Siswa SDN Giriasih Hadapi Jalan Licin Saat Hujan Pagi

Yuli S. · 2 min baca · 22 hari lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Siswa SDN Giriasih Hadapi Jalan Licin Saat Hujan Pagi

Gambar atau konten salah?

Bandung Barat, langit cerah, matahari langsung menyentuh tubuh bocah-bocah yang berbaris rapi di depan SD Negeri Giriasih, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin. Sebagian lagi berlarian di lapangan olahraga sekolah. Pemandangan lumrah di belahan daerah manapun. Ada juga anak-anak yang memilih diam di kelas, malas kepanasan.

SDN Giriasih terletak di atas gunung, aksesnya sangat terjal. Saat musim hujan, jalan beralas tanah merah menjadi berbahaya. Sekolah ini berada di ketinggian, sehingga perjalanan menjadi tantangan tersendiri bagi para siswanya.

"Kalau dari rumah sekitar 30 menit, jalan kaki. Jadi saya berangkat jam 6 pagi, sampai sekolah itu jam 6.30 WIB," kata Gibran, Selasa, 12 Mei 2026. Gibran, siswa kelas 3, biasanya pulang lebih awal dibandingkan kakak kelasnya. Meskipun waktunya singkat, semangat menuntut ilmu tetap tinggi.

Gibran pernah terpaksa bolos sekolah. "Pernah, kalau hujan enggak reda jadinya enggak masuk sekolah. Sama gurunya juga enggak apa-apa. Kalau hujan jalannya licin," ujarnya. Hujan deras sejak malam hingga pagi, jalan licin, longsor kecil, membuat orang tua tidak memberi izin.

Azzahra Salsabila, 12 tahun, siswa kelas 6, mengalami kondisi serupa. Pagi hari, ia dan teman-temannya menapaki jalan setapak menuju sekolah yang hanya beberapa ratus meter menuju puncak gunung. Untuk tidak terlambat, ia berangkat sejak pagi. "Sudah biasa, tiap hari jalan ke sekolah. Sekitar 30 menit jalan kaki, soalnya enggak bisa naik motor. Bareng sama teman-teman jalan kaki ke sekolahnya," kata Azzahra.

Perjalanan yang tidak biasa ini memunculkan kebijakan khusus. Guru-guru mempertimbangkan kondisi anak-anak ketika tidak memungkinkan masuk sekolah. "Dari Kampung Gabus Hilir misalnya, itu akses jalannya cuma satu. Pernah karena tertutup longsor, ortu gotong royong membersihkan dan memperbaiki akses. Malanya kita pihak sekolah, enggak selalu memaksakan anak harus masuk apalagi kalau cuaca ekstrem," komentar Eli Sri Wahyuni, salah satu guru SDN Giriasih.

SDN Giriasih didirikan pada tahun 1980-an dan menjadi satu-satunya SD negeri bagi warga beberapa kampung di atas gunung. Meskipun perjuangan ekstra diperlukan, semangat guru dan siswa tidak diragukan.

Eli Sri Wahyuni, yang juga alumni sekolah, menegaskan harapannya. "Kebetulan saya alumni SD ini juga, sekarang mengabdi di sini. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah buat kami di sini," ujarnya.

Di ketinggian gunung Batulayang, pagi sering kali berselip, terutama saat hujan. Namun para siswa tetap melangkah. Orang tua sering membantu membersihkan jalan setelah longsor. Terkadang mereka bekerja bersama untuk memastikan akses tetap terbuka. Guru-guru di sini menyesuaikan jadwal dan kebijakan agar siswa tidak dipaksa masuk ketika kondisi tidak aman.

Semangat belajar tetap terjaga. Meskipun akses sulit dan cuaca ekstrem, mereka tetap melanjutkan pendidikan. Kerja sama antara orang tua, guru, dan masyarakat membantu menjaga keberlangsungan sekolah di daerah terpencil. Sekolah di ketinggian ini menunjukkan keteguhan dan komitmen para siswa dan guru. Meskipun tantangan besar, mereka terus berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

SDN Giriasihjalan licinlongsorakses sekolahketinggian gunungcuaca ekstremkebijakan khusus

Komentar

Memuat komentar...