai sesuatu yang biasa, bukan lagi pengecualian.
Langkah ini bukanlah sesuatu yang dilakukan secara tiba-tiba. Ini adalah replikasi dari strategi agresif yang sebelumnya sukses diterapkan pada bulan September 2023. Saat itu, seluruh operator food and beverage (F&B) diwajibkan untuk menjadikan minuman dengan kadar gula lebih rendah sebagai standar. Hasilnya? Skema pelabelan Nutri-Grade dari A hingga D berhasil mengubah perilaku konsumen secara drastis.
Data menunjukkan, angka penjualan minuman kemasan yang lebih sehat, yang masuk dalam kategori Grade A dan B, meroket dari 37 persen di tahun 2017 menjadi 73 persen di tahun 2024. Prestasi ini tidak main-main. Singapura bahkan dianugerahi penghargaan Healthy City Recognition 2024 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan sistematis dan edukasi massal benar-benar bisa bekerja.
Sekarang, giliran natrium. Rencananya, mulai pertengahan tahun 2027, label Nutri-Grade yang ketat akan dicetak secara jelas pada kemasan berbagai produk. Bukan hanya garam dapur, tetapi juga saus, bumbu, mi instan, hingga minyak goreng. Semua akan mendapat penilaian yang sama transparannya seperti minuman.
Mengapa langkah drastis ini diambil? Alasannya sangat medis dan mendesak. Data kesehatan terbaru dari tahun 2025 mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga penduduk Singapura kini hidup dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Ini bukan sekadar angka. Kondisi ini adalah tiket langsung menuju serangan jantung, stroke, hingga kerusakan ginjal yang bisa berujung pada cuci darah seumur hidup.
Lebih miris lagi, Survei Gizi Nasional tahun 2022 mencatat bahwa 9 dari 10 warga Singapura mengonsumsi natrium dalam jumlah yang sangat tinggi. Rata-rata, mereka mengonsumsi 3.620 mg natrium per hari. Angka ini jauh melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan para ahli, yaitu maksimal 2.000 mg per hari. Sebagai gambaran, 2.000 mg itu setara dengan satu sendok teh garam. Bayangkan, kebanyakan orang mengonsumsi hampir dua kali lipat dari batas aman setiap harinya.
Lewat intervensi ketat ini, HPB menargetkan asupan garam warga bisa dipangkas hingga 15 persen secara nasional pada tahun 2026. Target ini ambisius, tetapi bukan tanpa tantangan.
Tay Choon Hong mengakui bahwa memaksa industri untuk mengurangi garam jauh lebih rumit secara teknis dibandingkan memangkas gula. Masalahnya, peran natrium dalam makanan kemasan sering kali bersifat struktural. Garam bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal proses.
Contohnya, produsen kecap asin sudah memprotes keras. Mereka khawatir pengurangan garam yang terlalu ekstrem akan menghancurkan proses fermentasi kedelai. Akibatnya, kualitas dan cita rasa saus bisa menurun drastis. Ini bukan soal menolak perubahan, tetapi soal realitas teknis di lapangan. Menghadapi kendala ini, HPB terpaksa menyesuaikan ambang batas natrium khusus untuk produk saus. Tujuannya jelas: agar keseimbangan rasa tetap terjaga.
Untuk mempermudah warga beralih, pemerintah mulai menggandeng supermarket raksasa pada awal 2026. Mereka akan menyediakan rak khusus yang diberi label 'pilihan lebih sehat'. Ini adalah cara untuk memudahkan konsumen menemukan alternatif yang lebih baik tanpa harus repot-repot membaca label satu per satu.
Namun, ada satu kendala lain: harga. Garam rendah natrium dibanderol lebih mahal, sekitar S$5 (Rp59.000) per kilogram. Bandingkan dengan garam biasa yang hanya S$2 (Rp23.000). Selisihnya lumayan, sekitar S$3 (Rp53.000).
Tapi, Tay punya perspektif yang berbeda. "Rata-rata rumah tangga hanya mengonsumsi 1 kg garam dalam setahun penuh. Dalam konteks ini, membayar S$3 (Rp53.000) lebih mahal demi jaminan kesehatan jantung selama setahun penuh bukanlah hal yang buruk," tegasnya. Argumen ini menekankan bahwa biaya tambahan untuk garam sehat sangat kecil jika dibandingkan dengan potensi biaya rumah sakit yang jauh lebih besar.
Singapura sedang mencoba mengulang sukses besar kampanye anti-gula. Kali ini, targetnya adalah garam. Tantangannya lebih berat, karena garam menyentuh struktur dasar makanan. Tapi, dengan data yang jelas dan strategi yang terukur, mereka optimis bisa mengubah kebiasaan makan warganya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita di Indonesia siap untuk mengikuti langkah serupa?
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Teka-teki Lingkaran: Cari 7 Hewan Tersembunyi di Dalamnya
Stunting di Sanggau Naik, Menkes Sorot Prioritas MBG
Bayi Keracunan Nitrit Usai Susu Formula Dicampur Jus Sayuran
Rhabdomyolysis Mengintai Pelari Maraton, Bisa Sebabkan Gagal Ginjal
Makan Lambat: Kunci Psikologis yang Jarang Disadari
Kanker Serviks Stadium 4: Feses Keluar dari Vagina, Gejala Akhir
Berita Terbaru
Pria 70 Tahun Tanpa Jari Tangan Kiri Tetap Setia Buat Sachima
Paman Sam: Bukan Hanya Kartun, Tapi Cerita Panjang
Kompetisi TKP Polda Sumsel: Petugas Diuji Kemampuan Awal
BMKG Peringatkan Gelombang 2,5 Meter di Perairan Jatim
Pengendara Bandel Tutup Plat Nomor Pakai Masker, Siap-Siap Kena Denda Rp 500 Ribu
Undav Kalahkan Messi di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026
Moral Karyawan Anjlok, Meta Siapkan Camilan Tambahan
Dari Miskin Hingga Naik Maserati: Kisah Sukses Pria China di Bisnis Foie Gras
