Skor Matematika & Membaca Siswa AS Turun 1 Dekade Besar
Gambar atau konten salah?
Kemampuan matematika dan membaca siswa di Amerika Serikat terus menurun lebih dari satu dekade terakhir. Laporan terbaru menunjukkan skor membaca turun sekitar 0,6 tingkat kelas dan skor matematika turun 0,4 tingkat kelas dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Menurut data, kemampuan membaca siswa kini tertinggal sekitar 60% satu tahun ajaran penuh dibandingkan dekade lalu, sedangkan matematika tertinggal sekitar 40%. “Skor tes lebih rendah daripada satu dekade lalu di distrik sekolah di seluruh AS,” tulis laporan tersebut.
Peneliti dari Stanford University menegaskan bahwa kemerosotan prestasi akademik sudah mulai jauh sebelum pandemi COVID‑19. Tren penurunan terlihat sejak 1 Januari 2013, mengakhiri dua dekade peningkatan kemampuan siswa di AS.
“Pandemi adalah longsoran lumpur yang menyusul tujuh tahun erosi prestasi siswa,” kata Profesor Tom Kane dari Harvard University yang ikut menulis laporan tersebut.
Para peneliti menyebut periode tersebut sebagai learning recession atau resesi belajar, yakni kondisi ketika kemampuan akademik siswa terus menurun secara konsisten dalam jangka panjang.
Salah satu hal yang paling disorot dalam penelitian ini adalah ledakan penggunaan media sosial di kalangan remaja yang terjadi bersamaan dengan penurunan skor akademik. Kane menilai korelasi waktunya terlalu mencolok untuk diabaikan. Ia mengatakan penggunaan media sosial yang semakin intens terjadi hampir bersamaan dengan merosotnya kemampuan membaca siswa.
“Media sosial berada di inti penurunan prestasi membaca,” ujar Kane.
Data asesmen nasional AS menunjukkan skor membaca siswa kelas 8 kini berada di titik terendah sejak 1 Januari 1990. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan pendidikan.
Selain media sosial, peneliti juga menyinggung perubahan sistem pendidikan di AS yang mulai mengurangi pendekatan evaluasi berbasis tes standar. Kebijakan era No Child Left Behind yang sebelumnya menekankan akuntabilitas sekolah lewat tes perlahan dibongkar dalam dekade terakhir. Sebagian peneliti menduga perubahan tersebut ikut melemahkan fokus sekolah terhadap capaian akademik dasar seperti membaca dan matematika.
Masalah lain yang memperburuk kondisi pendidikan AS adalah tingginya angka absensi siswa. Pada tahun ajaran 1 Januari 2024 hingga 1 Januari 2025, sekitar 23% siswa dikategorikan mengalami absensi kronik. Angka ini memang turun dibanding masa pandemi, tetapi masih jauh lebih tinggi daripada kondisi pra-pandemi yang berada di kisaran 15%.
Absensi kronik biasanya merujuk pada siswa yang terlalu sering tidak masuk sekolah sehingga memengaruhi proses belajar mereka secara signifikan. Namun di tengah situasi yang suram, beberapa negara bagian dan distrik sekolah mulai menunjukkan tanda perbaikan.
Beberapa sekolah mulai menerapkan metode pengajaran berbasis fonik atau phonics‑based instruction untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Metode ini menekankan hubungan antara huruf dan bunyi dalam proses belajar membaca. Selain itu, sekolah juga mulai memberikan dukungan tambahan bagi siswa dengan kemampuan membaca rendah.
Untuk matematika, hampir seluruh negara bagian dalam analisis Stanford mencatat peningkatan skor sejak 1 Januari 2022 hingga 1 Januari 2025, meski belum cukup untuk mengembalikan capaian ke level sebelum penurunan besar terjadi.
Fenomena ini juga menjadi peringatan penting bagi banyak negara lain, termasuk Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam literasi, numerasi, dan penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Penetrasi media sosial yang semakin tinggi pada anak dan remaja dinilai perlu diimbangi dengan penguatan fondasi pendidikan dasar serta pengawasan penggunaan teknologi digital.
Peneliti berharap data Stanford ini dapat mendorong evaluasi ulang terhadap kebijakan pendidikan, regulasi media sosial untuk anak-anak, hingga strategi pemulihan pembelajaran pasca-pandemi.
Perubahan dalam skor membaca dan matematika di AS menandai tren jangka panjang yang dipengaruhi oleh faktor sosial media, kebijakan pendidikan, dan tingkat absensi. Intervensi seperti pengajaran fonik dan dukungan khusus dapat membantu, namun perlu tinjauan kebijakan yang lebih luas untuk memulihkan kemampuan akademik siswa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Indosat Lepas 86.000 Km Jaringan Fiber ke Perusahaan Baru
3 dari 5 Anak Palsukan Usia demi Media Sosial
Xiaomi 17T Pro Review: Baterai 7.000 mAh, Isi 45 Menit
Registrasi SIM Baru Wajib Face Recognition Mulai Juli 2026
Trump Ucapkan Terima Kasih FIFA Cabut Kartu Merah Balogun
Komdigi Targetkan Internet 100 Mbps dalam Dua Tahun
Berita Terbaru
Anggara Kasih Medangsia: Hari Baik Bangun Bendungan
Jadwal Sholat Surabaya 7 Juli 2026 Lengkap
Banding Balogun Ditolak, Belgia Kena Pukulan Telak
Jadwal Sholat Cirebon 7 Juli 2026: Subuh 04:38, Isya 19:00
Jadwal Salat Denpasar 7 Juli 2026: Subuh 05:14 Wita
Duel Iberia: Portugal vs Spanyol di 16 Besar Piala Dunia 2026
Cedera, Henderson Absen dari Sisa Piala Dunia 2026
Jadwal Sholat Bandung 7 Juli 2026
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jatim: Kabut dan Cerah Mendominasi
