Hotel Turun Harga karena Permintaan Piala Dunia 2026 Rendah

Wulan M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Hotel Turun Harga karena Permintaan Piala Dunia 2026 Rendah

Gambar atau konten salah?

Harapan akan menampakkan wisatawan seiring dimulainya Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya terwujud.

Di beberapa kota tuan rumah, hotel memilih menurunkan harga kamar karena tingkat hunian belum sesuai ekspektasi.

Menjelang laga pembuka, sejumlah hotel dan pelaku industri perjalanan di Amerika Serikat justru melaporkan permintaan yang lebih rendah dari ekspektasi.

Tingginya harga tiket pertandingan, biaya perjalanan, proses visa, serta rumitnya perjalanan antarkota tuan rumah disebut menjadi penyebab utama.

Kondisi itu membuat banyak suporter luar negeri menunda atau membatalkan rencana perjalanan mereka.

Mengutip Reuters, 12 Juni 2026, CEO Hotel Association of New York, Vijay Dandapani, mengatakan kekecewaan dengan situasi yang terjadi saat ini.

"Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan," kata Vijay.

Menurut Vijay Dandapani, pengusaha hotel telah memangkas proyeksi pendapatan hotel saat Piala Dunia 2026 hingga 60%, menjadi sekitar USD 60 juta (Rp 1 triliun).

Padahal sebelumnya FIFA memperkirakan 1,2 juta suporter akan datang ke New York selama turnamen.

Kini, jumlah pengunjung yang diperkirakan hadir hanya sekitar 500 ribu orang.

Data Cirium menunjukkan pemesanan penerbangan dari Eropa ke sebagian besar kota tuan rumah pada Juni dan Juli turun rata-rata 3,8% dibandingkan tahun lalu.

Khusus New York, yang akan menjadi lokasi final pada 19 Juli 2026, pemesanan hotel bahkan turun 15,8%.

Sepinya permintaan membuat sejumlah hotel mulai memangkas tarif kamar.

Vijay menyebut beberapa hotel di New York menawarkan diskon, termasuk New York Hilton Midtown yang menurunkan harga kamar hingga sekitar 50% menjadi USD 415 (Rp 7,4 juta) per malam dibanding tarif yang dipasarkan pada Desember 2025.

Harga tiket pertandingan juga menjadi sorotan.

Tiket termurah untuk laga di kota seperti New York dan Miami kini mendekati USD 1.000 (Rp 17 juta).

Selain itu, FIFA menuai kritik karena menerapkan sistem harga dinamis dan mengizinkan penjualan kembali tiket tanpa batas harga.

Beberapa penggemar bahkan memilih melewatkan piala dunia sama sekali. Teman-teman saya memilih pergi ke Ibiza untuk menonton semua pertandingan di televisi dengan biaya yang jauh lebih murah, sda juga yang memilih ke Las Vegas," kata suporter Inggris sekaligus penulis buku 'That World Cup Guy', Andy Milne.

Selain biaya yang mahal, suporter dari lebih dari separuh negara peserta juga masih harus mengurus visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Hal itu menambah biaya dan ketidakpastian bagi calon penonton dari luar negeri.

Meski demikian, sektor penyewaan akomodasi jangka pendek masih mencatat pertumbuhan.

Airbnb menyebut Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi ajang terbesar dalam sejarah perusahaan.

Data AirDNA juga menunjukkan pemesanan penginapan meningkat di sejumlah kota tuan rumah.

Kepala Ekonom AirDNA, Jamie Lane, menyatakan situasi itu tak bisa dipungkiri jika mengalami peningkatan saat Piala Dunia 2026 terselenggara.

Permintaan wisata di semua kota tuan rumah meningkat karena Piala Dunia 2026. Itu tidak bisa dibantah," kata Jamie.

Kisah ini menyoroti bagaimana industri hotel dan perjalanan menyesuaikan strategi di tengah ketidakpastian.

Sementara itu, para penonton memilih alternatif menonton di televisi atau di kota wisata lain.

Data menunjukkan bahwa meskipun Piala Dunia 2026 belum menghasilkan pendapatan yang diharapkan, sektor akomodasi tetap aktif menanggapi permintaan yang berubah.

Kisah ini memberi gambaran tentang pentingnya fleksibilitas dan penyesuaian harga dalam industri pariwisata.

Piala Dunia 2026HotelHarga KamarTiket PertandinganVisa ASAirbnbPermintaan WisataNew York

Komentar

Memuat komentar...