UKM Kampus Raup Rp 408 Miliar di Trade Expo Indonesia
Gambar atau konten salah?
Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah yang berasal dari lingkungan kampus dan tergabung dalam program Campuspreneur Kementerian Perdagangan menorehkan pencapaian di pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Sampai dengan hari kedua penyelenggaraan, para peserta UKM Campuspreneur berhasil membukukan potensi transaksi senilai USD 22,56 juta. Jika dikonversi menggunakan kurs Rp 18.093,85 per dolar AS, angka itu setara dengan sekitar Rp 408,19 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, mengatakan capaian itu membuktikan bahwa UKM dari perguruan tinggi mampu memanfaatkan panggung pameran dagang untuk menjangkau pembeli dari luar negeri. Partisipasi di TEI ke-41 menjadi peluang bagi para wirausaha muda untuk memperluas jaringan bisnis dan menjajaki potensi ekspor.
"Potensi transaksi di TEI ke-41 menunjukkan adanya peluang bagi produk UKM berbasis perguruan tinggi untuk menjangkau pasar internasional. Perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam melahirkan wirausaha muda yang inovatif dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Melalui Campuspreneur, kami mendorong potensi tersebut untuk berkembang menjadi usaha berorientasi ekspor," ujar Busan dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dari total potensi transaksi yang tercatat, sebesar USD 21,46 juta sudah ditindaklanjuti dalam bentuk penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan pembeli dari berbagai negara. Sementara itu, USD 1,1 juta lainnya masih dalam tahap penjajakan kontak dagang.
TEI ke-41 berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 14 hingga 18 Oktober 2026. Bagi UKM Campuspreneur, ini adalah penampilan perdana mereka di pameran dagang berskala internasional tersebut.
Peluang kerja sama terlihat nyata melalui penandatanganan LoI oleh beberapa UKM kampus. Futra Export dan Pustaka Dagang dari Binus University, Worldwise dari Telkom University, serta Inofarm dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berhasil mengamankan LoI. Di sisi lain, pembeli internasional yang ikut menandatangani LoI berasal dari Jepang, Belanda, Hong Kong, dan Taiwan.
Sementara itu, SanGreat dari Institut Pertanian Bogor dan Colorfood Indonesia dari Universitas Diponegoro masih dalam proses penjajakan kontak dagang dengan calon pembeli dari luar negeri. Produk-produk yang menarik minat para calon pembeli cukup beragam. Mulai dari kakao, kayu manis, gula aren, minyak kelapa murni, hingga produk turunan kelapa seperti arang dan karbon aktif.
UKM Campuspreneur tidak hanya menawarkan produk berbasis komoditas. Mereka juga membawa produk bernilai tambah dan jasa. Beberapa contohnya adalah pengendali hama berbahan alami dan platform edukasi digital.
"Keragaman tersebut memperlihatkan potensi inovasi usaha berbasis perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional," kata Busan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menjelaskan bahwa kementeriannya memfasilitasi 25 UKM dari 20 perguruan tinggi mitra. Para peserta UKM Campuspreneur di TEI ke-41 telah melalui proses kurasi yang ketat dari 80 UKM yang dinilai berpotensi ekspor. Peserta mencakup usaha yang dikembangkan oleh mahasiswa, alumni, dosen, maupun UKM binaan perguruan tinggi.
Capaian UKM Campuspreneur di TEI ke-41 tidak lepas dari persiapan yang dilakukan sebelum pameran. Para peserta mengikuti pelatihan teknik ekspor, pengembangan dan desain ulang produk, serta difasilitasi dalam penjajakan kerja sama bisnis atau business matching. Semua upaya ini bertujuan agar peserta siap memperkenalkan produk dan membangun komunikasi bisnis dengan calon pembeli.
