Temuan Batu Chattra dan Gigi Emas di Desa Kunden, Klaten

Dedi S. · 3 min baca · 24 hari lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Temuan Batu Chattra dan Gigi Emas di Desa Kunden, Klaten

Gambar atau konten salah?

Di Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Klaten, ditemukan sebuah batu yang diduga merupakan chattra, komponen candi Buddha. Batu tersebut kini menjadi hiasan pekarangan warga.

Hadi Susanto (66) mengatakan pada 8 Mei 2026 siang: “Terus ada juga yang nemu gigi emas di situ. Terus dibawa pulang sopirnya mobil,”

Hadi mengingat kembali tahun 1989, ketika lahan sawah di barat desanya digali untuk mengambil tanah liat guna bahan genteng. Di kedalaman sekitar lima meter, mereka menemukan chattra, batu bata merah ukuran besar, dan semacam kuburan.

Menurut Hadi, chattra itu ada beberapa, batu besar, batu bata besar bakaran juga banyak tapi pada dibeli orang. Terus ada semacam kuburan, ada abunya,” Hadi menjelaskan. “Yang kuburan itu panjangnya sekitar dua meter, ada abunya terus ada yang nemu gigi emas di situ,” tambahnya.

Selain itu, ditemukan batu kotak, batu bata merah, dan bata bakaran. Hadi menyebutkan batu bata besar berwarna merah, bata bakaran, dan batu kotak yang menyerupai fondasi.

Hadi juga mengatakan bahwa beberapa batu dibawa pulang oleh pencari tanah liat atau dijual untuk fondasi rumah. Namun masih ada beberapa batu yang tersisa.

Dia menambahkan: “Masih ada sisa batu, itu ke utara di dekat kandang ayam ada dua, di sini ada dua saya gunakan untuk keren (tungku). Dulu ke utara batu ke selatan batu berjajar,”

Lokasi penemuan kini menjadi tegalan yang ditanami pohon karena pemiliknya sudah meninggal. Warga masih segan setelah ditemukan gigi emas. “Masih pada takut. Yang nemu gigi emas itu katanya meninggal, ada yang bilang dijual ke Delanggu,” ujar Hadi.

Kadus I Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Sugeng, mengatakan yang ditemukan paling banyak batu kotak. Batu kotak itu menyerupai fondasi. “Ya batu kotak-kotak yang paling banyak kaya fondasi. Dulu ditaruh dan diambil warga untuk pondasi, arca tidak ada,” katanya.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, berpendapat temuan tersebut memang kuburan. Ia menjelaskan bahwa di candi Buddha zaman dulu tidak ada peripih, tapi ada tempat abu jenazah. “Betul itu bukan peripih, kalau candi Buddha itu tempat abu jenazah tokoh yang didharmakan di sana. Untuk gigi emas itu saya setuju kalau itu mata uang pilontico (mata uang atau perhiasan),” jelas Hari.

Hari menambahkan bahwa adanya bata merah besar menunjukkan bagian lantai candi sudah terbongkar. “Adanya bata merah besar menunjukkan bagian lantai candi sudah terbongkar, kemungkinan struktur bata merah itu tempat menyimpan abu jenazah tokoh tersebut,” ia katakan.

Analisis tersebut didukung oleh Wiyan Ari Tanjung, analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten. Ia mengonfirmasi ada temuan cagar budaya di Desa Kunden dan sudah pernah mendata temuan tersebut.

Wiyan menyatakan bahwa dinas pernah melakukan pendataan di Kunden, namun ia lupa objek apa saja selain sebaran bata merah. “Untuk situsnya sudah terdata,” jelasnya.

Satunya ditanya lebih jauh tentang apakah batu chattra sudah masuk dalam pendataan, Wiyan mengaku akan mengeceknya terlebih dahulu. “Nanti saya cek datanya, kalau belum akan kita tinjau lagi,” jawabnya.

Kejadian ini menambah daftar temuan arkeologi di Klaten. Temuan batu chattra, batu kotak, dan gigi emas menunjukkan kemungkinan adanya situs candi Buddha yang belum terungkap. Warga dan peneliti kini menunggu verifikasi resmi dari dinas kebudayaan.

Kisah ini mengingatkan bahwa lapisan tanah di Klaten masih menyimpan rahasia sejarah. Penemuan batu dan artefak ini menandai perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami warisan budaya daerah.

chattragigi emasbatu kotakcandi BuddhaDesa KundenKlatenarkeologicagar budaya

Komentar

Memuat komentar...