Warga Cilenga Bangun Saluran Air, Lahan Tidur 8.000 m² Jadi Lumbung Pangan

Cahyo S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Warga Cilenga Bangun Saluran Air, Lahan Tidur 8.000 m² Jadi Lumbung Pangan

Gambar atau konten salah?

Warga Blok Cinyungcung, Kampung Cilenga, Desa Selawangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, bergotong royong membangun saluran air sepanjang 100 meter. Aksi swadaya ini dilakukan pada Minggu, 05 Juli 2026.

Tujuannya jelas: mengairi lahan tidur seluas sekitar 8.000 meter persegi. Lahan yang sebelumnya tidak produktif itu akan disulap menjadi kawasan pertanian terpadu. Nantinya, kawasan ini akan menjadi pusat budidaya perikanan, peternakan, dan tanaman pangan. Semua ini demi memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.

Deni Danial, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Kahirupan Abadi, menjelaskan masalah utamanya. Lahan di Blok Cinyungcung selama ini sulit berkembang. Posisinya berada di atas aliran sungai. Akibatnya, lahan itu menjadi area tidur yang tidak menghasilkan apa-apa.

Solusinya? Warga menarik instalasi pipa langsung dari hulu sungai. Medannya tidak mudah. Mereka harus menembus tebing cadas dan melintasi jurang.

"Walau pun harus memasang instalasi pipa sejauh 100 meter, menembus cadas, merambah jurang, kami tak akan mundur. Kita hantam bareng-bareng. Jika air sudah mengalir lancar, lahan yang tadinya tidur bisa kita fungsikan kembali," ujar Deni pada Minggu, 05 Juli 2026.

Yedi Supriadi, tokoh pemuda setempat, menambahkan konsep yang digunakan. Kawasan pertanian di Blok Cinyungcung ini dirancang dengan konsep ekonomi sirkular. Sistem integrasi ini memungkinkan sumber daya air dan limbah sisa produksi diputar kembali dalam satu ekosistem terpadu. Tujuannya menghemat biaya operasional.

"Jadi air bersih dari hulu sungai dialirkan pertama kali ke kolam-kolam budidaya ikan nila. Sisa air dari kolam ikan yang mengandung nutrisi organik tinggi dimanfaatkan kembali untuk mengairi sekaligus memupuk tanaman padi dan hortikultura. Integrasi peternakan ayam petelur di sekitar area untuk menyuplai kebutuhan pupuk kandang dan diversifikasi produk. Pola integrasi ini efektif memangkas biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen multi-komoditas secara berkelanjutan," papar Yedi.

Menurut Yedi, di tengah zaman yang semakin individualis, aksi di Desa Selawangi ini adalah sebuah anomali yang menyegarkan. Warga tidak menunggu kucuran anggaran besar dari birokrasi. Modal utama mereka hanyalah patungan tenaga, pikiran, dan logistik seadanya.

"Langkah kecil sepanjang 100 meter ini menjadi bukti, di tangan masyarakat yang kompak, lahan segersang apa pun bisa berubah menjadi berkah. Warga Cilenga sedang menulis sejarah mereka sendiri, merajut ketahanan pangan dengan tali persaudaraan," kata Yedi.

Kemandirian pangan yang sejati tidak dimulai dari ruang seminar. Ia lahir dari peluh keringat warga yang saling mengoper pipa di tebing jurang Cinyungcung. Tanpa modal besar, hanya dengan kebersamaan, lahan tidur bisa kembali produktif. Ini adalah contoh nyata bahwa ketahanan pangan bisa dibangun dari bawah, oleh masyarakat sendiri, dengan cara yang sederhana namun efektif.

gotong royongsaluran airlahan tidurpertanian terpaduketahanan panganekonomi sirkularswadaya

Komentar

Memuat komentar...