Surabaya Angkat 1 Ton Sampah Plastik Harian di Kali Tebu

Bambang W. · 3 min baca · 41 menit lalu · 20 dibaca
Bisik.id
Surabaya Angkat 1 Ton Sampah Plastik Harian di Kali Tebu

Gambar atau konten salah?

Di balik pesona kota Surabaya, sungai Kali Tebu menjadi tempat menumpuk sampah plastik, kaleng, dan barang rumah tangga. Pencemaran ini tidak hanya menjadi beban pemerintah kota, tetapi juga menjadi perhatian kementerian pusat.

Petugas kebersihan di sungai melakukan serangkaian langkah. Pertama, sampah diangkat dari aliran sungai ke daratan, dimasukkan ke dalam karung, dan dibiarkan setengah kering. Setelah itu, sampah ditimbang, lalu dibawa ke bak mobil untuk diproses lebih lanjut.

Program pengelolaan sampah plastik di sungai ini digagas oleh United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Plastik Laut (TKN PSL), Pemerintah Kota Surabaya, LSM Ecoton, dan Lohjinawi. Surabaya dipilih sebagai proyek percontohan yang juga berkolaborasi dengan pemerintah Norwegia, bertujuan menekan pencemaran plastik sebelum mencapai laut.

“Kami memasang satu pencegat sampah di sungai supaya tidak masuk ke laut. Setelah dipasang pencegat ini, kami setiap hari melakukan pengangkatan sampah dan setelah sampah yang diangkat kami keringkan dulu kemudian ditimbang dihitung berapa berat total yang bisa diangkat pada hari ini,” kata Daru Setyorini, ketua Ecoton, di Sungai Kali Tebu, Jumat (5/6/2026).

Setelah sampah dikeringkan, truk pengangkut membawa sampah ke TPS 3R untuk pemilahan. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih bernilai dijual. Sisa residu dibawa oleh truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ke TPA Benowo.

Plt. Kepala DLH Surabaya, M. Fikser, menegaskan bahwa program ini sudah berjalan di Kali Tebu dan Kali Merutu. “Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat dalam program ini,” kata Fikser di Kantor Bappeda Surabaya.

Menurut Fikser, masyarakat sekitar merasakan dampak langsung karena turut membantu mengelola sampah. Sampah yang dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali. Saat ini, Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton per hari sampah. Dari jumlah tersebut, 200 ton dimanfaatkan kembali melalui fasilitas TPS 3R dan aktivitas pemulung. Sisanya, 1.600 ton, dikirim ke tempat pemrosesan akhir, di mana 1.000 ton diolah melalui fasilitas gasifikasi menjadi energi listrik, dan 600 ton masih berakhir di area landfill.

Untuk mempercepat pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, pemerintah pusat menunjuk Surabaya sebagai salah satu lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan di kawasan Sumberrejo dan saat ini sedang menjalani proses survei. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini dan diharapkan mampu mengolah sisa sampah yang masih masuk ke landfill, termasuk sampah dari wilayah Surabaya Raya seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan.

Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat. Melalui kerja sama UNDP dan TKN PSL, program ini dirancang untuk membantu pemerintah mengurangi pencemaran sampah di sungai, baik sampah plastik maupun sampah organik.

“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” pungkas Ahmad Bahri.

Dengan upaya kolaboratif ini, Surabaya berusaha mengurangi dampak negatif sampah plastik di sungai dan laut. Program ini menandai langkah konkret menuju pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, memanfaatkan teknologi pengolahan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Surabayasungai Kali Tebusampah plastikpengelolaan sampahUNDPTPS 3Rgasifikasienergi listrik

Komentar

Memuat komentar...