Zazil Bakery: Kisah Tarmuji, dari Tukang Pangkas Rambut ke Pusat Oleh-Oleh
Gambar atau konten salah?
Di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Makassar dengan Maros di Sulawesi Selatan, ada satu tempat yang cukup menonjol. Namanya Zazil Bakery. Tempat ini dikenal sebagai salah satu pusat oleh-oleh terbesar di kawasan tersebut. Di dalamnya, rak-rak tersusun rapi berisi berbagai jenis roti Maros, kue-kue tradisional, dan aneka camilan khas daerah.
Di balik usaha yang terus berkembang ini, ada seorang pria bernama Tarmuji. Usianya kini 67 tahun. Ia lahir di Gresik, Jawa Timur. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 4 madrasah. Tapi dari situlah perjalanannya dimulai. Kemiskinan membuatnya harus berhenti sekolah. Ayahnya bekerja sebagai tukang pangkas rambut di sebuah gubuk kecil di pinggir jalan desa.
Sejak kecil, Tarmuji sudah terbiasa mencari penghasilan. Ia pernah menjual es lilin keliling kampung. Saat remaja, ia juga belajar memangkas rambut dan sering menggantikan ayahnya melayani pelanggan. Hidup sederhana itu membentuknya menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
"Kalau ingin maju dan berkembang, harus berani pergi dari desa," kata Tarmuji saat mengingat masa mudanya.
Menjelang usia 20 tahun, ia memutuskan untuk merantau. Kesempatan datang saat ada lowongan di sebuah pabrik roti di Bali. Di sana, ia memulai karier dari posisi paling bawah. Tugasnya membungkus roti, membersihkan loyang, menyiapkan adonan. Perlahan, ia mulai memahami seluruh proses produksi roti. Pengalaman itu menjadi sekolah sesungguhnya baginya.
Setelah beberapa tahun bekerja di industri bakery, Tarmuji bergabung dengan Aerofood ACS. Perusahaan ini bergerak di bidang katering penerbangan. Mereka melayani kebutuhan makanan untuk maskapai Garuda Indonesia. Penempatan kerjanya membawanya ke Makassar. Kota ini kemudian menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang.
Kariernya di Aerofood berkembang pesat. Melalui perusahaan tersebut, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di berbagai negara. Singapura, Hong Kong, Prancis, Jerman, Belanda, dan beberapa negara Eropa lainnya menjadi tempat ia belajar. Di sana, ia mempelajari berbagai teknik pastry dan bakery. Mulai dari komposisi bahan, pengolahan adonan, pengembangan rasa, hingga perhitungan biaya produksi.
Pengalaman itu membentuknya menjadi baker profesional dengan standar internasional. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika pihak protokol kepresidenan meminta Garuda menyiapkan menu untuk Presiden Soeharto. Waktu itu, penerbangan dilakukan dari Makassar menuju Jakarta. Penerbangan hanya berlangsung sekitar dua jam. Karena itu, pilihan menu harus ringan, tetapi tetap memberi kesan segar.
Setelah berdiskusi, muncul ide untuk membuat puding jahe. Tarmuji memilih menggunakan jahe emprit. Alasannya, jahe emprit memiliki aroma dan cita rasa rempah yang lebih kuat dibandingkan jahe gajah. Untuk memperkaya rasa, rebusan jahe dicampur dengan sedikit kopi sebelum diolah menjadi puding.
"Waktu itu pakai jahe emprit karena rasa rempah dan herbalnya lebih kuat," kenang Tarmuji.
Menu tersebut akhirnya disetujui oleh pihak kepresidenan yang bekerja sama dengan TNI AU. Tarmuji tidak ikut dalam penerbangan itu. Tugasnya selesai di dapur. Penyajian dilakukan oleh staf kepresidenan.
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 mengubah arah hidup Tarmuji. Saat perusahaan melakukan efisiensi, ia memilih mengundurkan diri. Keputusan itu tidak mudah. Tapi bekal pengalaman puluhan tahun di industri makanan memberinya kepercayaan diri untuk memulai dari nol.
