Vietnam Minta Bantuan Jepang dan Korea Selatan Hadapi Krisis Energi
Gambar atau konten salah?
Dampak dari konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai dirasakan di Vietnam. Negara ini meminta bantuan dari Jepang dan Korea Selatan untuk meningkatkan akses terhadap minyak mentah. Permintaan ini muncul karena pasokan minyak global terganggu akibat ketegangan di Timur Tengah.
Pada tanggal 19 Maret 2026, dalam sebuah pertemuan di KTT Keamanan Energi di Tokyo, Nguyen Hoang Long, Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, bertemu dengan Matsuo Takehiko, Wakil Menteri Urusan Internasional di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Long meminta Jepang untuk membantu Vietnam dalam mencari dan mengakses sumber minyak mentah demi memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengingat Jepang memiliki cadangan minyak yang cukup besar.
Long juga bertemu dengan Kim Jung-Kwan, Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Korea Selatan. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta dukungan dari Korea Selatan untuk membantu Vietnam mengakses sumber minyak mentah agar impor lebih mudah, terutama di tengah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.
Permintaan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak perang Iran melawan Israel-AS terhadap Vietnam. Vietnam hanya memiliki dua kilang minyak yang memenuhi sekitar 70% kebutuhan bahan bakar. Saat ini, sekitar 87% dari total impor minyak Vietnam berasal dari kawasan Timur Tengah. Selain itu, cadangan penyangga minyak Vietnam merupakan salah satu yang paling sedikit di Asia Tenggara. Negara ini hanya memiliki cadangan nasional setara dengan 9 hari impor bersih, jauh lebih rendah dibandingkan Jepang dengan 254 hari, Korea Selatan 208 hari, serta Thailand dan Filipina yang memiliki cadangan lebih baik.
Sebagian besar cadangan minyak dikuasai oleh perusahaan perdagangan minyak utama yang diwajibkan menyimpan stok untuk 20 hari. Namun, stok ini lebih banyak dipersiapkan untuk distribusi langsung daripada untuk keadaan darurat. Akibatnya, Vietnam berada dalam posisi yang sangat rentan jika harga minyak terus meningkat atau jika Selat Hormuz tertutup total.
Kondisi ini bisa berdampak buruk pada rencana pertumbuhan ekonomi Vietnam. Pada bulan Januari lalu, pemerintah Vietnam menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10% per tahun untuk periode 2026-2030, meningkat dari rata-rata 5,7% pada periode 2021-2024.
Dengan krisis yang semakin nyata di minggu ketiga konflik ini, Pemerintah Vietnam mengeluarkan instruksi kepada masyarakat agar lebih banyak tinggal di rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Mereka juga disarankan untuk menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berbagi tumpangan.
Vietnam kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas pasokan energi dan mempertahankan pertumbuhan ekonominya di tengah situasi yang tidak menentu ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
