Trump Campuri Kartu Merah, Blatter Kritik FIFA

Nita W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Trump Campuri Kartu Merah, Blatter Kritik FIFA

Gambar atau konten salah?

Ketegangan antara politik dan sepakbola kembali memanas. Publik sepakbola global dibuat geram dengan keputusan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Bahkan mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, ikut angkat bicara.

Piala Dunia 2026 sepertinya tidak bisa lepas dari pengaruh politik. Setelah sebelumnya membatasi aktivitas Timnas Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggunakan pengaruhnya. Trump mengaku telah menelepon Infantino untuk meninjau ulang kartu merah yang diterima Folarin Balogun.

Menurut Trump, wasit yang memberikan kartu merah kepada Balogun dalam pertandingan melawan Bosnia & Herzegovina—yang dimenangkan Amerika Serikat—telah melakukan kesalahan. FIFA pun mengabulkan saran Trump. Hukuman satu pertandingan yang seharusnya dijalani Balogun ditangguhkan. Pemain itu akhirnya bisa membela Amerika Serikat di babak 16 besar melawan Belgia.

Blatter, melalui akun pribadinya di X, mempertanyakan sikap FIFA. Ia menilai apa yang dilakukan FIFA sudah keluar jalur karena terpengaruh politik.

"Kartu merah tidak dibatalkan oleh panggilan telepon politik. Kartu merah dibatalkan oleh aturan, bukti, dan badan independen," tulis Blatter.

"Jika seorang Presiden AS ikut campur tangan dengan Presiden FIFA—dan seorang pemain tiba-tiba dinyatakan bersih sebelum pertandingan babak gugur Piala Dunia—pertanyaan yang tak terhindarkan adalah: Quo vadis (ke mana Anda akan pergi), FIFA? Sepakbola tidak boleh pernah menjadi arena permainan untuk perebutan kekuasaan politik."

Masa jabatan Blatter sebagai presiden FIFA berakhir pada 2015. Saat itu ia dilarang terlibat dalam sepakbola selama delapan tahun, yang kemudian dikurangi menjadi enam tahun setelah banding. Larangan itu terkait pembayaran yang dilakukan kepada Michel Platini.

Kedua pria itu dinyatakan tidak bersalah di pengadilan Swiss terkait pembayaran tersebut. Mereka selalu menegaskan bahwa uang itu adalah pembayaran tunggakan atas pekerjaan Platini sebagai penasihat Blatter.

Namun, pada tahun 2021, komite etik FIFA kembali menjatuhkan hukuman skorsing enam tahun kepada Blatter terkait pelanggaran kode etik lainnya.

Kasus ini menunjukkan bagaimana garis antara politik dan olahraga semakin kabur. Campur tangan pemimpin negara dalam keputusan teknis sepakbola memicu pertanyaan besar tentang independensi FIFA. Blatter, meski memiliki masa lalu kontroversial, menyuarakan kekhawatiran yang sama dengan banyak penggemar: sepakbola seharusnya tidak menjadi alat permainan kekuasaan politik.

FIFApolitiksepakbolakartu merahTrumpBlatterPiala Dunia

Komentar

Memuat komentar...