Alaska Air PHK 200 Karyawan, Harga BBM Jadi Biang Kerok
Gambar atau konten salah?
Alaska Air Group, maskapai asal Amerika Serikat, mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 200 posisi karyawan non-kontrak. Langkah ini diambil di tengah tekanan finansial yang memburuk. Karyawan yang terdampak akan menjalani hari kerja terakhir pada 13 November 2026.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Lonjakan harga avtur dan tantangan geopolitik menjadi biang kerok utama. Dalam memo internal, CEO Ben Minicucci memperingatkan potensi kerugian besar. "Kita harus kembali pada disiplin keuangan yang telah lama menjadi keunggulan kompetitif utama. Biaya operasional telah meningkat dengan laju yang tidak proporsional dibandingkan dengan pendapatan," tegasnya.
Angka kerugiannya mencengangkan. Perusahaan bisa mencatatkan kerugian hingga US$ 700 juta tahun ini jika kondisi saat ini terus berlanjut. Jika benar terjadi, ini akan menjadi kerugian sebelum pajak pertama di luar periode pandemi sejak 2003. Sebuah catatan kelam bagi maskapai yang selama ini relatif stabil.
Juru bicara perusahaan menjelaskan, pemangkasan ini hanya berdampak pada kurang dari 1% dari total sekitar 32.500 karyawan. Rinciannya, 125 posisi di negara bagian Washington dan 48 posisi di Hawaii. Namun, perusahaan memastikan tidak ada pengurangan bagi karyawan lini depan non-manajemen. Mereka yang terkena dampak tetap akan menerima gaji hingga 31 Desember, plus pesangon dan dukungan lainnya.
Pekan lalu, Alaska Air memperkirakan kerugian yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar US$ 5 hingga US$ 5,50 per saham. Penyebab utamanya? Biaya bahan bakar tambahan sebesar US$ 1,8 miliar dibandingkan rencana tahunan awal. Angka ini bukan main-main. Perusahaan memproyeksikan biaya bahan bakar pada kuartal IV berada di kisaran US$ 4,65 hingga US$ 4,85 per galon. Hampir dua kali lipat dari asumsi awal sebesar US$ 2,50 per galon untuk 2026.
Langkah pemangkasan ini menunjukkan betapa ganasnya tekanan biaya operasional di industri penerbangan. Lonjakan harga avtur yang tak terduga memaksa perusahaan mengambil tindakan drastis. Meski jumlah karyawan yang terdampak relatif kecil, sinyalnya jelas: efisiensi menjadi prioritas utama. Alaska Air berusaha menghindari kerugian besar dengan memotong biaya dari sisi tenaga kerja, sambil tetap melindungi karyawan lapangan yang menjadi ujung tombak pelayanan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Tiga BUMN Teken MoU Ekosistem Motor Listrik
SEFAS Group Resmi Kuasai Seluruh SPBU Shell di Indonesia
Laba Exxon Melonjak Akibat Krisis Energi Global
Menteri ESDM: Tambang Wajib Pulihkan Lingkungan
Jepang Pangkas Subsidi BBM Mulai Desember
Warga Dawuhan Tukar Minyak Bekas Jadi Uang Tunai
Pertamina Tak Ubah Harga BBM Nonsubsidi per November
Singapura Bantah Tuduhan Bahlil Soal Ekspor Ulang LNG
Harga BBM November 2026: Tidak Ada Perubahan
Singapura Setuju Impor Listrik 1,3 GW dari Vietnam via Malaysia
