7 Jenis Daging Ekstrem yang Dikonsumsi di Berbagai Dunia
Gambar atau konten salah?
Di luar ayam, sapi, atau ikan yang biasa kita temui sehari-hari, ternyata ada beberapa jenis daging yang jauh lebih tidak biasa. Bahkan, bisa dibilang ekstrem. Mulai dari kanguru hingga beruang hitam, beberapa hewan liar ini justru menjadi santapan khas di berbagai belahan dunia. Penasaran?
Bagi kebanyakan orang Indonesia, sumber protein hewani memang identik dengan ayam, sapi, kambing, atau ikan. Tapi di negara lain, ada tradisi kuliner yang memanfaatkan satwa liar dan hewan yang jarang terpikirkan untuk dijadikan hidangan. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun.
Hewan-hewan seperti buaya, kanguru, marmut, hingga kelelawar punya cita rasa dan cara masak yang berbeda-beda. Semua tergantung budaya setempat. Meski kedengarannya ekstrem, konsumsi daging-daging ini masih menjadi bagian dari kebiasaan makan di beberapa wilayah dunia.
Di balik keunikannya, ada risiko kesehatan yang mengintai. Sebagian daging bisa membawa parasit. Sebagian lainnya berisiko menularkan penyakit zoonosis—penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia—kalau tidak ditangani dan dimasak dengan benar.
Berikut tujuh jenis daging ekstrem yang dikonsumsi di dunia, berdasarkan laporan dari Taste Atlas pada 09 Juli 2026:
1. Landak
Di beberapa negara Asia dan Afrika, seperti Vietnam dan Ghana, daging landak dikonsumsi. Bahkan di Amerika Serikat pun ada, meski dalam lingkup terbatas. Teksturnya disebut mirip daging babi, dengan rasa gurih.
Tapi jangan salah. Daging landak tidak sepenuhnya aman. Hewan ini diberi label zoonotic disease risk. Artinya, berpotensi membawa penyakit yang bisa menular ke manusia jika tidak ditangani secara higienis.
2. Buaya
Daging buaya cukup populer di Australia, Thailand, dan beberapa negara Afrika. Rasanya sering dibandingkan dengan perpaduan ayam dan ikan. Teksturnya cenderung kenyal.
Meski dianggap sebagai daging eksotis yang kaya protein dan rendah lemak, buaya juga punya potensi membawa penyakit zoonosis. Kuncinya: harus dimasak hingga matang sempurna.
3. Iguana
Di kawasan Karibia, Amerika Tengah, dan beberapa negara Amerika Selatan, iguana sudah lama menjadi bahan pangan tradisional. Dagingnya lembut. Saking lembutnya, hewan ini dijuluki "ayam dari pepohonan".
Tapi iguana yang hidup di alam liar tidak sepenuhnya aman. Taste Atlas memberi label bahwa hewan ini berpotensi membawa penyakit zoonosis. Lagi-lagi, harus dimasak hingga matang sempurna.
4. Zebra
Berbeda dengan kuda, daging zebra dikonsumsi secara terbatas di beberapa wilayah Afrika Selatan. Dagingnya rendah lemak. Rasanya sedikit manis.
Alih-alih risiko penyakit zoonosis, zebra diberi label parasite risk. Artinya, daging ini berpotensi mengandung parasit kalau proses penyembelihan atau pengolahannya tidak memenuhi standar keamanan pangan.
5. Kanguru
Australia dikenal cukup luas mengonsumsi daging kanguru. Daging ini rendah lemak, tinggi protein, dan kaya zat besi. Cukup diminati sebagai alternatif daging merah.
Meski begitu, daging kanguru juga dilabeli parasite risk. Pengolahan yang higienis tetap jadi syarat utama sebelum dikonsumsi. Tujuannya untuk meminimalisir risiko parasit dari daging hewan tersebut.
6. Ular Derik
Di beberapa wilayah Amerika Serikat dan Meksiko, daging ular derik cukup dikenal. Rasanya sering dibandingkan dengan ayam atau katak.
Karena berasal dari satwa liar, ular derik punya potensi membawa penyakit zoonosis. Jadi harus dimasak hingga benar-benar matang.
7. Beruang Hitam
Daging beruang hitam dikonsumsi secara terbatas di Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Perburuannya legal di wilayah tertentu. Tapi beruang hitam adalah predator buas. Cara berburu yang salah bisa membahayakan manusia.
Daging beruang hitam diberi label parasite risk oleh Taste Atlas. Salah satu alasan utamanya adalah kemungkinan adanya parasit yang hanya bisa dimatikan melalui pemasakan dengan suhu yang cukup tinggi.
Dari ketujuh jenis daging ekstrem ini, semuanya punya risiko masing-masing. Ada yang berpotensi membawa penyakit zoonosis, ada juga yang berisiko mengandung parasit. Kuncinya ada pada cara penanganan dan pemasakan yang benar. Tanpa itu, daging-daging ini bisa menjadi sumber penyakit, bukan sekadar hidangan unik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
