Warga Grebek Kupat di Dusun Dawung, Rayakan Syawalan
Gambar atau konten salah?
Di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, warga menggelar grebek kupat sebagai bagian dari perayaan Syawalan. Gunungan ketupat ini berisi uang tunai dan voucher, lalu diarak sebelum diperebutkan.
Waktu grebek berlangsung sekitar pukul 11.24 WIB pada 25 Maret 2026. Sebelum diperebutkan, gunungan kupat diarak dari Masjid Darussalam menuju lapangan dusun. Gunungan setinggi kurang lebih dua meter terbuat dari sekitar 2.500 kupat. Sebelum disusun, panitia mendistribusikan kupat kepada masing‑masing kepala keluarga.
Setelah diarak, warga—yang mayoritas anak—langsung berebut gunungan. Beberapa naik di gunungan, mengambilnya, lalu dilempar kepada warga lain. Suasana sempat diguyur hujan, namun tidak mengurangi semangat warga.
Di antara para peserta, Dastin berusia 13 tahun mengaku sudah tiga kali ikut grebek. Ia berkata, “Senang sekali. Tadi dapat Rp 27 ribu,” sambil tersenyum.
Farel, juga berusia 13 tahun, menambahkan, “Saya senang banget. Sudah 7 kali ikut. Dapat uang pecahan Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu. Ini total dapat uang tunai Rp 77 ribu,” sambil menepuk‑nepuk kupat.
Fixel Dwi Alfino berusia 14 tahun dari Tempuran, Kabupaten Magelang, mengaku dapat cukup banyak uang untuk membeli mainan yang diincarnya. Ia berkata, “Saya totalnya dapat Rp 112 ribu. Tadi, naik ke gunungan terus kupat saya masukan jaket. Rencana mau beli (mainan) buntut kuda lumping. Tadi, desak‑desakan ambilnya,” sambil menahan kupat.
Inisiator grebek, Gepeng Nugroho, menjelaskan bahwa grebek ini dilaksanakan pada hari kelima bulan Syawal. Ia berkata, “Pelaksanaan hari ini berbarengan dengan syawalan dari warga. Sebagai gambaran memang 'ngaku lepat' yang disimbolkan sebagai kupat.”
Gepeng menambahkan, “Ini sebagai bentuk rasa syukur dan semangat berbagi pada masyarakat, sesama. Sebelumnya, gunungan kupat didoakan di masjid sebagai harapan kerukunan hidup, toleransi di masyarakat. Juga akan mendorong kesejahteraan masyarakat.”
Ia juga menjelaskan jumlah kupat, “Jumlah kupat sekitar 2.500. Nominal uang kita tidak bisa diprediksi. Umumnya nominalnya paling kecil Rp 2 ribu, paling besar pecahan Rp 100 ribu,” ujarnya.
Acara grebek ini menampilkan keceriaan warga yang bersatu dalam perayaan Syawalan. Meskipun hujan turun, semangat warga tetap tinggi, menandai kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam.
Dalam konteks yang lebih luas, grebek kupat ini mencerminkan tradisi lokal yang menggabungkan keceriaan, solidaritas, dan nilai kebersamaan. Warga mengekspresikan kebahagiaan melalui hadiah uang tunai, sekaligus menegaskan semangat berbagi yang menjadi inti perayaan Syawalan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
Ronaldo Usia 41 Tahun Siap Menjuarai Piala Dunia 2026
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
PHK Januari-April 2026: Jawa Barat Terbanyak, 5.044 Orang
Serenada Enchanting Valley: Konser Musik di Puncak Bogor
FESyar Sumatera 2026: Festival Ekonomi Syariah Palembang
Di Maria Pensiun, Argentina Hadapi Ancaman Spanyol, Prancis
