Trump Perpanjang Gencatan Senjata Iran, Hormuz Terbuka

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Trump Perpanjang Gencatan Senjata Iran, Hormuz Terbuka

Gambar atau konten salah?

Donald Trump memutuskan usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Sabtu, 30 Mei 2026. Ia sekaligus menegaskan keinginannya agar Selat Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas publik. Keputusan ini datang di tengah perbedaan pendapat yang masih ada antara kedua negara mengenai isu‑isu inti konflik di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut pengumuman mendatang akan menjadi "keputusan akhir" tentang proposal damai tersebut. Ia menegaskan bahwa meski masih ada perbedaan, ia bersiap menutup perdebatan ini.

Klausul yang diusulkan mencakup perpanjangan jangka waktu gencatan senjata pada bulan April selama 60 hari lagi. Selain itu, klausul tersebut memberi waktu bagi negosiator untuk mencapai kesepakatan permanen yang mengakhiri perang. Dengan demikian, kedua belah pihak diharapkan dapat menyelesaikan perselisihan secara damai.

Secara terpisah, Gedung Putih menyatakan telah mengadakan rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Trump. Namun, pihak Gedung Putih enggan mengungkapkan detail rapat tersebut, termasuk apakah rapat tersebut membahas keputusan final gencatan senjata antara Iran dan AS.

Seorang pejabat di Gedung Putih berkata: "Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan memenuhi garis merahnya. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ia menegaskan. Pernyataan ini menegaskan posisi AS bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, seorang pejabat Iran mengaku kepada Reuters bahwa kesepakatan kedua negara sudah mencapai titik puncak pembahasan namun belum berhasil mencapai kesepakatan. Ia menegaskan bahwa Iran masih menolak beberapa syarat yang diajukan oleh AS.

Trump menuntut dua hal utama: penghentian pengembangan nuklir Iran dan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol. Ia menegaskan bahwa kedua syarat tersebut harus dipenuhi agar proses perdamaian dapat berjalan lancar. Trump menolak kompromi yang dianggap tidak memadai.

Dalam kesempatan lain, Trump mengulang: "Iran harus setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki Senjata Nuklir atau Bom. Selat Hormuz harus segera dibuka, tanpa biaya tol, untuk lalu lintas pengiriman tanpa batasan, di kedua arah," ia menyatakan. Pernyataan ini menegaskan tuntutan keras Trump terhadap Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa AS tidak dapat ikut campur soal urusan Selat Hormuz. Menurutnya, teritorial laut tersebut hanya dapat dibahas dan dikendalikan oleh pemerintahan Iran dan Oman. Baghaei menolak intervensi AS dalam masalah tersebut.

Selain isu nuklir, ancaman terbesar bagi Trump adalah akses ke Selat Hormuz. Ia berada di bawah tekanan untuk membuka jalur perairan strategis tersebut dan menurunkan harga bensin di AS. Harga BBM yang tinggi menambah ketegangan di antara pemilih yang semakin frustrasi.

Masalah akses Selat Hormuz dan harga BBM ini menjadi isu utama yang harus diselesaikan Trump menjelang pemilihan kongres pada November mendatang. Ia juga menghadapi potensi reaksi keras dari kelompok garis keras Iran di partainya sendiri atas konsesi apa pun kepada Teheran.

Keputusan Trump menandai langkah penting dalam hubungan AS‑Iran, menyoroti ketegangan antara keamanan regional dan kepentingan energi global. Situasi ini tetap dinamis, dengan kedua belah pihak menunggu hasil akhir dari perundingan yang masih berlangsung.

TrumpIranGencatan SenjataSelat HormuzSenjata NuklirPerundinganAmerika SerikatOman

Komentar

Memuat komentar...