JAPFA Pakai Ilmu untuk Dapat Pinjaman Hijau, Hasilnya Rp 5,6 Triliun

Wulan M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
JAPFA Pakai Ilmu untuk Dapat Pinjaman Hijau, Hasilnya Rp 5,6 Triliun

Gambar atau konten salah?

Di sebuah konferensi di Bogor, ada cerita menarik tentang bagaimana perusahaan perunggasan terbesar di Indonesia mulai menggunakan ilmu pengetahuan untuk urusan keuangan. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, atau yang lebih dikenal dengan kode saham JAPFA, menjadi pembicara dalam sebuah panel yang judulnya 'Science-Based Sustainable Finance'. Panel ini bagian dari Konferensi Social Life Cycle Assessment (S-LCA) yang digelar di kota hujan tersebut.

Yang dibicarakan di sana cukup rumit, tapi intinya sederhana. JAPFA sudah melakukan kajian menyeluruh yang disebut Life Cycle Assessment (LCA). Kajian ini jadi semacam peta jalan buat perusahaan dalam mengakses berbagai macam pinjaman atau pendanaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Semua ini dilakukan untuk mendukung visi besar perusahaan, yaitu 'Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama'.

Dengan pendekatan seperti ini, JAPFA semakin diakui sebagai pelopor di sektor perunggasan Indonesia. Mereka serius dalam mengevaluasi dampak lingkungan dari ujung ke ujung rantai produksi. Bukan cuma omongan, tapi benar-benar diukur pakai metode ilmiah.

Sekarang ini, dunia keuangan global mulai berubah. Investor, orang-orang yang punya obligasi, dan bank-bank besar mulai memikirkan soal lingkungan dan sosial sebelum mereka memutuskan untuk menanamkan uang. Mereka tidak mau sembarangan. Mereka ingin pastikan bahwa proyek-proyek yang mereka biayai benar-benar berdampak baik, bukan sekadar pencitraan.

Di sinilah metode berbasis sains seperti LCA menjadi penting. Metode ini memberikan dasar yang transparan dan bisa dipercaya. Perusahaan bisa menetapkan target-target keberlanjutan yang jelas, dan hasilnya bisa diukur dengan jujur. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

Panel diskusi di konferensi itu juga punya misi lain. Mereka mendorong para praktisi LCA yang hadir untuk membentuk semacam lembaga akreditasi profesi. Tujuannya, supaya hasil kajian yang mereka buat semakin dipercaya oleh komunitas keuangan dan semua pihak yang berkepentingan. Bayangkan, kalau ada sertifikasi resmi, pasti lebih mudah dipercaya.

Diskusi itu juga menyoroti betapa pentingnya data ilmiah yang akurat. Data ini dipakai untuk mengidentifikasi titik-titik panas lingkungan, atau yang biasa disebut environmental hotspots. Dengan tahu di mana masalahnya, perusahaan bisa menetapkan target-target perbaikan yang ambisius dan benar-benar relevan. Hasil dari kajian ini kemudian menjadi dasar untuk menyusun Sustainability Performance Targets, yang kemudian dimasukkan ke dalam instrumen pembiayaan berkelanjutan JAPFA.

"Membangun kredibilitas di mata investor ESG harus dimulai dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari bisnis, bukan sekadar inisiatif terpisah," kata Kevin Monteiro, Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd. Ia menyampaikan ini dalam sebuah keterangan tertulis pada Senin, 22 Juni 2026. "Hal ini berarti perusahaan perlu fokus pada aspek yang benar-benar material di sepanjang rantai nilai untuk mengidentifikasi area yang memiliki potensi perbaikan paling signifikan."

Kevin melanjutkan, "Salah satu cara paling kredibel untuk melakukannya adalah melalui pendekatan LCA berbasis sains." Jadi, intinya, kalau mau dipercaya investor yang peduli lingkungan, perusahaan harus serius pakai ilmu pengetahuan.

Pengalaman JAPFA dalam menggabungkan pendekatan ilmiah dengan strategi keuangan ternyata sudah membuahkan hasil nyata. Pada tahun 2021, perusahaan berhasil mendapatkan pendanaan lewat Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$ 350 juta. Ini adalah SLB pertama di dunia untuk sektor agrifood. Sebuah pencapaian yang cukup besar.

Kemudian, pada tahun 2025, mereka melanjutkannya dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 150 juta. Yang menarik, pinjaman ini untuk pertama kalinya memasukkan indikator sosial, atau Social KPI. Fokusnya adalah pada peningkatan status gizi dan kesejahteraan anak-anak, terutama di daerah pedesaan, lewat program yang disebut JAPFA for Kids.

Komitmen JAPFA terhadap keberlanjutan tidak main-main. Mereka punya sistem sendiri yang disebut Japfa Sustainability Reporting System (JSRS). Ini adalah ekosistem digital yang mengelola 5.095 titik data ESG (Environmental, Social and Governance) setiap bulan. Data ini diambil dari seluruh operasional perusahaan di berbagai negara. Banyak sekali, ya?

JAPFA juga tidak hanya sibuk dengan urusan internal. Mereka ikut berkontribusi dalam pengembangan standar industri global. Caranya, dengan berkolaborasi bersama United Nations Environment Programme (UNEP) dalam sebuah studi internasional. Studi ini membahas tentang mata pencaharian para peternak plasma. Hasil studi ini kemudian menjadi dasar untuk menyusun pedoman S-LCA untuk industri perunggasan global.

Berkat semua kerja keras ini, JAPFA berhasil masuk dalam daftar 'World's Best Companies 2025' versi majalah TIME dan Statista. Tidak berhenti di situ, mereka juga meraih penghargaan 'Best Sustainability-Linked Loan - Agriculture' pada tahun 2026.

Secara keseluruhan, kisah JAPFA ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren. Bagi mereka, ini adalah bagian dari strategi bisnis yang dijalankan dengan serius, menggunakan data dan ilmu pengetahuan sebagai landasan. Dari mulai mengukur dampak lingkungan hingga mendapatkan pinjaman dengan syarat-syarat sosial, semuanya dilakukan secara terintegrasi dan transparan.

JAPFAkeberlanjutanLCApendanaanilmiahESGperunggasan

Komentar

Memuat komentar...