Singapura Bantah Tuduhan Bahlil Soal Ekspor Ulang LNG

Teguh A. · 2 min baca · 1 jam lalu · 31 dibaca
Bisik.id
Singapura Bantah Tuduhan Bahlil Soal Ekspor Ulang LNG

Gambar atau konten salah?

Singapura angkat bicara soal tuduhan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Indonesia, Bahlil Lahadalia. Beberapa waktu lalu, Bahlil menyebut bahwa sebagian gas alam cair (LNG) yang dikirim dari Indonesia ke Singapura ternyata dijual lagi ke negara lain. Bukan dipakai untuk kebutuhan di dalam negeri Singapura.

Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri (METI) Singapura memberikan tanggapan. Lewat pernyataan resmi yang dikutip dari Channel News Asia, Minggu (1 November 2026), mereka menjelaskan posisi Singapura sebagai pusat perdagangan internasional. Termasuk untuk LNG. Lebih dari 50 perusahaan berbasis di Singapura bergerak di bidang pembelian, pemasaran, dan perdagangan LNG dari berbagai sumber global. Sumber utama mereka antara lain Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia. Indonesia juga termasuk salah satunya.

Yang menarik, METI menegaskan bahwa meskipun perusahaan-perusahaan itu berpusat di Singapura dan membuat keputusan komersial soal kargo, pergerakan fisik LNG berbeda. "Kargo LNG biasanya bergerak langsung dari negara sumber ke negara tujuan dan tidak secara fisik melewati Singapura," kata juru bicara METI.

Artinya, LNG yang dibeli oleh perusahaan Singapura dari Indonesia tidak pernah singgah di pelabuhan Singapura. Kapal pengangkut langsung berlayar dari Indonesia ke negara pembeli akhir. Singapura hanya menjadi tempat transaksi dan pengambilan keputusan bisnis.

METI juga menegaskan soal gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui pipa. "Gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui pipa adalah untuk penggunaan domestik, dan bukan untuk ekspor," tegas pernyataan itu. Jadi menurut Singapura, tidak ada gas Indonesia yang mereka ekspor ulang.

Sebelumnya, Bahlil Lahadalia memaparkan data di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29 Oktober 2026). Ia menyebut Indonesia mengekspor total gas ke Singapura senilai 409,5 MMSCFD. Dari jumlah itu, 1.480 MMSCFD di antaranya adalah LNG. Ia merinci, jumlah itu setara dengan 148 kargo LNG.

Bahlil mengaku yakin tidak semua LNG itu dipakai Singapura. "148 kargo itu setara dengan 1.480 MM. Itu yang kita kirim. Tapi keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading, untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka," ujar Bahlil.

Meski curiga, Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia belum berencana memangkas ekspor LNG ke Singapura. Alasannya, kebutuhan LNG di dalam negeri masih tercukupi. "Nanti kita lihat perkembangannya lah, ya. Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita, tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain," terangnya.

Dari sini terlihat perbedaan sudut pandang. Pemerintah Indonesia melihat LNG yang dikirim ke perusahaan-perusahaan Singapura sebagai ekspor ke Singapura. Sementara Singapura melihatnya sebagai transaksi dagang yang dilakukan perusahaan yang kebetulan berkantor di sana, tapi barangnya tidak pernah masuk ke wilayah mereka. Perbedaan ini soal definisi. Apakah ekspor LNG ke Singapura berarti barangnya benar-benar sampai ke Singapura, atau cukup sampai ke tangan perusahaan Singapura di mana pun barang itu dikirim.

LNG Singapuraekspor ulangBahlil Lahadaliagas alam cairperdagangan internasionalMETI Singapuradefinisi ekspor

Komentar

Memuat komentar...