Sokerto Wongso Dikromo: Pendiri Desa Jungsemi di Kendal
Gambar atau konten salah?
Desa Jungsemi terletak di wilayah Kendal, Jawa Tengah, dan menjadi saksi bisu pergerakan Mataram Islam yang melawan kolonialisme pada abad ke-17. Awal munculnya desa ini diyakini berkat keberadaan seorang prajurit setia Sultan Agung.
Pria yang dikenal dengan nama Sokerto Wongso Dikromo atau lebih akrab dipanggil Mbah Laistiddin menjadi tokoh utama. Pada masa perang melawan VOC, ia kalah dan melarikan diri ke pinggiran Kendal. Di sana, ia bersembunyi di hutan belantara yang dekat dengan laut.
"Sokerto atau Mbah Laistiddin ini kan dulunya prajurit Mataram yang setia, karena saat perang kalah, maka beliau lari ke pinggiran Kendal untuk bersembunyi. Dia saat itu sembunyi di hutan belantaran yang dekat dengan laut," kata Juru Kunci Makam Kemangi, Kyai Kasturi di rumahnya, Rabu (25 Maret 2026).
Menurut Kasturi, setelah bersembunyi, Sokerto mendapat wangsit untuk pergi ke Demak. Di sana, ia mendalami ajaran Islam dari sejumlah wali. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke hutan di Kendal.
"Di hutan itu dia (Sokerto) dapat wangsit dari Allah yang menyuruhnya untuk pergi ke Demak untuk belajar ke Islaman. Dia akhirnya pergi ke Demak dan beberapa tahun kemudian kembali ke Kendal dan ingin mendirikan sebuah desa," ujarnya.
Di hutan itu, Sokerto perlahan membangun sebuah desa. Ia menamai desa tersebut Jungsemi, yang berarti "desa yang berada di ujung pantai" dan menandakan wilayah yang akan terus berkembang.
"Di hutan itulah Sokerto perlahan kemudian membangun sebuah desa yang diberi nama Jungsemi. Nama tersebut dipilih karena memiliki arti terletak di ujung pantai dan akan terus berkembang," jelas Kasturi.
"Beliau ini akhirnya berhasil mendirikan sebuah desa yang diberi nama Jungsemi. Jungsemi memiliki arti desa yang letaknya paling ujung pantai dan wilayahnya akan terus berkembang," jelas Kasturi.
Seiring dengan kesetiaan Sokerto kepada Sultan Agung dan upaya Mataram Islam melawan VOC, ia mengusulkan agar desa Jungsemi menjadi tempat pertemuan strategi perang. Dengan letaknya yang strategis di dekat laut, desa ini menjadi pangkalan penting bagi pasukan Sultan Agung.
Desa Jungsemi kini dikenang sebagai tempat lahirnya strategi perang melawan kolonialisme. Keberadaan Sokerto Wongso Dikromo dan dedikasinya menegaskan peran penting desa ini dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Pasangan Adnan-Indah Kalah 18‑21, China Laju ke 16 Besar
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Malaysia Pemenang Piala Dunia 2026, Indonesia Hanya Putros
