24 SMP Negeri di Ponorogo Kebingungan Isi Kursi Kosong
Gambar atau konten salah?
Sebanyak 24 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Ponorogo masih kebingungan. Mereka belum bisa mengisi seluruh bangku yang tersedia untuk tahun ajaran baru. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 sudah berjalan, tapi masih ada celah. Untuk mengatasi ini, Dinas Pendidikan (Dindik) setempat memutuskan membuka pendaftaran secara langsung, alias offline.
Farida Nuraini, Ketua SPMB 2026 Kabupaten Ponorogo, menjelaskan situasinya. Semua SMP Negeri di wilayah Kecamatan Ponorogo sudah kebanjiran pendaftar. Kuota mereka penuh. Tapi di kecamatan-kecamatan pinggiran, ceritanya lain. Sekolah-sekolah di sana masih kekurangan calon siswa.
"Tidak ada SMP Negeri yang nol siswa. Tetapi sekolah-sekolah di kecamatan pinggiran memang belum memenuhi pagu. Karena itu kami membuka pendaftaran secara offline," kata Farida kepada wartawan pada Sabtu, 04 Juli 2026.
Pendaftaran offline ini, menurut Farida, bukan untuk semua orang. Hanya untuk calon siswa yang sampai sekarang belum diterima di sekolah negeri mana pun. Dan mereka hanya bisa mendaftar ke SMP Negeri yang masih punya sisa kursi.
"Kalau SMP Negeri di Kecamatan Ponorogo semuanya sudah penuh. Jadi yang belum mendapatkan sekolah negeri masih bisa mendaftar ke sekolah yang kuotanya belum terpenuhi," ujarnya.
Dinas Pendidikan tidak memasang batas waktu yang kaku. Pendaftaran secara luring akan terus dibuka sampai semua kursi terisi. Tapi ada batasnya. Jika sampai akhir Juli masih ada bangku kosong, maka proses penerimaan siswa baru akan dihentikan begitu saja.
"Kalau sampai batas akhir bulan Juli belum terpenuhi, ya sudah. Berarti anak-anak sudah mendapatkan sekolah masing-masing," jelas Farida.
Dari 24 sekolah yang masih kekurangan siswa, satu nama menonjol: SMP Negeri 1 Sawoo. Sekolah ini paling parah. Kuota mereka 192 siswa. Tapi hingga saat ini, baru 109 orang yang mendaftar. Masih kurang sekitar 83 hingga 84 siswa.
"Kuotanya 192 siswa, yang mendaftar baru 109. Jadi masih kurang sekitar 83 hingga 84 siswa," ungkap Farida.
Farida punya pesan untuk orang tua. Jika anaknya belum diterima di sekolah negeri, jangan putus asa. Manfaatkan kesempatan pendaftaran offline ini. Ia menekankan, kualitas SMP Negeri di pinggiran tidak kalah dengan yang di pusat kota.
"Silakan mendaftarkan anak ke SMP Negeri yang masih membuka pendaftaran. Kualitasnya juga tidak kalah," tambahnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Agus Sugiarto, sudah mendengar laporan ini. Ia mengaku akan menjadikan kondisi ini sebagai bahan evaluasi. Pemerintah daerah perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Laporan dari Kepala Dinas Pendidikan sudah kami terima. Tentu ini akan menjadi bahan evaluasi kami bersama," pungkas Agus.
Data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mencatat 24 SMP Negeri yang masih kekurangan siswa. Daftarnya panjang. Selain SMPN 1 Sawoo, ada SMPN 1 Babadan, SMPN 5 Ngrayun, SMPN 2 Satu Atap Jambon, SMPN 1 Pudak, SMPN 2 Bungkal, SMPN 1 Sooko, SMPN 2 Babadan, SMPN 1 Sampung, SMPN 2 Sampung, dan SMPN 4 Ngrayun.
Masalah ini bukan soal kualitas semata. Bisa jadi soal jarak, transportasi, atau preferensi orang tua yang lebih memilih sekolah di kota. Tapi yang jelas, 24 sekolah negeri di Ponorogo masih menunggu. Dan waktu terus berjalan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Fathoni Dorong Pemkot Surabaya Terus Berinovasi Hadapi Tantangan Fiskal
16 Tim Bertahan di Piala Dunia 2026
Wali Kota Probolinggo Resmi Buka Semipro 2026
TPS3R Kertosari Dibangun, Banyuwangi Target Kurangi Sampah Kota
Dosen Unair Curhat Gaji Rp2,6 Juta, Kampus Buka Suara
Semeru Meletus, Lontarkan Lava Pijar 1 Km
Berita Terbaru
Pria 81 Tahun Raih Podium Hyrox Jakarta
Jakarta Raih Festival Budaya Enam Negara
Fave+ Hotel Pamanukan Resmi Naik Kelas
Erick Thohir Beri Penghargaan Tertinggi ke Modifikator Indonesia
Messi Puji Kiper Cape Verde Usai Laga Sengit
Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026 Masih Misteri
Said Iqbal Turun ke Lapangan Usut PHK Tokopedia-TikTok