"Partisipasi dalam pameran dagang internasional perlu didukung kesiapan pelaku usaha, baik dari sisi pemahaman ekspor, kualitas dan desain produk, maupun kemampuan menjalin komunikasi bisnis dengan calon buyer. Campuspreneur mempersiapkan UKM untuk memanfaatkan TEI dalam memperkenalkan produk dan membangun peluang kerja sama," ujar Puntodewi.
Puntodewi berharap potensi transaksi yang tercatat pada keikutsertaan perdana ini dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan negosiasi lanjutan dengan calon pembeli. Dengan begitu, peluang yang muncul selama pameran bisa berkembang menjadi kerja sama dagang yang berkelanjutan.
Salah satu penerima manfaat Program Campuspreneur dalam rangkaian TEI ke-41 adalah Word Wise. Perusahaan rintisan di bidang pembelajaran bahasa ini dikembangkan sejak 2023 di Telkom University. Word Wise mengembangkan metode pembelajaran speaking berbagai bahasa asing melalui gim interaktif.
CEO Word Wise, Moses, mengatakan Campuspreneur membantu perusahaannya memperluas jejaring dan membuka akses ke pasar internasional. Salah satu buktinya adalah diperolehnya LoI dengan mitra dari Belanda pada TEI ke-41.
"Dari Campuspreneur, banyak sekali yang kami dapatkan, terutama dari sisi jejaring. Salah satunya kami mendapat LOI dengan pihak Belanda. Ini menjadi salah satu langkah bagi kami untuk mulai melihat dan mengembangkan pasar di luar Indonesia," kata Moses.
Campuspreneur merupakan bagian dari program 'Dari Lokal untuk Global' yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan. Melalui program ini, pelaku usaha yang terhubung dengan perguruan tinggi didorong untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus mempersiapkan produk dan strategi untuk memasuki pasar ekspor.
TEI 2026 mengusung tema 'The Ultimate Hub for Global Sourcing'. Pameran dagang terbesar di Indonesia ini menjadi platform bisnis antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B) yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan pembeli internasional. Tujuannya untuk memperkenalkan produk unggulan dan membuka peluang kerja sama dagang lintas negara.
Program Campuspreneur yang digagas Kemendag ini pada dasarnya adalah upaya sistematis untuk menjembatani inovasi dari perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar global. Dengan memberikan pelatihan teknis dan akses ke pameran internasional seperti TEI, program ini berusaha mengubah potensi akademis menjadi transaksi bisnis nyata. Capaian awal berupa LoI dengan pembeli dari Jepang, Belanda, Hong Kong, dan Taiwan menunjukkan bahwa produk-produk dari lingkungan kampus Indonesia memiliki daya saing di mata pasar internasional. Ke depannya, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kemampuan para peserta untuk menindaklanjuti kontak yang sudah terjalin menjadi kerja sama dagang yang berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Minyak Melonjak, Ancaman Serangan AS ke Iran Meningkat
Satgas PKH Tutup Paksa Tambang Ilegal di Papua Tengah
Bahlil Ungkap 5 IUP Tambang Nilainya Rp 5.400 Triliun
RI Kurangi Pasokan Gas ke Singapura Mulai Besok
Pengusaha Dukung Penghentian Ekspor Gas ke Singapura
MAGMA Indonesia Versi Baru, Pantau Risiko Bencana dari Genggaman
Berita Terbaru
Harga Minyak Melonjak, Ancaman Serangan AS ke Iran Meningkat
Satgas PKH Tutup Paksa Tambang Ilegal di Papua Tengah
Bahlil Ungkap 5 IUP Tambang Nilainya Rp 5.400 Triliun
RI Kurangi Pasokan Gas ke Singapura Mulai Besok
Pengusaha Dukung Penghentian Ekspor Gas ke Singapura
MAGMA Indonesia Versi Baru, Pantau Risiko Bencana dari Genggaman
Indonesia Mulai Kurangi Ekspor Gas ke Singapura
Bahlil Pasang Target PNBP Rp 165 Triliun
IHSG Pagi Ini: Sempat Merah, Kembali Menguat ke 5.404
