Amazon 200 Miliar Dollar, Seattle Tolak Pusat Data AI

Fandi R. · 3 min baca · 1 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Amazon 200 Miliar Dollar, Seattle Tolak Pusat Data AI

Gambar atau konten salah?

Amazon mengalokasikan US$ 200 miliar atau Rp 3.609,8 triliun (kurs Rp 18.049) dalam delapan bulan terakhir untuk membangun pusat data AI di Seattle. “Dilaporkan bahwa tahun ini, Amazon menghabiskan US$ 200 miliar untuk modal, sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI,” kata insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services, Patrick Schloesser, yang diambil dari laporan CNBC pada 5 Juni 2026.

Namun, investasi besar ini disertai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Sekitar 30.000 karyawan menjadi korban ketika Amazon menargetkan efisiensi perusahaan. “Para pemimpin di perusahaan saya telah memberhentikan 30.000 karyawan perusahaan dalam delapan bulan terakhir. Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin, secepat mungkin,” lanjut Schloesser.

Berbagai insinyur Amazon, termasuk Schloesser, hadir di sidang Dewan Kota Seattle pada 3 Juni 2026 untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka. Mereka menolak rencana pembangunan pusat AI di kota tersebut. Schloesser, yang telah bekerja di Amazon hampir enam tahun, menuntut pejabat Seattle memaksa pengembang pusat data AI menggunakan energi terbarukan dan menghentikan praktik perjanjian kerahasiaan atau perusahaan fiktif saat mengumumkan proyek baru. “Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak untuk membangun hal-hal ini, dan Anda harus membayar pajak baru yang mendanai pekerjaan kota setiap kali Anda melakukan PHK besar-besaran,” katanya.

Seorang juru bicara Amazon menyatakan bahwa perusahaan menghormati hak karyawan untuk menyuarakan pendapat. Meski begitu, Seattle termasuk kota yang berupaya membatasi pertumbuhan pusat data AI. Pejabat kota menyetujui moratorium satu tahun terhadap pembangunan pusat data AI skala besar baru, memberi waktu bagi kota untuk mengatur proyek-proyek tersebut. Usulan ini muncul setelah empat pengembang, termasuk Amazon, mengajukan rencana pembangunan lima fasilitas AI di Seattle. Dua pengembang kemudian menarik proposal mereka setelah mendapat kecaman publik.

“Saat ini, kami tidak memiliki rencana untuk membangun pusat data di dalam batas kota Seattle. Di seluruh komunitas tempat kami mengoperasikan pusat data, kami berkomitmen menjadi tetangga yang bertanggung jawab, berinvestasi dalam pembangunan ekonomi lokal sambil memprioritaskan efisiensi air dan energi yang melebihi standar industri,” kata juru bicara Amazon.

Amazon juga menyatakan bahwa mereka terus mengevaluasi operasi pusat data, berupaya menggunakan energi bebas karbon dan meningkatkan efisiensi energi. Raksasa e-commerce ini bertujuan mengembalikan lebih banyak air ke masyarakat daripada yang digunakan di pusat datanya pada tahun 2030.

Menurut Konferensi Nasional Legislatif Negara Bagian, saat ini 14 negara bagian sedang mempertimbangkan undang-undang yang menunda atau melarang pusat data baru. Laporan Data Center Watch menemukan bahwa pada tahun 2025, setidaknya US$ 156 miliar atau Rp 2.815,64 triliun proyek pusat data diblokir atau ditunda di tengah penentangan dan litigasi lokal.

Meski demikian, penyedia layanan teknologi berskala besar (hyperscaler) seperti Amazon, Microsoft, Alphabet (induk Google), dan Meta tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Mereka telah mengalokasikan sekitar US$ 700 miliar pada tahun 2026 untuk belanja modal yang sebagian besar terkait infrastruktur AI.

Pergerakan ini mencerminkan ketegangan antara ambisi teknologi besar dan kebutuhan komunitas lokal. Sementara Amazon berfokus pada ekspansi AI, kota-kota seperti Seattle berusaha menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan dampak sosial. Kinerja investasi dan PHK massal menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana perusahaan teknologi dapat bertanggung jawab terhadap masyarakat di mana mereka beroperasi.

Amazonpusat data AISeattlePHK massalenergi terbarukanregulasi kotahyperscaler

Komentar

Memuat komentar...