MSG Bukan Racun, Kadar Natriumnya Cuma 12 Persen

Kartika D. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
MSG Bukan Racun, Kadar Natriumnya Cuma 12 Persen

Gambar atau konten salah?

Selama bertahun-tahun, MSG selalu jadi sasaran empuk. Tuduhannya macam-macam: bikin bodoh, bikin darah tinggi, bahkan disebut sebagai racun. Padahal, menurut data dari FDA dan WHO, kandungan natrium dalam MSG cuma 12 persen. Bandingkan dengan garam dapur yang mencapai 40 persen. Ironisnya, ancaman kesehatan yang sebenarnya justru datang dari konsumsi gula dan garam yang berlebihan.

PT Sasa Inti menggelar acara di Alun-Alun Surabaya, Selasa, 30 Juni 2026. Acara bertajuk Press Conference Sasa #MSGYangBenar, "MSG: Satu Sendok, Sejuta Mitos". Lewat kampanye ini, Sasa ingin meluruskan anggapan miring tentang MSG. Mereka menegaskan bahwa #MSGYangBenar itu sehat dan lezat. Bahkan, bisa jadi solusi cerdas untuk mengurangi asupan gula dan garam.

Ada riset dari Journal of Food Science yang menarik. Penggunaan MSG bisa memangkas kebutuhan garam hingga 30 persen. Tanpa merusak rasa makanan. Artinya, penyedap rasa dari fermentasi tebu ini bisa jadi teman diet rendah garam. Tapi tetap enak.

Acara ini menghadirkan beberapa narasumber. Albert Dinata sebagai Head of Marketing PT Sasa Inti. Reisa Broto Asmoro sebagai Health Expert. Mochamad Rizal, S.Gz, MS, Dietisien sebagai Nutrisionis. Chef Martin Praja. Dan ikon kuliner legendaris Surabaya, Bu Rudy.

Dalam sesi talkshow, Reisa Broto Asmoro bicara tegas. Belum ada bukti ilmiah yang menyebut MSG berbahaya. Apalagi sampai mengganggu fungsi otak. "Secara klinis, sebenarnya tidak ada studi klinis yang mendukung hal itu. Dengan dosis dan takaran yang tepat, itu pasti aman. Karena kalau misalnya kita makan yang berlebihan, rasanya makanan itu juga nggak enak," kata Reisa.

Anggapan buruk tentang MSG ternyata tidak cuma di Indonesia. Di seluruh dunia juga sama. "Itu sebenarnya salah satu mitos yang paling banyak beredar dan paling banyak dipercayai. Dan MSG ini sering dianggap sebagai racun, sesuatu yang membahayakan," ujarnya.

Reisa menjelaskan, bahan yang ada di MSG sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Natrium ada di garam. Glutamat atau asam amino ada di setiap makanan berprotein. Tomat, misalnya. Bahkan, glutamat juga ada di ASI. "Sampai tahu nggak sih glutamat kita bisa temui di mana? ASI. Jadi kita sebenarnya sudah terbiasa sama rasa gurihnya dari si glutamat itu. Dan memang kalaupun yang dibuat ya MSG dalam pabrik, kemudian dibandingkan dengan MSG di makanan-makanan yang ada di dalam, badan kita nggak bisa bedain, ini dari glutamat apa? Glutamat yang tadi dari pabrik, atau yang dari tomat, misalnya," jelasnya.

Nutrisionis Rizal menambahkan, proses pembuatan MSG mirip dengan tape atau tempe. Lewat fermentasi. Ada bantuan bakteri. MSG diproduksi dari bahan nabati seperti tebu atau singkong. Kandungan natrium garam sekitar 40 persen. Sedangkan MSG cuma 12 persen. "Jadi sepertiga kali lebih kecil daripada garam biasa. Dan itu memberikan rasa gurih yang sama dengan garam atau bahkan lebih tahan lama," kata Rizal.

Sebagai ahli gizi, Rizal mengingatkan soal porsi. Baik garam maupun MSG. Untuk garam, maksimal satu hari satu sendok teh.

