Visa US Bikin Suporter Piala Dunia 2026 Terhambat Banyak Ditolak

Dewi M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Visa US Bikin Suporter Piala Dunia 2026 Terhambat Banyak Ditolak

Gambar atau konten salah?

Di Amerika Serikat, ribuan penggemar sepak bola dari negara yang akan berpartisipasi di Piala Dunia 2026 menghadapi rintangan besar: visa. Analisis dari BBC World Service menunjukkan bahwa lebih dari seperempat negara peserta mengalami pembatasan perjalanan, persyaratan visa yang lebih ketat, bahkan tingkat penolakan visa yang tinggi.

Di antara para suporter yang terjebak, Abdulla Adnan dari Irak menonjol. Setelah timnas Irak memastikan lolos ke Piala Dunia 2026, Adnan langsung membeli tiket pertandingan. Namun, usahanya untuk berangkat ke AS gagal ketika dia kesulitan mendapatkan visa. “Pergi ke pertandingan, berada di stadion, bersama kerumunan suporter, bersorak, dan melihat tim saya bermain adalah hal yang sangat berarti bagi saya. Tidak ada perasaan lain yang bisa menandinginya,” kata Adnan, dilansir dari BBC, Jumat, 12 Juni 2026.

Walaupun Irak tidak masuk dalam daftar larangan perjalanan AS, layanan visa di Irak dihentikan sementara karena situasi keamanan kawasan. Adnan sempat terbang ke Yordania untuk mengurus visa, namun ditolak karena bukan warga negara setempat. Setelah menghabiskan sekitar USD 1.800 (Rp 32 juta) untuk tiket dan perjalanan, akhirnya dia menyerah.

Empat negara peserta lain—Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading—juga terdampak kebijakan pembatasan visa AS. Situasi ini memicu kekecewaan di kalangan suporter. Julien Kouadio Adonis, anggota Komite Nasional Pendukung Timnas Pantai Gading, menilai kebijakan tersebut tidak adil. “Ini adalah bentuk segregasi yang tidak berani disebutkan secara terang-terangan, tetapi buktinya ada. Tidak ada negara Eropa yang menghadapi pembatasan seperti ini. Mengapa Afrika?” tany dia. Karena aturan tersebut, organisasinya memutuskan tidak mengirim rombongan suporter ke Amerika Serikat. Menurutnya, negara yang enggan menerima pendukung dari tim peserta seharusnya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia. “Sepakbola adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan membutuhkan penonton,” tambah Adonis.

Data Departemen Luar Negeri AS menunjukkan tingkat penolakan visa warga dari 11 negara peserta Piala Dunia mencapai lebih dari 40%. Negara-negara itu antara lain Aljazair, Senegal, Ghana, Iran, Yordania, hingga Republik Demokratik Kongo.

Pengacara imigrasi, Celine Atallah, mengingatkan bahwa meski FIFA Pass dapat mempercepat jadwal wawancara visa bagi pemegang tiket, itu tidak menjamin permohonan akan disetujui. “FIFA bisa menjual tiket, tetapi pemerintah AS yang menentukan siapa yang mendapatkan visa,” ujar Atallah.

Ketua Asosiasi Suporter Yordania, Abu Kass, menambah keluhan serupa. Permohonannya ditolak meski ia membawa puluhan dokumen pendukung saat wawancara. “Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, banyak permohonan ditolak. Jika ketua asosiasi suporter saja ditolak, lalu siapa yang akan diterima?” tanya Kass.

Menanggapi kritik tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk Piala Dunia 2026. Namun, pemerintah menegaskan bahwa setiap permohonan visa tetap akan melalui proses pemeriksaan ketat demi menjaga keamanan negara.

Peristiwa ini menyoroti ketidaksetaraan dalam akses visa bagi suporter dari negara-negara non-Eropa, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan penerimaan pengunjung di negara tuan rumah. Meskipun Piala Dunia 2026 diharapkan menjadi ajang persatuan, hambatan visa ini mengingatkan bahwa persiapan logistik masih menjadi tantangan besar bagi semua pihak yang terlibat.

Piala Dunia 2026visa ASsuporter Irakpembatasan visaFIFA Passnegara non‑Eropakeamanan AS

Komentar

Memuat komentar...