26 Tahun, Gagal Ginjal Stadium 5: Kisah Edi Utomo, Tuban

Sigit W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
26 Tahun, Gagal Ginjal Stadium 5: Kisah Edi Utomo, Tuban

Gambar atau konten salah?

Edi Utomo berusia 26 tahun dan berasal dari Tuban, Jawa Timur. Pada 10 Mei 2026 ia memutuskan untuk berbagi kisahnya di media sosial, mengungkap bahwa ia sudah didiagnosis gagal ginjal kronis stadium 5 sejak tahun 2019.

“Awal kena di tahun 2019,” ujarnya ketika dihubungi. Ia menjelaskan bahwa gejala pertama yang ia rasakan adalah tubuhnya sering meriang ketika menggunakan kipas angin. “Sekitar 2‑3 bulan dari yang kayak berasa meriang, ini tenaga juga habis, beda kayak biasanya,” ia kutip dari akun Instagramnya.

Setelah gejala meriang muncul, ia merasakan penurunan tenaga yang cukup drastis. Ia sering merasa lelah, dan setiap tiga bulan ia mengalami rasa mual dan muntah. “Terus selang 3 bulanan, aku pulang ya itu muncul rasa mual muntah. Mual muntah sama kayak orang mau masuk angin gitu. Mau muntah, tapi nggak keluar muntahnya,” ia ceritakan.

Awalnya, Edi mengira gejala itu hanya masuk angin biasa. Ia memutuskan untuk minum obat masuk angin saja. Namun, setelah beberapa waktu, ia mulai merasakan sakit perut di pojok kiri bawah. Saat diperiksakan ke rumah sakit, dokter sempat menegaskan bahwa ia memiliki masalah lambung. Namun, sekitar 4 bulan setelah mengonsumsi obat lambung, kondisinya tidak membaik.

“Aku udah drop banget nggak kuat ngapa‑ngapain. Aku dibawa ke RS di daerah tempatku, jadi baru ketahuan kalau aku sakit gagal ginjal kronis udah langsung stage 5,” ungkap Edi. Ia menambahkan, “Tensi udah tinggi banget di 200‑an, langsung stage 5 harus wajib cuci darah. Dan kalau gagal ginjal kronis karena hipertensi rata‑rata nggak ada gejala, langsung drop gitu aja.”

Sejak pertama kali didiagnosis pada tahun 2019, Edi harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Ia memperkirakan sudah hampir 700 kali prosedur tersebut. Ia juga menegaskan bahwa kondisi hipertensinya berasal dari kebiasaan makan mi instan. “Aku nggak merokok dan nggak ngopi. Jadi yang menyebabkan hipertensi aku itu kebanyakan makan mi instan,” ujarnya.

Edi mengingatkan pentingnya memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mirip. Ia menekankan bahwa gejala seperti meriang, kelelahan, mual, dan muntah dapat menjadi tanda awal gagal ginjal kronis. Pemeriksaan dini dapat membantu mengidentifikasi penyakit sebelum berkembang menjadi stadium akhir.

Pengalaman Edi menunjukkan betapa pentingnya gaya hidup sehat dan pemantauan kesehatan secara rutin. Ia menegaskan bahwa meskipun ia tidak merokok atau minum kopi, pola makan yang tidak seimbang dapat memicu hipertensi dan, pada akhirnya, gagal ginjal kronis. Ia berharap kisahnya dapat menjadi peringatan bagi generasi muda.

Kesimpulannya, kisah Edi Utomo mengingatkan bahwa kondisi kesehatan tidak selalu terlihat dari luar. Gejala ringan seperti meriang dan kelelahan dapat menjadi sinyal awal masalah serius. Pemeriksaan rutin dan perubahan pola hidup dapat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

gagal ginjal kroniscuci darahgejala merianghipertensipola makan mi instanpemeriksaan dinigaya hidup sehat

Komentar

Memuat komentar...