Kasus Sifilis dan Gonore Melonjak, Banyak Obat Tak Lagi Ampuh

Sigit W. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kasus Sifilis dan Gonore Melonjak, Banyak Obat Tak Lagi Ampuh

Gambar atau konten salah?

Jakarta - Kementerian Kesehatan RI mencatat lonjakan kasus infeksi menular seksual di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Angkanya terus naik, dan yang mengkhawatirkan, banyak penderitanya berasal dari kalangan usia muda.

Data Kemenkes menunjukkan pada 2024 terdapat 23.347 kasus sifilis. Sebagian besar adalah sifilis dini, sebanyak 19.904 kasus. Ada juga 77 kasus sifilis kongenital, yaitu infeksi yang ditularkan dari ibu ke bayi saat kehamilan. Kasus gonore juga masih tinggi, mencapai 10.506 kasus. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-14 dunia untuk jumlah orang dengan HIV. Peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Pada 2025, diperkirakan ada sekitar 564.000 orang dengan HIV. Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui status HIV mereka.

Dari jumlah itu, 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral. Tapi hanya 55 persen yang berhasil mencapai viral load tersupresi. Itu kondisi ketika jumlah virus tidak terdeteksi, sehingga risiko penularannya sangat rendah.

Di balik lonjakan kasus, ada masalah lain yang tak kalah serius. Banyak obat yang dulu ampuh mengatasi IMS, kini sudah tidak efektif lagi.

"Obat-obatan yang dulu diberikan untuk gonore, sekarang banyak yang tidak mempan lagi. Semakin ke sini semakin banyak bakteri yang kebal," kata pakar seks dr Boyke Dian Nugraha, Senin (25 Juni 2025).

Menurut dr Boyke, dulu penanganan IMS seperti gonore cukup berhasil dengan penisilin atau kanamycin. Tapi sekarang, bakteri penyebab IMS sudah beradaptasi, bermutasi, dan menjadi lebih resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.

"Dulu kita pakai penisilin, efektif. Lalu beralih ke kanamycin, lalu ke golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacin. Tapi sekarang? Banyak yang sudah tidak mempan," ungkapnya.

Saat ini, antibiotik seperti penisilin dan sevixin sudah tidak lagi efektif secara luas. Beberapa golongan sefalosporin generasi lama juga mulai kehilangan efektivitasnya. Sepalosporin generasi baru masih bisa diandalkan, tetapi penggunaannya harus tepat dan disesuaikan berdasarkan hasil uji sensitivitas bakteri.

"Kalau pasien tidak kunjung sembuh, misalnya keluhan keluar nanah dari kemaluan terus-menerus, kita harus ambil sampel. Kemudian dikirim ke lab mikrobiologi untuk uji sensitivitas, untuk melihat antibiotik mana yang masih bisa melawan bakterinya," jelas dr Boyke.

Ia menyoroti resistensi ini banyak dipicu oleh pola penggunaan antibiotik yang sembarangan.

"Kuman itu pintar. Dikasih antibiotik, dia mutasi. Terus pasiennya berhubungan seks lagi, kena lagi, dikasih antibiotik yang sama, ya tidak mempan. Ini yang menyebabkan resistensi makin luas," jelasnya.

Penggunaan antibiotik tanpa resep atau mengandalkan obat yang biasa dipakai orang lain juga berperan mempercepat munculnya bakteri kebal.

dr Boyke menekankan generasi muda harus lebih sadar terhadap risiko dan konsekuensi dari perilaku seksual bebas tanpa perlindungan. Ia menyayangkan tren seks bebas seperti friends with benefits, one night stand, hingga praktik open BO semakin dianggap lumrah di kalangan remaja dan dewasa muda.

"Pendidikan seks itu harus disampaikan dengan jujur dan jelas. Bahwa seks bebas bukan cuma soal kehamilan, tapi bisa menyebabkan penyakit menular yang sulit disembuhkan. Bahkan bisa menyebabkan infertilitas, kanker mulut rahim, sampai HIV dan AIDS," tegasnya.

Infeksi menular seksual adalah infeksi atau penyakit yang dapat ditularkan melalui berbagai bentuk aktivitas seksual yang melibatkan mulut, anus, vagina, atau penis. Istilah lain yang juga sering digunakan adalah penyakit menular seksual.

Dr dr Hanny Nilasari dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM turut menyoroti perlunya edukasi kesehatan reproduksi yang menyeluruh. Menurutnya, IMS dan infeksi saluran reproduksi sering kali tidak bergejala, terutama pada perempuan, sehingga kerap terlambat ditangani.

