Teh Hijau & Air Jeruk: Bantu Metabolisme Lemak Lebaran
Gambar atau konten salah?
Lebaran di Indonesia dikenal dengan hidangan berbasis santan dan lemak. Opor ayam, rendang, sambal goreng ati, serta gorengan menjadi menu yang hampir tidak pernah hilang. Setiap orang bisa menyantap makanan berlemak berulang kali dalam satu hari.
Setelah menikmati hidangan berat, banyak yang memilih minum teh hijau atau air jeruk. Mereka percaya minuman tersebut dapat “menetralkan” lemak yang baru saja dikonsumsi. Apakah kebiasaan ini hanya tradisi turun‑turun atau ada penjelasan ilmiah?
Teh hijau sering menjadi pilihan penutup setelah makan berat. Di beberapa daerah, teh hijau disajikan hangat dan sering diberi gula. Kandungan polifenol, khususnya katekin seperti epigallocatechin gallate (EGCG), sudah banyak diteliti terkait metabolisme lemak.
- Penelitian 2020 (Nutrition Journal) menunjukkan katekin dapat menekan peningkatan trigliserida setelah konsumsi makanan tinggi lemak.
- Katekin diyakini menghambat enzim lipase pankreas, sehingga penyerapan lemak menjadi lebih lambat.
- Akibatnya, lemak yang masuk ke aliran darah berkurang dibandingkan tanpa katekin.
Hal ini tidak berarti teh hijau menghilangkan lemak secara langsung. Jika ditambah gula, manfaatnya dapat berkurang karena tubuh tetap menerima tambahan kalori.
Air jeruk juga sering dipilih karena rasa segarnya. Jeruk mengandung vitamin C, flavonoid seperti hesperidin, dan limonoid, termasuk limonin glukosida.
- Penelitian 2015 (Journal of Functional Foods) menunjukkan limonoid dapat mengatur produksi kolesterol di hati dan meningkatkan pembuangannya melalui empedu, sehingga menurunkan kolesterol LDL.
- Penelitian 2021 (Advances in Nutrition) menemukan air jeruk 100% tanpa gula dapat mengurangi stres oksidatif dan respons inflamasi setelah makan berlemak.
Kedua minuman ini memang mengandung senyawa yang memengaruhi metabolisme lemak dan kolesterol. Namun, mereka tidak berfungsi sebagai “penetral” yang langsung menghilangkan lemak dari makanan.
Secara umum, minum teh hijau atau air jeruk setelah hidangan Lebaran dapat dipertimbangkan sebagai bagian kebiasaan. Faktor paling berpengaruh tetap pola makan keseluruhan: porsi, frekuensi makanan berlemak, keseimbangan asupan sayur dan buah, serta aktivitas fisik.
Ringkasnya, tradisi minum teh hijau atau air jeruk setelah makan berlemak memiliki dasar ilmiah, tetapi manfaatnya terbatas. Kesehatan lebih dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
Goo Hye Sun Turun 13 kg: Diet Rendah Sodium Jadi Kunci
Precommitment: Cara Mudah Hindari Makanan Tidak Sehat Saat Stres
Berita Terbaru
Nengah Artini 58 Tahun Tewas, Polri Menilai Penyebab Alami
Kota Batu: Musim Kemarau 2026 Tingkatkan Hasil Apel
Piala Dunia 2026: Penundaan Panjang akibat Badai Petir di AS
BKK Palembang Tegakkan Skrining Kesehatan Jemaah Haji
Raffi Ahmad: Deepfake Merusak Reputasi, Panggil Waspada
IHSG Turun 1,70%, Rupiah Jatuh Rp18.049, Tegaskan Kuat
40 Titik Panas Terpantau di Muratara, Risiko Karhutla Tinggi
