WHO: Kasus Kanker Global Diprediksi Hampir Dua Kali Lipat pada 2050

Dani L. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
WHO: Kasus Kanker Global Diprediksi Hampir Dua Kali Lipat pada 2050

Gambar atau konten salah?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras. Jumlah kasus kanker baru di dunia diproyeksikan melonjak drastis. Hampir dua kali lipat pada tahun 2050.

Laporan Global Status Report on Cancer 2026 yang disusun bersama Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) memberikan gambaran mengerikan. Angka kasus baru diperkirakan naik dari sekitar 20,6 juta per tahun menjadi hampir 35 juta kasus pada 2050. Saat ini, kanker masih menjadi pembunuh nomor dua terbesar di dunia setelah penyakit kardiovaskular.

Setiap tahun, tercatat sekitar 20,6 juta kasus baru dan hampir 10 juta kematian akibat penyakit ini. Artinya, lebih dari 26 ribu orang meninggal setiap hari karena kanker.

"Kanker adalah penyakit yang sangat personal dan hampir menyentuh kehidupan setiap orang. Namun, peluang seseorang untuk bertahan hidup seharusnya tidak ditentukan oleh tempat lahir atau tingkat pendapatannya," kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu (15 Juli 2026).

Ia menegaskan ketimpangan yang ditemukan dalam laporan itu bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Melainkan konsekuensi dari berbagai kebijakan yang masih bisa diperbaiki melalui aksi yang lebih kuat dan terpadu.

Asia menyumbang lebih dari separuh kasus kanker dunia

Beban kanker tidak merata di setiap wilayah. Pada 2024, Asia menyumbang lebih dari separuh kasus kanker baru di dunia, tepatnya 50,7 persen. Wilayah ini juga mencatat 56,5 persen kematian akibat kanker. Penyebab utamanya adalah jumlah penduduk yang sangat besar.

Sementara itu, Eropa menanggung beban kanker yang tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Meski hanya dihuni sekitar 9 persen populasi dunia, kawasan ini menyumbang 21 persen kasus kanker global dan 20 persen kematian akibat kanker.

Di sisi lain, banyak negara di Afrika dan sebagian Asia memiliki angka kejadian kanker yang lebih rendah. Namun, tingkat kematiannya justru lebih tinggi.

Kanker paru masih jadi penyebab kematian nomor satu

WHO mencatat kanker paru masih menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Pada laki-laki, jenis kanker yang paling sering ditemukan adalah kanker paru, kanker prostat, dan kanker kolorektal. Sementara pada perempuan, kanker payudara, kanker paru, dan kanker kolorektal menjadi penyumbang terbesar kasus kanker.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa hampir empat dari 10 kasus kanker di dunia berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor-faktor tersebut meliputi infeksi seperti human papillomavirus (HPV), hepatitis B dan C, serta Helicobacter pylori. Selain itu, konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik juga menjadi pemicu utama.

Direktur IARC, Dr Elisabete Weiderpass, mengatakan beberapa negara memang telah berhasil menurunkan angka kanker melalui kebijakan pencegahan. Namun, menurutnya, laju kemajuan tersebut masih terlalu lambat.

"Profil kanker kini terus berubah dan semakin dipengaruhi oleh meningkatnya angka obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta polusi udara. Karena itu, pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik," ujarnya.

Lonjakan kasus kanker yang diproyeksikan ini bukan sekadar angka. Ini cerminan dari kegagalan kebijakan pencegahan di banyak negara. Faktor risiko seperti obesitas dan polusi udara terus meningkat, sementara akses terhadap deteksi dini dan pengobatan masih timpang. Asia, dengan populasi terbesarnya, akan menjadi wilayah yang paling terdampak. Tanpa tindakan nyata, angka kematian akibat kanker akan terus bertambah setiap harinya.

lonjakan kasus kankerperingatan WHOpencegahan kankerfaktor risiko kankerketimpangan kesehatan globalkanker paruAsia

Komentar

Memuat komentar...