Albert Dinata, Head of Marketing PT Sasa Inti, bilang acara ini adalah presscon kedua. Sebelumnya digelar di Jakarta pada September lalu. Surabaya dipilih karena terkenal sebagai kota kuliner. "Di sini orang-orangnya suka sesuatu yang gurih dan kalau masak tuh bisa masak yang medok. Jadi, itu sebagai salah satu barometer kuliner nusantara juga. Sasa kan melezatkan kita pengin masakan tuh gurih dan melezatkan. Jadi, kita pilih kota kuliner yang yang cukup banyak kuliner-kuliner terkenal dan ikonik juga," kata Albert.

Soal mitos dan fakta, Albert menyampaikan bahwa para narasumber sudah menjelaskan banyak hal. Mulai dari MSG membuat tidak cerdas, darah tinggi, kanker, dan lainnya. "Sebenarnya kan tadi sudah dijelaskan juga sama Reisa, Rizal sebenarnya pemakaian MSG dengan takaran yang pas dan takaran yang sesuai itu sangat aman. Karena kan MSG ini dibuat dari tetes tebu. Jadi, kayak fermentasi tetes tebu semuanya original dan natural," jelasnya.

Proses pembuatan MSG sama seperti tempe, kecap manis, yogurt. Bahkan, glutamat ada di makanan sehari-hari. "Kayak contoh ikan. Kalau ikan segar itu glutamatnya kandungannya tinggi banget. Terus ada tomat. Dan tadi yang paling mungkin eh yang cukup mitos yang cukup ini, ternyata di ASI pun mengandung glutamat. Jadi, sebenarnya manusia dan ini tuh udah biasa untuk konsumsi glutamat sebenarnya gitu. Dan tadi kan gampang ya ada takaran pas itu sekitar 120 mg per kilogram berat badan. Jadi, misalnya berat badan 60 berarti kan 120 kurang lebih sekarang 7,2 g. Nah, itu kalau di secara ininya paling sekitar satu sendok teh sebenarnya. Jadi, tadi kan dr. Reisa juga bilang satu hari satu sendok teh itu aman banget dan itu sesuai dengan anjuran," urainya.

Bu Rudy juga angkat bicara. Ia mengajak masyarakat tidak khawatir dengan MSG. Dokter dan ahli gizi sudah bilang tidak berbahaya. Ia sendiri akan menggunakan MSG dari Sasa untuk masakannya. "Kalau menurut saya, sudah jelas seperti ini, nggak perlu ragu, nanti ibu praktikkan sendiri di rumah bagaimana biasanya mungkin nggak pakai Sasa, setelah dijelaskan pakai ini, kok tambah gurih. Saya juga mau coba masakanku pakai Sasa, mungkin lebih gurih dan lebih ramai," ujar Bu Rudy.

Acara kampanye Sasa #MSGYangBenar ini tidak cuma talkshow. Ada juga booth stall sayur dan stall protein. Pengunjung bisa mencicipi nasi goreng biasa dengan bumbu garam dan gula. Juga nasi goreng dengan bumbu gula, garam, dan MSG Sasa. Setelah itu, ada X-Ray Experience untuk melihat efek gula garam berlebih atau gula garam MSG yang seimbang. Lalu ada booth 'Mana Masakan yang Benar?'

Di booth terakhir, Chef Martin Praja membuat nasi goreng Serodja bersama Bu Rudy. Kolaborasi dengan sambal andalan Bu Rudy. Aroma nasi goreng pakai MSG Sasa bikin semua orang ngiler. Publik figur Anissa Azizah ikut membantu plating makanan. "Aku percaya nih, kalau Sasa MSG itu, pastinya menggunakan bahan yang alami, dari tetes tebu tadi ya, yang difermentasi, lalu dikristalisasi. Dan ini menghasilkan cita rasa makanan yang lezat untuk kita," pungkas Chef Martin.

Pada akhirnya, mitos tentang MSG yang sudah mengakar bertahun-tahun perlahan mulai terbantahkan. Data ilmiah menunjukkan kadar natrium MSG jauh lebih rendah dari garam. Bahkan, MSG bisa membantu mengurangi konsumsi garam tanpa mengorbankan rasa. Selama digunakan dalam takaran yang wajar — sekitar satu sendok teh per hari — MSG aman dikonsumsi. Yang perlu diwaspadai justru gula dan garam berlebih, yang sudah terbukti menjadi pemicu berbagai penyakit kronis.

MSGmitosgaramkesehatanSasaglutamatSurabaya

Komentar

Memuat komentar...