Warga Pati Bertahan di Rumah Terendam Banjir Sebulan
Gambar atau konten salah?
Banjir rob sudah merendam permukiman warga di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati selama sebulan terakhir. Meski air terus naik, warga memilih tetap tinggal di rumah mereka daripada mengungsi ke tempat lain.
Kondisi paling parah terjadi di RT 5, di mana sekitar 40 rumah warga terendam. Banjir tidak hanya mengenai jalan, tapi juga masuk ke dalam rumah. Warga setempat, Sugiyono (54), mengatakan air di rumahnya sudah mencapai 30 sentimeter. Ia dan istrinya memilih bertahan meski perabotan rumah mereka sudah ditumpuk tinggi-tinggi.
"Tidur di tumpukan kursi, karena perabotan saya tumpuk semua," kata Sugiyono saat ditemui di lokasi pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Sugiyono mengaku selama banjir ini hanya mengandalkan bantuan dari relawan. Kalau tidak ada relawan, ia makan seadanya, biasanya mi instan. Sebagai petani tambak, ia tidak bisa bekerja karena lahannya ikut terendam.
"Makan saja nunggu bantuan dari relawan, bantuan dari pemerintah belum ada, beberapa dari relawan," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah daerah turun tangan. Terutama karena banjir rob tahun ini sudah berlangsung sebulan dan belum surut. "Harapannya pemerintah agar diperhatikan terutama warga kami RT 5, sampai sekarang belum ada perhatian sampai sekarang. Banjir rob sudah sebulan ini," katanya.
Warga lain, Muhammad Amar, menjelaskan rob ini mulai terjadi tahun 2022 lalu. Setiap tahun, kejadiannya makin parah. Dulu hanya lahan tambak yang kena, sekarang sudah merambah ke permukiman.
"Cuman tahun 2022 yang terdampak baru pertanian, masuk permukiman tahun 2024. Dari tahun 2022 tahun ke tahun trafiknya naik terus. Awalnya dari bibir pantai sampai dengan permukiman warga," jelasnya.
Amar khawatir desanya bisa tenggelam dan hilang seperti yang terjadi di wilayah Demak. "Bukan hanya masalah banjir cuman penyebab dan pencegahan harus dilakukan, karena rob ini bukan ditangani tapi dicegah agar tidak lebih parah. Khawatir kalau desa kami hilang," ujarnya.
Menurutnya, banjir rob tidak hanya merusak bangunan, tapi juga mata pencarian dan mental warga yang sudah sebulan terendam. "Karena banjir rob selama ini awal tahun merusak bangunan, sekarang sudah merusak mata pencarian dan mental," ungkapnya.
Banjir rob di Desa Tunggulsari ini naik paling tinggi antara jam 11 siang sampai jam 4 sore. Warga seperti Sugiyono terpaksa menumpuk kursi dan perabotan untuk bisa tidur di atasnya. Mereka bertahan karena tidak punya pilihan lain untuk pergi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir rob yang awalnya hanya mengenai area tambak, kini sudah merambah ke pemukiman. Dari tahun ke tahun, wilayah yang terdampak semakin meluas. Warga khawatir jika tidak ada pencegahan, desa mereka bisa benar-benar hilang seperti yang terjadi di daerah lain.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Disdik Semarang Tolak Buka Akses Portal Prestasi Siswa
LDA Daftarkan Nama Paku Buwono XIV ke HAKI
Juru Parkir Brebes Gagalkan Curi Rp3,6 M, Dapat Hadiah Umrah
Minyak Goreng Bantuan di Wonogiri Berbau Seperti Minyak Tanah
Pengacara Solo Daftarkan Nama SISKS Paku Buwono XIV
Keraton Paku Buwono XIV Tolak Pendaftaran Nama SISKS
Berita Terbaru
Warga Pati Bertahan di Rumah Terendam Banjir Sebulan
Pemuda 21 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Kalimas Surabaya
Suroboyo Bus Keluarkan Asap Hitam, Penumpang Berhamburan
Kolaborasi Chef Korea dan Indonesia Hadirkan Afternoon Tea Unik
Haiti Resmi Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Anggota DPR: Kritik MBG Jangan Berubah Jadi Ujaran Kebencian
Turki Gagal ke Piala Dunia 2026, Kalah dari Paraguay
