Pria 70 Tahun Tanpa Jari Tangan Kiri Tetap Setia Buat Sachima
Gambar atau konten salah?
Singapura — Seorang pria berusia 70 tahun bernama Poon Sum Hay membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya. Terlahir tanpa jari di tangan kirinya, Poon tetap setia menjalankan usaha pembuatan sachima, camilan tradisional khas Singapura, setiap hari.
Poon baru saja menjalani pengobatan untuk kanker usus besar pada Desember 2024 lalu. Informasi ini dikutip dari laporan Weird Kaya pada 21 Juli 2025. Meski menghadapi berbagai tantangan fisik dan kesehatan, semangat Poon tidak pernah surut. Kisahnya menjadi perhatian publik karena kegigihannya dalam mempertahankan tradisi kuliner keluarga.
Selama lebih dari lima dekade, Poon menjalankan usaha keluarga bernama Pan Ji Cooked Food. Usaha ini terkenal dengan sachima, yaitu camilan yang terbuat dari adonan tepung goreng yang direkatkan dengan sirup gula. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar delapan jam setiap hari.
Poon mulai belajar membuat sachima sejak usia 12 tahun. Ia belajar langsung dari ayahnya. Kini, di tengah semakin sedikitnya pembuat sachima tradisional di Singapura, Poon menjadi salah satu dari sedikit orang yang masih mempertahankan teknik pembuatan asli.
Setiap hari, Poon bangun pada pukul 06.00 pagi untuk memulai proses pembuatan sachima. Ia menguleni adonan, menipiskannya, memotong, lalu menggorengnya sebelum dicampur dengan sirup gula. Menurut Poon, kualitas sachima tidak bisa didapatkan dengan cara instan.
"Kamu tidak bisa mengambil jalan pintas. Kalau dilakukan begitu, hasilnya akan benar-benar berbeda," ujar Poon kepada media setempat.
Cobaan besar datang pada Desember 2024. Saat itu, Poon mengalami gangguan buang air besar yang tidak biasa. Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, dokter mendiagnosisnya menderita kanker usus besar. Ia kemudian menjalani operasi pengangkatan sebagian usus besar dan harus dirawat di rumah sakit selama delapan hari.
Setelah operasi, Poon masih harus menjalani 16 kali sesi kemoterapi sebagai bagian dari proses pengobatan. Kondisi ini memaksanya menutup lapak untuk sementara waktu. Namun, jauh dari aktivitas membuat sachima justru membuatnya merasa kehilangan.
Enam bulan setelah beristirahat, tepatnya pada Agustus 2025, Poon memutuskan untuk kembali membuka usahanya. Ia mengaku rindu membuat camilan yang telah menjadi bagian hidupnya selama puluhan tahun.
Saat ditanya tentang keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat sachima, Poon menilai bahwa kemampuan teknis bukanlah faktor utama. Baginya, yang paling penting adalah kesungguhan dan kecintaan terhadap pekerjaan tersebut.
"Semua tergantung seberapa besar usaha yang diberikan seseorang. Jika tidak punya passion dan ketulusan, hasilnya tidak akan enak," katanya.
Poon juga tidak terlalu memikirkan masa depan usahanya. Ia tidak memiliki anak yang bisa meneruskan bisnis keluarga tersebut. Meski begitu, ia menerima keadaan tersebut dengan tenang.
"Kalau ada penerus ya ada. Kalau tidak ada, ya tidak ada," ujarnya.
Hingga kini, pelanggan tetap berdatangan ke lapaknya meski harga camilan yang dijual mengalami kenaikan. Bahkan, menurut kekasihnya yang telah menemaninya selama 10 tahun dan rutin membantu di lapak, ada pelanggan yang sengaja datang dari Ipoh, Malaysia, hingga Hong Kong hanya untuk membeli sachima buatannya.
Sang kekasih juga mengaku bangga dengan perjalanan hidup Poon. Di balik ketekunan dan kegigihannya, ia menyebut Poon sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati.
Kisah Poon Sum Hay mengingatkan kita bahwa semangat dan dedikasi bisa mengatasi berbagai rintangan. Meski lahir tanpa jari di tangan kiri dan pernah menghadapi kanker, ia tetap bertahan menjalankan tradisi pembuatan sachima. Usahanya yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun ini menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap pekerjaan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
