Angin Kencang Majalengka: Bukan Pantai, Tapi Ini Penyebabnya

Vera T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Angin Kencang Majalengka: Bukan Pantai, Tapi Ini Penyebabnya

Gambar atau konten salah?

Pernah naik motor di Majalengka? Kalau baru pertama kali, siap-siap kaget. Langit cerah, tapi tiba-tiba angin kencang menerpa. Padahal, daerah ini bukan pantai. Stang motor goyang. Jaket berkibar. Kadang kendaraan serasa didorong ke samping. Ini bukan cerita satu dua orang. Banyak yang merasakan hal sama begitu menginjakkan kaki di sana.

Bagi warga setempat, angin kencang sudah jadi teman sehari-hari. Di jalan menuju Kertajati, kawasan Jatitujuh, Ligung, sampai hamparan sawah di utara, hembusan angin hampir selalu ada. Yang bikin penasaran: Majalengka bukan daerah pesisir. Tidak punya pantai. Lantas, dari mana datangnya angin sekencang itu?

Dyan Anggraeni, Prakirawan dari BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, punya jawabannya. Menurut dia, angin kencang di Majalengka adalah fenomena biasa setiap musim kemarau. "Rata-rata kecepatan angin di Majalengka berada pada kisaran 6 sampai 10 knot atau sekitar 11 hingga 19 kilometer per jam. Dalam satu minggu terakhir, kecepatan angin maksimum yang tercatat dari tiga titik pengamatan kami mencapai 26 knot atau sekitar 48 kilometer per jam," kata Dyan pada Kamis, 09 Juli 2026.

Angka itu bisa naik. Pada puncak musim kemarau, kecepatan angin bisa mencapai 32 knot atau sekitar 60 kilometer per jam. Bahkan lebih pada kondisi tertentu. Lalu apa penyebabnya? Faktor alam, kata Dyan. Lihat saja peta. Bagian selatan Majalengka dikelilingi pegunungan. Gunung Ciremai menjulang di sana. Sementara di utara, terbentang dataran rendah. Sawah dan lahan terbuka mendominasi. Angin melaju tanpa banyak hambatan.

"Majalengka berada di sebelah utara Gunung Ciremai. Pada musim kemarau, angin akan bergerak menuruni lereng gunung menuju wilayah Majalengka dengan membawa sifat angin yang panas, kering, dan berkecepatan tinggi atau yang biasa kita sebut sebagai angin kumbang," jelas Dyan.

Meski sudah biasa, Dyan mengingatkan agar tetap waspada. Risiko yang perlu diantisipasi antara lain pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, hingga atap bangunan yang rapuh. "Hindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame, jauhi bangunan tua, dan batasi aktivitas di ruang terbuka. Selain itu, masyarakat juga harus berhati-hati saat melakukan pembakaran karena kondisi angin yang kencang dan cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar," kata dia.

Angin kencang di Majalengka bukanlah kejadian luar biasa. Ini siklus tahunan yang dipicu oleh topografi unik daerah tersebut. Gunung Ciremai di selatan dan dataran rendah di utara menciptakan koridor alami bagi angin kumbang untuk melesat kencang, terutama saat kemarau tiba.

angin kencangMajalengkaangin kumbangGunung Ciremaimusim kemarauBMKGtopografi

Komentar

Memuat komentar...