Abah Nanu: Ganti Nama Jabar Tak Cukup, Nilai Sunda Harus Nyata
Gambar atau konten salah?
Wacana mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda kembali mencuat. Komisi I DPRD Jawa Barat telah memberikan lampu hijau untuk membawa usulan ini ke tahapan legislasi resmi. Perjuangan ini sudah berlangsung selama satu dekade.
Pro dan kontra bermunculan dari berbagai kalangan. Banyak yang mempertanyakan tujuan sebenarnya dari perubahan nama ini. Juga soal keberlanjutan setelah nama resmi berganti nanti.
Salah satu suara kritis datang dari Mas Nanu Munajar Dahlan, yang akrab disapa Abah Nanu. Ia adalah seniman dan pawang hujan asal Kabupaten Bandung Barat. Abah Nanu dikenal sebagai penggagas tradisi 'Rempug Tarung Adu Tomat' — perang tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang.
Menurut Abah Nanu, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar menunggu kapan perubahan nama itu disetujui. Ia menyoroti tujuan dari perubahan nama itu sendiri.
"Jangan hanya ingin tujuan politis, karena perubahan nama itu tanggungjawab moralnya besar sekali. Setelah penggantian nama, apa? Kalau tidak ada yang berubah, ya ngapain diubah, sudah saja tetap Jawa Barat," kata Abah Nanu pada Selasa, 07 Juli 2026.
Baginya, mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda bukan sekadar mengganti baju. Masyarakat di dalamnya — terutama mereka yang mengusulkan hingga menyetujui perubahan itu — harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai kasundaan.
"Bukan cuma ganti baju dan penampilan saja, tapi ini berkaitan erat sama nilai kebudayaan dan kasundaan itu sendiri. Harus dipahami Sunda itu apa, Kasundaan itu apa, jangan setelah ganti nama dibiarkan begitu saja," kata Abah Nanu.
Pandangan berbeda datang dari Triana Santika, tokoh pemuda Kampung Adat Cireundeu. Ia melihat perubahan nama ini sebagai momen untuk mengembalikan nama Pulau Jawa yang dulu dikenal sebagai Sunda Kecil.
"Intinya kan dari dulu itu sebetulnya nama Pulau Jawa itu Sunda Kecil, baru berubah kemudian jadi Pulau Jawa. Lalu dipecah-pecah lagi jadi Jawa Barat, Jawa Timur, Tengah, sekarang ada Banten, padahal dulu satu nama yaitu Sunda Kecil," kata Triana.
Triana tidak menjawab secara gamblang apakah ia setuju atau tidak dengan pergantian nama tersebut. Ia memahami bahwa selain unsur filosofis, ada kepentingan politis yang mendasari keinginan perubahan nama Jawa Barat menjadi Sunda.
"Saya enggak mau membahas terlalu jauh, terlalu politis. Cuma yang penting, kebijakan apapun yang diambil harus baik dan jangan merugikan masyarakat Sunda itu sendiri," kata Triana.
Perdebatan soal nama ini sebenarnya bukan hal baru. Selama satu dekade terakhir, wacana ini muncul dan tenggelam bergantian. Kini dengan lampu hijau dari Komisi I DPRD Jawa Barat, proses legislasi resmi akan segera dimulai. Namun pertanyaan mendasar tetap menggantung: apa yang akan berubah setelah nama berganti? Tanpa implementasi nilai-nilai kasundaan yang nyata, perubahan nama hanya akan menjadi simbol tanpa makna.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Lansia Kaki Putus Ditabrak Motor, Pengendara Kabur
5 Juta Suporter Padati Piala Dunia 2026, Ekonomi Terdongkrak
Hossam Hassan Murka: Wasit Curangi Mesir di Piala Dunia 2026
Perempat Final Piala Dunia 2026: Delapan Tim Siap Bertarung
Galaxy A37 5G Rilis, Harga Naik Tapi Spek Minim Ubah
Kasus Sifilis dan Gonore Melonjak, Banyak Obat Tak Lagi Ampuh
Aktivasi Rekening SimPel Syarat Wajib Cairkan Dana PIP
PKH Cair Juli 2026, Begini Cara Cek Penerima
Tiga Kebiasaan Sederhana Bantu Turunkan Tekanan Darah
Tuhan Tak Panggil Orang Sempurna, Hanya yang Bersedia
