Sungkeman: Tradisi Mengikat Generasi Di Indonesia Lebaran

Vera T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 39 dibaca
Bisik.id
Sungkeman: Tradisi Mengikat Generasi Di Indonesia Lebaran

Gambar atau konten salah?

Di hari raya Idul Fitri, kebanyakan orang mengingat ketupat dan pakaian baru. Namun, bagi banyak keluarga, momen yang paling berkesan adalah sungkeman. Tradisi ini menekankan hubungan antar generasi melalui gerakan bersimpuh di hadapan orang tua.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sungkem berarti sujud atau tanda bakti dan hormat. Dalam budaya Jawa, sungkeman adalah prosesi di mana anak atau orang yang lebih muda bersimpuh, lalu mencium tangan orang tua sebagai permohonan maaf dan penghormatan.

Makna mendalam sungkeman:

  • Simbol kerendahan hati: menurunkan posisi fisik menegaskan kebutuhan akan bimbingan dan doa.
  • Berbakti kepada orang tua: kewajiban utama setelah menyembah Allah, sesuai Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 23.
  • Permintaan maaf: dalam bahasa Jawa disebut nyuwun ngapura, memohon pengampunan yang diambil dari nilai Islam.
  • Pendidikan karakter: mengajarkan tata krama, kesantunan, dan rasa terima kasih atas pengorbanan orang tua.

Sejarah sungkeman mencerminkan akulturasi antara adat Jawa dan ajaran Islam. Dr. Umar Khayam berpendapat bahwa tradisi ini bermula pada masa pemerintahan Mangkunegara I, Pangeran Sambernyawa, antara 1757‑1795. Pada masa itu, para pejabat dan prajurit rutin bersungkem kepada raja dan putrinya pada Idul Fitri, menandakan kesetiaan dan saling memaafkan. Praktik tersebut kemudian menyebar ke organisasi Islam dan masyarakat luas.

Dari perspektif fikih, sungkeman dianggap mubah asalkan memenuhi kriteria berikut:

  • Hanya sebagai penghormatan dan permohonan maaf, bukan ibadah.
  • Tak termasuk rukun agama wajib.
  • Tidak menganggap orang tua memiliki kekuatan gaib.
  • Berbeda dengan sujud ibadah kepada Allah.

Hadis riwayat Tirmidzi menyatakan bahwa sujud hanya untuk Allah. Oleh karena itu, sungkeman harus mengedepankan akhlak tanpa melanggar tauhid. Dengan demikian, tradisi ini tetap berada dalam ruang yang diizinkan.

Selain nilai spiritual, sungkeman juga memberikan manfaat psikologis dan sosial. Mengakui kesalahan secara langsung melegakan batin, mengurangi jarak emosional yang mungkin timbul selama setahun. Suasana haru sering diiringi doa dan nasihat, memberi kekuatan bagi anak untuk melangkah ke depan. Tradisi ini menjadi perekat yang menjaga struktur sosial tetap harmonis.

Singkatnya, sungkeman adalah warisan budaya yang mengajarkan bahwa, terlepas dari pencapaian apa pun, setiap orang tetap seorang anak di hadapan orang tua. Idul Fitri menjadi momen emas untuk bersimpuh, memohon maaf, dan menerima berkah. Tradisi ini diharapkan tetap lestari dan membawa kedamaian bagi setiap rumah muslim di Indonesia.

SungkemanIdul FitriTradisi JawaPenghormatan orang tuaAkulturasi budayaPsikologi keluargaIslam

Komentar

Memuat komentar...