1 Safar 1448 H Jatuh 16 Juli 2026, Muhammadiyah Beda

Mira T. · 5 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
1 Safar 1448 H Jatuh 16 Juli 2026, Muhammadiyah Beda

Gambar atau konten salah?

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, setelah Muharam. Menjelang pergantian bulan, banyak umat Islam mulai mencari tahu kapan Safar 1448 Hijriah dimulai. Mereka juga ingin memahami sejarah dan berbagai mitos yang melekat pada bulan ini.

Di balik penamaannya, Safar memiliki sejarah panjang sejak masa Arab pra-Islam. Islam kemudian meluruskan berbagai anggapan keliru, termasuk mitos bahwa Safar adalah bulan sial.

Pada tahun 2026, kalender Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU) menunjukkan 1 Safar 1448 Hijriah jatuh pada tanggal yang sama. Namun, berbeda satu hari dengan Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah.

Perbedaan ini terjadi karena Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sementara pemerintah dan NU menggunakan metode penetapan yang berbeda. Berikut jadwal awal bulan Safar 1448 Hijriah.

Versi Pemerintah

  • 1 Safar 1448 Hijriah: Kamis, 16 Juli 2026
  • 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis, 13 Agustus 2026

Versi Nahdlatul Ulama

  • 1 Safar 1448 Hijriah: Kamis, 16 Juli 2026
  • 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis, 13 Agustus 2026

Versi Muhammadiyah

  • 1 Safar 1448 Hijriah: Rabu, 15 Juli 2026
  • 29 Safar 1448 Hijriah: Kamis, 13 Agustus 2026

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Setelah Safar berakhir, umat Islam akan memasuki bulan Rabiulawal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sejarah dan Asal-usul Nama Bulan Safar

Menurut penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Safar memiliki dua makna. Dalam Lisanul 'Arab karya Ibnu Mandzur, Safar bisa berarti kosong (shafar) atau warna kuning (shufrah).

Penamaan Safar dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dulu. Mereka meninggalkan rumah untuk berperang atau bepergian jauh, sehingga perkampungan menjadi kosong.

Pendapat ini juga disebutkan dalam kitab Al-Mufasshal fi Tarikhil 'Arab Qablal Islam. Saat itu, orang-orang yang ditinggalkan berkata: "Shafira an-Nasu minna shafaran (orang-orang mengosongkan kota karena kita miskin/tidak memiliki harta)." (Juz 6, hal 120).

Mitos Bulan Safar pada Masa Jahiliyah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah punya berbagai keyakinan tentang bulan Safar. Yang paling terkenal adalah anggapan bahwa Safar membawa kesialan.

Sebagian masyarakat meyakini Safar sebagai penyakit yang bersarang di perut. Ada pula yang menganggap Safar sebagai angin panas yang bisa membuat seseorang jatuh sakit.

Akibat kepercayaan ini, banyak orang menghindari bepergian, menikah, atau memulai pekerjaan penting pada bulan Safar. Semua dianggap akan mendatangkan keburukan.

Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan?

Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan dibantah oleh Rasulullah SAW melalui sejumlah hadis. Salah satunya diriwayatkan Imam Muslim.

Dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya." (HR Muslim, no 4120)

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW kembali menjelaskan bahwa keyakinan masyarakat Jahiliah mengenai 'adwa, Safar, dan hammah tidaklah benar. Hadis itu berbunyi:

"Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).' Lalu, seorang Arab Badui berkata, 'Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan bersih bagaikan gerombolan kijang, kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?' Maka, Nabi SAW bersabda, 'Siapakah yang menulari yang pertama.'" (HR Bukhari, no 5278)

Hadis ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Bukan karena adanya kesialan pada bulan tertentu. Islam tidak mengenal konsep bulan sial. Semua bulan memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah SWT.

Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Safar

Bulan Safar tidak hanya dikenal karena sejarah penamaannya dan mitos di masyarakat Arab pra-Islam. Dalam sejarah Islam, bulan ini juga menjadi waktu terjadinya sejumlah peristiwa penting yang melibatkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA

Menurut NU Online, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah terjadi pada bulan Safar, sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Peristiwa ini menjadi momen penting karena Khadijah kelak menjadi orang pertama yang membenarkan dakwah Islam.

2. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib

Rasulullah SAW juga menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Safar. Pernikahan ini menjadi salah satu peristiwa bersejarah dalam keluarga Rasulullah.

3. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah

Beberapa ulama menjelaskan bahwa Rasulullah memulai perjalanan hijrah dari Makkah pada akhir bulan Safar. Beliau tiba di Madinah pada bulan Rabiulawal. Hijrah menjadi titik awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah dan menjadi dasar penanggalan Hijriah.

4. Perang Al-Abwa (Waddan)

Perang Al-Abwa atau Ghazwah Waddan dikenal sebagai ekspedisi militer pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Meskipun tidak terjadi pertempuran, ekspedisi ini menghasilkan perjanjian damai dengan Bani Dhamrah dan menjadi awal strategi pertahanan kaum muslimin.

5. Penaklukan Khaibar

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 pasukan menuju Khaibar. Mereka berhasil menaklukkan benteng-benteng Yahudi di wilayah tersebut. Sejumlah riwayat menyebut peristiwa ini berlangsung pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah.

6. Pengutusan Usamah bin Zaid

Beberapa hari menjelang wafatnya Rasulullah SAW pada tahun ke-11 Hijriah, beliau mengutus Usamah bin Zaid memimpin pasukan menuju wilayah Romawi. Perintah ini menunjukkan pentingnya melanjutkan dakwah dan menjaga keamanan kaum muslimin.

Apakah Ada Amalan Khusus di Bulan Safar?

Dalam Islam, tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan hanya karena memasuki bulan Safar. Anggapan bahwa Safar adalah bulan sial juga telah dibantah Rasulullah SAW melalui sejumlah hadis.

Meski demikian, bulan Safar tetap bagian dari kalender Hijriah yang bisa diisi dengan berbagai amal saleh, sama seperti bulan-bulan lainnya. Dikutip dari NU Online Lampung, ada beberapa amalan yang bisa dilakukan umat Islam selama bulan Safar.

1. Meningkatkan Amal Kebaikan dan Kepedulian Sosial

Bulan Safar bisa menjadi momentum untuk memperbanyak amal kebajikan. Seperti bersedekah, membantu sesama, dan mempererat hubungan sosial. Dalam Islam, amal saleh dan sedekah dianjurkan kapan pun, termasuk pada bulan Safar.

Rasulullah SAW bersabda: "Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rizki." (HR dari Jabir bin Abdillah)

2. Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh

Salah satu amalan sunah yang bisa dilakukan pada bulan Safar adalah puasa Ayyamul Bidh. Yaitu puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Karena termasuk amalan sunah bulanan, puasa ini bisa dikerjakan pada bulan apa pun, termasuk Safar.

Rasulullah SAW bersabda: "Hai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah)."

Beliau juga bersabda: "Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan sholat duha, dan mengerjakan sholat witir sebelum tidur."

3. Memperbanyak Doa dan Zikir

Selain memperbanyak amal saleh, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa dan zikir kepada Allah SWT. Ini adalah amalan yang baik dilakukan setiap waktu, termasuk pada bulan Safar.

Di kalangan sebagian umat Islam, dikenal doa yang biasa dibaca pada bulan Safar sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT. Doa tersebut memohon perlindungan dari kejahatan hari itu dan kejahatan yang akan turun padanya.

Bulan Safar, seperti bulan-bulan lainnya dalam Islam, adalah waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mitos kesialan telah dibantah oleh Nabi. Yang tersisa hanyalah kesempatan untuk berbuat baik, tanpa perlu takut pada takhayul.

Bulan SafarKalender HijriahMitos KesialanSejarah SafarAmalan Bulan SafarPeristiwa Penting SafarPerbedaan Penetapan Awal Bulan

Komentar

Memuat komentar...