Laba Exxon Melonjak Akibat Krisis Energi Global

Nita W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Laba Exxon Melonjak Akibat Krisis Energi Global

Gambar atau konten salah?

Perusahaan minyak dan gas raksasa asal Amerika Serikat, ExxonMobil, mencatat lonjakan laba yang cukup besar di tengah gejolak harga bahan bakar global. Situasi ini terjadi saat ketegangan antara AS dengan Iran, konflik di Teluk Persia, dan perang Rusia-Ukraina mengguncang pasar energi dunia.

Sepanjang kuartal ketiga tahun 2026, pendapatan Exxon dari sektor hulu migas yang sudah disesuaikan mencapai US$ 7,3 miliar, atau sekitar Rp 132,47 triliun (dengan kurs Rp 18.147 per dolar AS). Angka ini turun 20% dibandingkan kuartal sebelumnya. Penyebabnya adalah harga minyak mentah Brent, yang sering dijadikan patokan, lebih rendah dari tiga bulan sebelumnya.

Namun, memanasnya pertempuran di kawasan Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina justru menguntungkan Exxon. Gangguan pada kapasitas produksi bahan bakar menyebabkan kekurangan pasokan diesel global. Akibatnya, pendapatan dari sektor hilir yang disesuaikan melonjak drastis. Pada kuartal yang sama, pendapatan hilir mencapai US$ 9 miliar, atau setara Rp 163,32 triliun. Angka ini naik 120% dari kuartal sebelumnya, didorong oleh margin penyulingan yang lebih tinggi.

Exxon memproduksi 4,5 juta barel setara minyak per hari, jumlah yang hampir sama dengan kuartal kedua. Dari produk khusus, perusahaan mencatat laba yang disesuaikan sebesar US$ 1,3 miliar atau Rp 23,59 triliun, naik 32% dari kuartal sebelumnya.

CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan perusahaannya terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global. "Kami terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global, dengan memanfaatkan skala, integrasi, dan kemampuan teknis yang tak tertandingi," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Secara keseluruhan, Exxon melaporkan total pendapatan yang disesuaikan pada kuartal III-2026 mencapai US$ 17,5 miliar, atau sekitar Rp 317,57 triliun. Angka ini melampaui perkiraan rata-rata analis di Wall Street yang sebesar US$ 16,6 miliar atau Rp 301,24 triliun.

Laba per saham yang disesuaikan untuk para pemegang saham ExxonMobil mencapai US$ 4,23, atau setara Rp 76.761 per lembar saham. Lagi-lagi, angka ini melebihi ekspektasi analis yang memperkirakan rata-rata US$ 4,08 atau Rp 74.039 per lembar saham.

Dari hasil tersebut, raksasa migas itu membayarkan dividen sebesar US$ 4,3 miliar atau Rp 78,03 triliun. Perusahaan juga membeli kembali saham (buyback) senilai US$ 5,1 miliar atau Rp 92,54 triliun.

Setelah itu, Exxon mengumumkan program buyback saham senilai US$ 20 miliar atau Rp 362,94 triliun pada tahun 2027. Jumlah ini sama dengan program buyback pada tahun 2026.

Reuters melaporkan bahwa kilang-kilang Exxon di Pantai Teluk AS mencapai tingkat produksi diesel tertinggi kedua dalam sejarah. Kilang-kilang itu juga beroperasi pada tingkat pemanfaatan unit minyak mentah 100%.

Kenaikan laba Exxon ini terjadi di tengah krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik. Perusahaan justru diuntungkan oleh gangguan pasokan yang mendorong harga bahan bakar naik, terutama di sektor hilir. Meskipun pendapatan dari produksi minyak mentah menurun, keuntungan dari penyulingan dan produk khusus melonjak signifikan.

ExxonMobillabakenaikanharga bahan bakarkonflik globalpendapatan hilirkeuntungan

Komentar

Memuat komentar...