Aisah, Mantan Buruh, Camilan Betawi Kini Bergelet di Mal

Nita W. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Aisah, Mantan Buruh, Camilan Betawi Kini Bergelet di Mal

Gambar atau konten salah?

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan pada 01 Januari 2018. Pada saat itu, ia masih bekerja di pabrik spidol, dan hanya menjual keripik pedas. Ia membawa keripik ke pabrik, menawarkannya kepada teman, lalu menitipkan di warung. Dari penjualan itu, ia bisa memperoleh Rp 1–2 juta per bulan.

Usahanya tidak bertahan lama. Banyak warung tutup, dan penjualan keripik menurun drastis di masa pandemi COVID‑19. Alih‑alih menyerah, Aisah mengubah fokus bisnisnya menjadi jajanan khas Betawi. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik.

“Saya kerja di pabrik dari zamannya presiden sebelum Gus Dur. Kata saya udahlah fokus usaha aja. Udah lama juga,” ujarnya.

Dengan modal keberanian, Aisah memulai usaha secara serius pada 01 Januari 2020. Ia bergabung dengan Jakpreneur dan mengikuti Bimtek pembuatan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Awalnya ia menggunakan nama usaha Camilan 19, namun dianggap terlalu umum. Setelah diberi saran, ia memilih nama Betawi Punya Gaye, yang kini menjadi merek dagangnya.

Nama tersebut menginspirasi Aisah untuk membuat camilan yang mencerminkan budaya Betawi, seperti kembang goyang dan biji ketapang. Ia belajar resep secara autodidak hingga menemukan rasa yang tepat. “Sebenernya saya udah punya basic bikin usaha ini. Waktu kecil tuh sering bantu orang tua bikin kue. Jadi kenapa nggak jualan aja dari dulu gitu kan daripada kerja,” jelasnya.

Setelah beberapa tahun usaha berjalan, pasar masih terbuka, namun konsumen tetap stagnan. Pada 01 Januari 2023, Aisah bergabung dengan pelatihan Rumah BUMN BRI. Di sana, ia memperoleh ilmu tentang pemasaran dasar, desain kemasan, dan manajemen usaha. Ia juga belajar tentang branding produk, branding diri, dan keuangan.

“Pertama kali ikut pelatihan Rumah BUMN BRI itu tentang branding, branding produk dan branding diri. Terus ada juga pelatihan keuangan,” ungkap Aisah.

Selain teori, Aisah diperkenalkan dengan LinkUMKM BRI, sebuah platform e‑commerce internal bagi UMKM. Melalui LinkUMKM, ia dapat memajang produk. Ia pernah menerima pesanan dari orang yang mengetahui nomornya melalui platform tersebut, sehingga produk dapat dikirim ke Bogor dan Bandung.

“Lewat LinkUMKM itu kita bisa pajang produk kita. Saya pernah dapat orderan orang yang tahu nomor saya dari sana, sampai bisa kirim produk ke Bogor ke Bandung,” tambahnya.

Pelatihan Rumah BUMN BRI juga membuka peluang bagi Aisah untuk berpartisipasi dalam pameran gratis. Ia diundang ke pameran di Bandara Soekarno‑Hatta, Stadion Pakansari Bogor, dan Expo Food. Ia merasakan manfaat besar dari acara tersebut, karena dapat meningkatkan pendapatan UMKM.

“Saya diajak ikut pameran di Bandara Soekarno‑Hatta dari BRI. Terus di Stadion Pakansari Bogor, sampai dapat kesempatan di Expo Food juga. Enak sebenarnya di sini, bisa mendatangkan banyak income buat UMKM,” terangnya.

Tim fasilitator Rumah BUMN BRI juga membantu memperbaiki ide bisnis dan memfasilitasi desain foto produk agar lebih menarik. Selain itu, BRI mendorong Aisah untuk melakukan digitalisasi. Ia mengadopsi sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS BRI, serta memanfaatkan fitur pencatatan keuangan di BRImo.

“Udah gitu pemakaian QRIS, transfer itu cepat, mudahkan konsumen juga. Aslinya potonganny sedikit banget. Terus di BRImo itu ada fitur pencatatan keuangan, jadi uang masuk sekian semua tercatat,” jelasnya.

Dengan dukungan tersebut, Betawi Punya Gaye semakin dikenal. Penjualan kembang goyang dan biji ketapang meningkat, dan produk akhirnya masuk ke pasar modern dan mal-mal di Jakarta. Produk Aisah kini tersedia di Sarinah, Central Park, Mal Kota Kasablanka, Mal Tangerang City, serta enam gerai Transmart di Jakarta.

Keberhasilan ini berkat keberanian Aisah mengetuk pintu manajemen ritel. Ia selalu memandang etalase toko saat berjalan ke mal, mengucapkan doa, dan berharap produk bisa masuk. “Saya kalau jalan-jalan ke mal ceritanya suka melihat produk orang banyak dipajang. Dalam hati saya bilang, aduh kayanya enak kali ya kalau punya produk bisa masuk kes ini, dilihat orang banyak. Udah begitu aja setiap ke mal,” tutur Aisah.

Doa dan tekad tersebut akhirnya terjawab. Ia berhasil menemui manajer ritel dan menawarkan produk secara langsung. “Saya menawarkan sendiri. Alhamdulillah waktu itu ketemunya sama atasannya, bisa dibilang manajernya. Jadi yang emang udah rezeki kali ye, jawaban doa saya sekian tahun kayanya. Alhamdulillah dijawab lah doanya,” ungkapnya.

Pasar modern memberi dampak signifikan pada penjualan, meski masih menggunakan sistem bagi hasil. Produk kini menghasilkan omzet kompetitif. “Kalau keseluruhan dari sana, omzetnya bisa Rp 7–8 juta per bulannya, masih dibawah Rp 10 juta,” ungkapnya.

Dengan omzet jutaan rupiah di mal-mal besar, Aisah membuktikan bahwa camilan jadul buatan mantan buruh pabrik dapat naik kelas dan bersaing di pusat perbelanjaan elit ibu kota.

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengonfirmasi bahwa Betawi Punya Gaye adalah UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Ia menegaskan bahwa Rumah BUMN BRI menjadi rumah bagi UMKM naik kelas. Hingga 01 Januari 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 UMKM aktif mengikuti program pelatihan dan pendampingan, termasuk Betawi Punya Gaye.

Kelas pelatihan terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Kelas Go Digital bertujuan mendorong UMKM siap menguasai pasar global, namun fokus utama saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi. “Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi,” jelasnya.

Jajang menegaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan gratis, membantu UMKM dari awal hingga naik kelas. “Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam‑macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Betawi Punya Gaye menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh melalui pelatihan, digitalisasi, dan akses pasar modern. Keberhasilan Aisah menegaskan pentingnya dukungan lembaga seperti Rumah BUMN BRI, yang menyediakan pelatihan, platform e‑commerce, dan fasilitas pembayaran nontunai. Dengan strategi ini, camilan tradisional Betawi tidak hanya bertahan, tetapi juga bersaing di pasar ritel elit.

AisahBetawi Punya GayeUMKMRumah BUMN BRIdigitalisasiQRISLinkUMKM

Komentar

Memuat komentar...