Bersama istrinya yang berasal dari kampung yang sama di Gresik, ia mulai memproduksi roti secara mandiri. Tarmuji meracik resep, memilih bahan baku, dan mengawasi produksi. Istrinya membantu memasarkan hasil usaha mereka. Perlahan, usaha tersebut mulai berkembang. Permintaan terus meningkat. Kapasitas produksi diperbesar. Mesin-mesin modern didatangkan. Gerai penjualan diperluas.
Gerai yang awalnya hanya toko roti sederhana, kini berkembang menjadi pusat oleh-oleh yang dikenal dengan nama Zazil Bakery. Selain menjual produk buatannya sendiri, Zazil juga menggandeng puluhan pelaku UMKM lokal. Mereka menjadi pemasok berbagai makanan khas daerah. Tapi untuk produk roti, seluruh proses produksi tetap dilakukan sendiri.
Saat ini, Zazil Bakery menghasilkan lebih dari 130 varian roti dan produk turunannya. Mulai dari roti Maros, roti keju, roti manis, sourdough, hingga kue tart. Semua varian itu diproduksi di dapur yang sama.
Meski sebagian besar operasional usaha sudah diserahkan kepada anak-anaknya, Tarmuji masih aktif mengawasi dapur produksi. Pengalaman puluhan tahun membuatnya mampu menilai kualitas adonan hanya dengan menyentuhnya. Ia tahu persis kapan adonan sudah siap dan kapan perlu ditambahkan bahan tertentu.
"Keahlian Bapak memang di produksi. Semua resep juga berasal dari beliau. Jadi beliau yang paling paham soal kualitas," kata anak bungsu Tarmuji.
Saat ditanya apakah ia pernah berpikir untuk menjual kembali resep puding jahe yang pernah disajikan untuk Presiden dengan nama "Puding Presiden", Tarmuji hanya tersenyum. Jawabannya singkat, "Enggak."
Nama Zazil sendiri diambil dari nama panggilan anak perempuannya. Nama itu kini terpasang besar di salah satu pusat oleh-oleh paling dikenal di jalur Makassar-Maros. Semua ini adalah buah dari perjalanan panjang seorang anak tukang pangkas rambut yang tak pernah berhenti belajar membuat roti.
Tarmuji membuktikan bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dengan kerja keras, kemauan belajar, dan keberanian untuk merantau, ia berhasil membangun usaha yang kini menjadi salah satu ikon kuliner di Sulawesi Selatan. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai usaha dari bawah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
7 Warung Pecel Lele di Jakarta untuk Tanggal Tua
Tradisi nanas bawa sial, lantai marmer rumah baru rusak
5 Tempat Nasi Ulam Betawi Autentik di Jakarta
Kontroversi Kuliner Halal di Bali, Netizen Sindir Minta Saran Nonhalal
Chef Michelin Hadir di Bali, Sajikan Canapés dan Fine Dining Eksklusif
Norwegia Bawa 1.000 Ton Makanan ke Piala Dunia, Bukan Soal Rasa
Berita Terbaru
Zazil Bakery: Kisah Tarmuji, dari Tukang Pangkas Rambut ke Pusat Oleh-Oleh
Veda Ega Pratama vs Hakim Danish: Selisih 9 Poin Makin Panas
Pabrik Mainan di Medan Terbakar, Padam Setelah 20 Jam
Minibus Terjun ke Jurang 300 Meter di Pekalongan, Satu Tewas
Belanda Hajar Swedia 5-1, Gakpo dan Brobbey Bintang Lapangan
Veda Ega Pratama Bangkit dari Posisi 20, Finis Kelima di Moto3 Brno
Pemadaman Listrik di Jateng Ancam Peternak Ayam
Pemula Maraton Rentan Rhabdomyolysis, Dokter: Pemanasan Bertahap Kunci Utama