Tongseng Battembat Resmi Jadi Warisan Budaya Jawa Barat

Tika M. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tongseng Battembat Resmi Jadi Warisan Budaya Jawa Barat

Gambar atau konten salah?

Tongseng Battembat kini masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat untuk tahun 2026. Bagi warga Cirebon, khususnya di kawasan Battembat dan Plered, hidangan ini bukan sekadar makanan pengganjal perut. Sebuah semangkuk tongseng hangat menyimpan jejak sejarah yang menarik.

Hidangan ini berasal dari Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Sejak lama, daerah ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan penyembelihan sapi di wilayah Cirebon. Dari denyut ekonomi tersebut lahir kuliner yang kini resmi masuk dalam daftar warisan budaya Jawa Barat.

Chaidir S. Susilaningrat, tokoh budaya Cirebon, menilai keberadaan Tongseng Battembat memang memiliki akar sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Ia berkata, “Tongseng Battembat itu memang kuliner khas yang sudah lama dikenal masyarakat, terutama di daerah Battembat yang dulu masuk wilayah Cirebon Barat. Daerah itu sejak dulu menjadi pusat penyembelihan sapi, banyak jagal sapi di sana.”

Chaidir menambahkan, “Dari situlah muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah bagian-bagian sisa daging sapi menjadi masakan tongseng.” Menurutnya, keberadaan tongseng di Battembat lahir dari kecerdikan masyarakat dalam memanfaatkan bagian-bagian daging yang tidak masuk kategori utama untuk dijual. “Jika bagian tertentu digunakan untuk bistik atau olahan premium lainnya, bagian yang tersisa kemudian diolah dengan racikan rempah menjadi hidangan yang lezat dan bernilai ekonomi.”

Tradisi kuliner semacam itu bukan sesuatu yang asing dalam sejarah gastronomi Nusantara. Banyak makanan legendaris lahir justru dari kemampuan masyarakat mengolah bahan sederhana menjadi sajian yang digemari lintas generasi.

Meski secara nasional tongseng lebih identik dengan Jawa Tengah, khususnya Boyolali dan Solo, Chaidir menilai kemunculan Tongseng Battembat merupakan bagian dari perjalanan budaya yang berbeda. Ia berkata, “Kalau bicara sejarah gastronomi Indonesia, memang tongseng lebih dikenal sebagai makanan khas Jawa Tengah. Tapi faktanya Cirebon juga memiliki Tongseng Battembat yang sudah lama berkembang. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon juga memiliki tradisi kuliner tongseng yang khas.”

Chaidir melihat keberadaan Tongseng Battembat sebagai hasil akulturasi budaya yang selama berabad-abad membentuk identitas Cirebon sebagai kota pelabuhan. Menurutnya, tongseng memiliki keterkaitan dengan pengaruh budaya Arab yang datang melalui jalur perdagangan di pesisir utara Jawa. Kebiasaan mengonsumsi daging, terutama kambing, diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang singgah di Nusantara. Tradisi tersebut kemudian berpadu dengan kekayaan rempah-rempah lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Konon tongseng merupakan hasil akulturasi budaya Arab. “Orang Arab memiliki tradisi mengonsumsi daging kambing, kemudian kebiasaan itu berkembang di masyarakat lokal. Yang membedakan adalah penggunaan rempah-rempah Nusantara yang sangat kaya. Jadi bahan dan tradisinya mendapat pengaruh luar, tetapi cita rasanya dibentuk oleh kekayaan bumbu lokal,” tutur Chaidir.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, keberadaan Tongseng Battembat diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18 hingga abad ke-19, saat Cirebon memasuki fase kebangkitan ekonomi pada masa kolonial Belanda. Setelah mengalami masa kejayaan pada era Sunan Gunung Jati abad ke-16, perkembangan ekonomi Cirebon sempat mengalami pasang surut. Situasi mulai berubah ketika pemerintah kolonial Belanda menetapkan Cirebon sebagai salah satu kota penting di pesisir utara Jawa.

Di masa itu, berbagai aktivitas perdagangan tumbuh pesat. Infrastruktur dibangun, kawasan kota berkembang, dan masyarakat mulai menciptakan berbagai produk kuliner baru yang lahir dari dinamika ekonomi tersebut. “Perkembangannya diperkirakan terjadi pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Saat itu ekonomi Cirebon mengalami kemajuan cukup signifikan sebagai kota kolonial. Pada masa-masa itu muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah sisa-sisa daging menjadi makanan yang bisa dinikmati masyarakat luas. Empal gentong dan tongseng termasuk di antaranya,” kata Chaidir.

Karena itulah, menurut Chaidir, keberadaan Tongseng Battembat tidak bisa dipisahkan dari sejarah kawasan Battembat dan Plered yang sejak lama dikenal sebagai sentra penyembelihan sapi. “Iya, memang berawal dari kawasan jagal sapi. Tongseng tidak berdiri sendiri. Ada empal gentong, empal asem, dan berbagai kuliner lain yang juga lahir dari tradisi pengolahan daging di kawasan itu. Dulu orang bahkan lebih mengenalnya sebagai kawasan Plered,” ujarnya.

Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan dengan mudah. Di sepanjang kawasan Tengah Tani dan sekitarnya, deretan warung empal gentong dan olahan daging masih menjadi pemandangan yang akrab bagi para pelintas.

Penetapan Tongseng Battembat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat dinilai bukan sekadar penghargaan terhadap sebuah makanan. Lebih dari itu, pengakuan tersebut menjadi upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat atas sejarah panjang yang melahirkan kuliner khas pesisir Cirebon. Chaidir berharap penetapan tersebut tidak berhenti sebatas seremoni administratif, melainkan diikuti langkah nyata untuk melestarikan dan memperkenalkan kuliner warisan tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

“Penetapan warisan budaya ini bukan hal yang main-main. Pemerintah harus serius melestarikan dan mengembangkan warisan budaya ini supaya tetap hidup dan dikenal masyarakat. Apalagi Cirebon sekarang menjadi salah satu destinasi wisata. Kuliner seperti Tongseng Battembat harus menjadi bagian dari identitas yang diperkenalkan kepada wisatawan,” pungkasnya.

Dengan pengakuan ini, Tongseng Battembat diharapkan dapat terus dikenang dan dinikmati, sekaligus menjadi bagian dari identitas Cirebon yang kaya akan sejarah dan budaya kuliner.

Tongseng BattembatWarisan Budaya Tak BendaCirebonPleredkuliner khaspengaruh Arabempal gentong

Komentar

Memuat komentar...