Anak-Anak Nekat Seluncur di Bendung Pleret, Petugas: Bukan Tempat Wisata
Gambar atau konten salah?
Bendung Pleret di Sungai Banjir Kanal Barat (BKB), Kota Semarang, kembali menjadi tempat bermain anak-anak. Mereka meluncur di bidang miring bendungan. Kejadian serupa sempat viral pada tahun 2024 lalu.
Seorang petugas dari Bendung Simongan Wilayah BKB, Bayu Wanapati, dengan tegas menyatakan bahwa kegiatan ini sangat berbahaya. Pada Rabu, 08 Juli 2026, sekitar pukul 16.30 WIB, beberapa anak terlihat asyik bermain. Mereka memanfaatkan kemiringan beton bendungan sebagai papan seluncur. Debit air saat itu tidak terlalu deras. Anak-anak itu naik ke bagian yang lebih tinggi, lalu meluncur ke bawah. Beberapa orang dewasa juga tampak sedang memancing di lokasi yang sama.
Di tepi bendungan, sebenarnya sudah terpasang papan larangan. Papan itu melarang berbagai aktivitas, termasuk mandi dan memancing. Namun, larangan itu seolah diabaikan. Seorang warga dari Tembalang bernama Sita (40) duduk di pinggir bendungan. Ia mengaku sedang mengawasi anaknya yang ikut berseluncur. "Mengantar anak yang ingin ke sini," kata Sita. Menurutnya, anak-anak biasa bermain di BKB saat debit air kecil. Ini adalah pertama kalinya anaknya bermain di tempat tersebut.
Sita sebenarnya sadar akan risiko bermain di bendungan. "Sebenarnya bahaya. Kalau nggak diawasi takutnya banjir dari sana kan nggak tahu. Aslinya bahaya sih, tapi namanya anak-anak," ujarnya. Ia mengawasi anaknya dengan ketat karena khawatir terjadi sesuatu, seperti air tiba-tiba naik.
Bayu Wanapati, operator Bendung Simongan, menjelaskan bahwa aturan dari BBWS Pemali Juana melarang semua aktivitas di zona satu bendungan. Zona satu adalah area paling dekat dengan bangunan bendung. "Kalau kita dari BBWS aturannya tidak boleh. Kita melarang, dalam artian seluruh aktivitas di dalam radius atau zona 1, seluruh aktivitas masyarakat seharusnya tidak ada entah itu seluncuran, mancing, mandi," tegas Bayu. Debit air pada sore itu tercatat 3,8 meter kubik per detik.
Pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke berbagai pihak, seperti bhabinkamtibmas, babinsa, dan warga sekitar. Sebanyak enam papan larangan telah dipasang di berbagai titik di sekitar BKB. "Dari kita sendiri sudah memberikan sosialisasi kepada kemarin dari pihak bhabinkamtibmas, babinsa, wilayah sekitar. Terus yang kedua kita sudah memberikan papan larangan di setiap titik, kita kasih enam titik di sini," sebutnya.
Petugas keamanan juga sering menegur anak-anak yang nekat bermain. Namun, kata Bayu, kebiasaan ini sulit dihentikan. "Pihak keamanan kita sering memberi teguran kepada anak-anak supaya tidak boleh masuk. Tapi karena bisa dikatakan habit itu agak sedikit susah untuk mengontrolnya," terangnya. Bayu kembali menegaskan bahwa BKB bukanlah tempat wisata. "Ini bukan tempat untuk wisata. Kita juga mempertimbangkan keselamatan dari orang-orang yang nekat masuk itu," tuturnya. Ia juga mengingatkan bahwa bendungan adalah aset penting. Jika alat-alat di bendungan rusak karena ulah manusia, dampaknya akan dirasakan banyak orang. "Kita juga harus menjaga aset ini supaya, jika tiba-tiba alat kita rusak pada waktu mau dipakai, efeknya kan ke semua," lanjutnya.
Meski sudah ada larangan dan pengawasan, anak-anak tetap bermain di sana. Orang tua seperti Sita mengawasi, tapi tetap membiarkan anaknya berseluncur. Di sisi lain, petugas terus berupaya menegakkan aturan demi keselamatan semua orang. Situasi ini menunjukkan adanya celah antara aturan dan kebiasaan warga yang sudah menganggap BKB sebagai arena bermain.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Anak-Anak Nekat Seluncur di Bendung Pleret, Petugas: Bukan Tempat Wisata
Persebaya Datangkan 11 Pemain Baru untuk Musim Depan
MUI Jatim Desak Sanksi Pidana untuk LGBT
Bellingham Cetak Dua Gol, Inggris ke Perempatfinal Piala Dunia
Apriyani Rahayu Pindah ke Ganda Campuran
Arkeolog Temukan Petunjuk Baru Tabut Perjanjian
Anak Petani Gresik Lolos Beasiswa S2-S3 di Inggris dan Australia