IMS sering kali tidak bergejala. Namun, pada sebagian pasien, kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti:

  • luka atau lenting di area kelamin
  • cairan abnormal dari vagina atau penis
  • gatal atau nyeri saat buang air kecil
  • pembengkakan kelenjar di lipat paha
  • ruam di kulit

Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual (oral, vaginal, anal), pertukaran cairan tubuh, hingga dari ibu ke anak saat kehamilan atau menyusui.

Jika tidak ditangani dengan tepat, IMS bisa menyebabkan komplikasi seperti radang panggul, kehamilan ektopik, bahkan infertilitas. Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan IMS juga berisiko mengalami kematian neonatal, berat lahir rendah, atau lahir prematur.

dr Hanny menegaskan pentingnya skrining rutin dan perilaku seksual yang aman. "Tren kejadian IMS dari tahun ke tahun terus meningkat, dan usia pengidap makin muda. Sudah banyak kasus IMS maupun kehamilan tidak diinginkan pada remaja, dan ini mendorong tingginya angka aborsi," jelas dr Hanny.

Ada berbagai jenis infeksi menular seksual. Beberapa yang paling umum meliputi:

  • Klamidia
  • Herpes genital
  • Kutil kelamin
  • Gonore (kencing nanah)
  • Hepatitis B
  • HIV-AIDS
  • Infeksi human papillomavirus (HPV)
  • Sifilis
  • Trikomoniasis
  • Vaginitis

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko tertular infeksi menular seksual, di antaranya:

  1. Menghindari aktivitas seksual
    Cara paling efektif untuk mencegah IMS adalah tidak melakukan hubungan seksual.
  2. Setia pada satu pasangan yang tidak terinfeksi
    Menjalani hubungan monogami jangka panjang dengan pasangan yang telah dipastikan tidak mengidap IMS dapat mengurangi risiko penularan.
  3. Melakukan tes IMS sebelum berhubungan seksual dengan pasangan baru
    Sebaiknya hindari hubungan seksual vaginal maupun anal hingga kedua belah pihak telah menjalani pemeriksaan IMS. Meski seks oral memiliki risiko yang lebih rendah, penularan IMS tetap dapat terjadi jika tidak menggunakan kondom atau dental dam.
  4. Mendapatkan vaksinasi
    Vaksin dapat membantu mencegah beberapa jenis IMS, seperti yang disebabkan oleh HPV, serta infeksi hepatitis A dan hepatitis B.
  5. Menggunakan kondom atau dental dam secara benar dan konsisten
    Gunakan kondom atau dental dam baru setiap kali melakukan hubungan seksual, baik oral, vaginal, maupun anal. Hindari penggunaan pelumas berbahan dasar minyak pada kondom lateks karena dapat merusaknya. Perlu diketahui, kondom tidak memberikan perlindungan sepenuhnya terhadap IMS yang menular melalui kontak kulit, seperti HPV atau herpes.
  6. Memahami bahwa alat kontrasepsi bukan pelindung IMS
    Pil KB, suntik KB, implan, maupun alat kontrasepsi dalam rahim dapat mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari penularan IMS.
  7. Menghindari konsumsi alkohol berlebihan dan narkoba
    Pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan perilaku seksual berisiko.
  8. Berkomunikasi dengan pasangan
    Diskusikan riwayat kesehatan seksual dan praktik seks yang lebih aman sebelum melakukan hubungan seksual.
  9. Mempertimbangkan sunat pada pria
    Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sirkumsisi dapat membantu menurunkan risiko penularan HIV dari pasangan perempuan yang hidup dengan HIV, serta mengurangi risiko infeksi HPV dan herpes genital pada pria.
  10. Menggunakan profilaksis prapajanan (PrEP) bagi yang berisiko tinggi
    Bagi individu dengan risiko tinggi terpapar HIV, dokter dapat merekomendasikan penggunaan pre-exposure prophylaxis (PrEP), yaitu obat yang diminum setiap hari untuk membantu menurunkan risiko infeksi HIV. Penggunaan PrEP harus sesuai resep dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Intinya, masalah resistensi antibiotik pada IMS bukan sekadar soal obat yang tidak mempan. Ini soal pola penggunaan antibiotik yang sembarangan dan perilaku seksual yang tidak aman. Keduanya saling terkait dan memperparah situasi. Tanpa perubahan perilaku dan edukasi yang lebih baik, angka IMS dan kasus kebal obat akan terus naik.

lonjakan kasus IMSresistensi antibiotiksifilisgonoreHIV/AIDSpendidikan seksusia mudapenggunaan antibiotik sembarangan

Komentar

Memuat komentar...