Wonogiri Resmi Jadi Ibu Kota Mie Ayam Bakso Indonesia
Gambar atau konten salah?
Mie ayam khas Wonogiri punya cerita yang panjang. Bukan cuma soal rasa, tapi juga tentang perpaduan budaya, perjuangan para perantau, dan sebuah festival yang baru saja mencatat rekor.
Hidangan ini sudah jadi favorit banyak orang di Indonesia. Tapi, di balik semangkuk mie ayam yang khas dari Wonogiri, Jawa Tengah, ada sejarah akulturasi budaya yang menarik. Belum lama ini, Kabupaten Wonogiri juga ramai diperbincangkan setelah resmi menyatakan diri sebagai Ibu Kota Mie Ayam Bakso Indonesia. Penetapan ini sekaligus mengingatkan kembali perjalanan mie ayam sebagai makanan yang sudah menjadi ciri khas daerah.
Berawal dari Perpaduan Budaya Tionghoa
Mie ayam sebenarnya punya akar dari tradisi kuliner Tionghoa. Menurut informasi dari Good News From Indonesia pada 12 September 2024, hidangan ini berkembang melalui perpaduan dengan budaya Indonesia sejak abad ke-19. Sekitar tahun 1870, banyak warga Tionghoa datang dan menetap di Pulau Jawa. Mereka membawa kebiasaan membuat bakmi yang kemudian menyesuaikan dengan selera lokal.
Di China, bakmi biasanya menggunakan daging dan minyak babi. Di Indonesia, isiannya diganti dengan ayam yang dibumbui kecap dan minyak ayam. Ini membuatnya lebih diterima oleh masyarakat. Istilah bakmi awalnya juga selalu dikaitkan dengan minyak babi. Namun sekarang, penyebutannya punya arti yang lebih luas dan sering dipakai untuk menyebut mie ayam.
Meskipun berasal dari tradisi Tionghoa, mie ayam Indonesia punya rasa yang berbeda. Bumbunya lebih kaya sehingga lahirlah sebagai makanan khas Nusantara.
Ciri Khas Mie Ayam Wonogiri
Di berbagai daerah, mie ayam hadir dengan karakter yang berbeda. Salah satu yang paling terkenal adalah mie ayam khas Wonogiri. Seporsinya berisi mie rebus, ayam semur, sawi, daun bawang, bakso, dan pangsit. Penyajiannya bisa kering atau dengan kuah hangat di sampingnya.
Rahasia rasanya ada pada racikan khas minyak ayam. Campurannya memakai minyak sayur, kulit ayam, jahe, lada, ketumbar, dan bawang putih. Rasa gurih yang berpadu dengan sedikit manis membuatnya mudah dikenali. Tekstur mienya juga kenyal, jadi banyak orang menyukainya.
Tidak heran mie ayam Wonogiri mudah ditemukan di berbagai kota. Rasanya tetap konsisten meskipun dijual oleh para perantau.
Peran Perantau Menyebarkan Mie Ayam Wonogiri
Kesuksesan mie ayam Wonogiri tidak lepas dari peran para perantau. Banyak warga Wonogiri yang bekerja di warung mie ayam Jakarta pada tahun 1980-an. Di sana mereka belajar meracik mie hingga mengelola usaha. Pengalaman itu menjadi bekal saat mereka membuka usaha sendiri.
Krisis ekonomi tahun 1998 membuat banyak perantau pulang kampung. Mereka lalu mendirikan warung mie ayam di Wonogiri. Usaha itu berkembang pesat hingga menyebar ke berbagai daerah. Sekarang, penjual mie ayam Wonogiri mudah ditemui dari kota kecil hingga kota besar. Bisnis ini ikut meningkatkan ekonomi keluarga para perantau. Nama Wonogiri pun makin dikenal lewat semangkuk mie ayam.
Festival Mie Ayam Bakso dan Rekor MURI
Pada 3 Juli 2026 hingga 4 Juli 2026, Wonogiri menggelar Festival Mie Ayam Bakso. Acara ini sekaligus mendeklarasikan Wonogiri sebagai ibu kota mie ayam dan bakso. Acaranya berlangsung di Alun-alun Giri Krida Bakti.
Puncaknya, panitia membagikan 5.555 porsi mie ayam gratis. Aksi ini memecahkan Rekor MURI, seperti yang dikutip dari Ruang.id pada 5 Juni 2026. Festival ini menjadi bukti identitas kuliner Wonogiri. Pemerintah ingin mengangkat daerah ini sebagai asal para perantau mie ayam.
Bupati Setyo Sukarno mengatakan mie ayam dan bakso sudah melekat dengan Wonogiri. Makanan itu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Wonogiri. Festival ini diharapkan menjadi ajang promosi daerah. Festival ini melibatkan lebih dari 50 stan mie ayam legendaris. Belasan UMKM lokal juga ikut meramaikan acara.
Kegiatan ini digelar bersama APJI dan Bogasari. Tujuannya memperkuat UMKM sekaligus ekonomi kreatif Wonogiri. Pemerintah daerah juga berharap festival ini menjadi agenda tahunan agar mie ayam Wonogiri makin dikenal di tingkat nasional.
Sejarah mie ayam Wonogiri menunjukkan bagaimana makanan bisa menjadi jembatan antara budaya dan menjadi sumber penghidupan. Dari akulturasi Tionghoa, perjuangan para perantau, hingga pengakuan resmi sebagai Ibu Kota Mie Ayam Bakso Indonesia, semuanya terjalin dalam satu mangkuk mie yang sederhana.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
HiFruit Bagikan 20 Ribu Sampel Gratis di Prambanan Jazz 2026
Neymar Pensiun dari Timnas Usai Kalah Piala Dunia, Kena Gugatan Koki
Bisnis Ayam Goreng Irwan Hidayat Berawal dari Hobi
Rahang Tuna Bakar Sadaap Max, Menu Andalan Pekerja Kantoran
Ube Jadi Bintang Baru Minuman Kekinian di Cirebon
4 Makanan Tapioka Indonesia Masuk 10 Besar Dunia
Berita Terbaru
Wonogiri Resmi Jadi Ibu Kota Mie Ayam Bakso Indonesia
HiFruit Bagikan 20 Ribu Sampel Gratis di Prambanan Jazz 2026
Suara Harry Kane Hilang Usai Teriak di Laga Inggris vs Meksiko
Neymar Pamit, Brasil Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Singapura Dakwa Dua Orang atas Penyelundupan Server AI ke China
Indonesia Tertinggal dari 5 Negara Tetangga Usai Kenaikan Status Ekonomi