Riset: Bukan Ukuran Rumah yang Bikin Betah

Hendra M. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Riset: Bukan Ukuran Rumah yang Bikin Betah

Gambar atau konten salah?

Bagi sebagian orang, rumah hanya tempat untuk merebahkan badan setelah lelah beraktivitas. Tapi, ada juga yang menganggap rumah sebagai tempat paling nyaman di dunia. Mereka lebih suka menghabiskan akhir pekan di rumah, membaca buku, menonton film, memasak, atau sekadar menikmati ketenangan daripada pergi ke luar.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan kepribadian introvert. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasa betah di rumah tidak sepenuhnya ditentukan oleh karakter seseorang.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology pada 2024 menemukan bahwa keterikatan emosional terhadap rumah lebih banyak dibentuk oleh pengalaman yang dirasakan seseorang saat berada di dalamnya. Jadi, bukan bentuk atau ukuran rumah yang membuat seseorang betah, melainkan perasaan yang muncul ketika ia pulang.

Penelitian berjudul Predicting Home Attachment Through Its Psychological Costs and Benefits yang dipimpin Benjamin R. Meagher dari Departemen Psikologi Hope College mencoba menjawab pertanyaan sederhana: mengapa seseorang bisa memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan rumahnya?

Untuk mencari jawabannya, para peneliti melibatkan lebih dari 650 responden dalam dua studi terpisah. Mereka ingin mengetahui manfaat psikologis apa yang diberikan rumah, sekaligus faktor-faktor yang membuat seseorang merasa benar-benar terikat dengan tempat tinggalnya.

Pada studi pertama, peserta diminta menceritakan pengalaman mereka tentang rumah menggunakan kata-kata mereka sendiri. Hasilnya menunjukkan pola yang sangat jelas. Sebanyak 86,7 persen responden menggambarkan rumah sebagai tempat untuk memulihkan diri setelah menjalani tekanan dan kesibukan sehari-hari. Rumah menjadi ruang untuk "mengisi ulang baterai" secara mental maupun emosional.

Selain fungsi tersebut, banyak responden juga menyebut rasa aman, privasi, suasana yang menenangkan, serta kebebasan melakukan berbagai aktivitas sebagai alasan utama mengapa mereka merasa nyaman berada di rumah. Temuan ini menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan tempat tinggal, tetapi juga ruang yang membantu seseorang mengembalikan energi psikologisnya.

Banyak orang beranggapan rumah yang luas atau mewah otomatis membuat penghuninya lebih bahagia. Namun, penelitian ini justru menunjukkan hasil yang berbeda.

Pada studi kedua, peserta diminta menilai berbagai aspek rumah yang mereka tempati, mulai dari kondisi fisik hingga pengalaman emosional yang mereka rasakan setiap hari. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa betah paling kuat dipengaruhi oleh tiga hal: kemampuan rumah membantu pemulihan emosional, hubungan sosial yang positif dengan penghuni lainnya, serta tersedianya ruang pribadi yang memadai. Ketiga faktor tersebut sama-sama memberikan kontribusi terhadap munculnya rasa memiliki dan keterikatan terhadap rumah.

Sebaliknya, responden yang sering mengalami konflik dengan anggota keluarga, merasa kekurangan privasi, tinggal di ruang yang sempit, atau terus-menerus mengkhawatirkan kondisi rumah cenderung memiliki ikatan emosional yang jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti, seseorang tidak mencintai rumah hanya karena sudah lama tinggal di sana. Yang jauh lebih penting adalah apakah rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan fisiknya. Rumah yang menghadirkan rasa aman, hubungan keluarga yang hangat, suasana tenang, serta ruang untuk beristirahat tanpa gangguan akan lebih mudah menjadi tempat yang selalu dirindukan.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang memilih langsung pulang setelah bekerja daripada mencari hiburan di luar. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tujuan akhir, melainkan tempat terbaik untuk memulihkan pikiran setelah menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.

Pada akhirnya, para peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang paling menentukan seseorang merasa betah di rumah bukanlah luas bangunan, desain interior, atau kemewahan fasilitasnya. Faktor terkuat justru adalah pengalaman psikologis yang dirasakan setiap kali pulang — perasaan tenang, aman, dan kembali segar setelah berada di rumah.

Mungkin itulah alasan mengapa bagi sebagian orang, kalimat "tidak ada tempat sebaik rumah" bukan sekadar ungkapan, melainkan sesuatu yang benar-benar mereka rasakan.

Penelitian ini menegaskan bahwa rumah memiliki peran psikologis yang jauh lebih dalam dari sekadar tempat berteduh. Keterikatan emosional seseorang terhadap rumahnya lebih ditentukan oleh kualitas pengalaman di dalamnya — seperti rasa aman, privasi, dan pemulihan energi — dibandingkan ukuran atau kemewahan fisik bangunan. Ini menjelaskan mengapa banyak orang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah daripada bepergian, karena rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional dan mental mereka.

rumahketerikatan emosionalpemulihanpsikologiskenyamananprivasiintrovert

Komentar

Memuat komentar...