Batam Dinilai Jadi Kunci Pintu Logistik ASEAN

Tika M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Batam Dinilai Jadi Kunci Pintu Logistik ASEAN

Gambar atau konten salah?

Pergeseran peta politik dunia, perdagangan yang semakin terpecah, dan perubahan besar dalam rantai pasok global membuka celah bagi Indonesia. Negara ini punya kesempatan untuk menjadi kekuatan baru di bidang logistik Asia Tenggara. Dari segi lokasi, Batam dinilai paling pas untuk jadi pintu utama Indonesia menuju ASEAN dan pasar dunia.

Yukki Nugrahawan Hanafi, Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), bilang posisi Batam ada di persimpangan jalur kapal antara Samudra Hindia dan Pasifik. Ditambah lagi, Batam dekat banget dengan Singapura dan Malaysia. Menurutnya, ini bukan ancaman, tapi peluang.

"Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membangun kolaborasi regional yang saling memperkuat daya saing ASEAN," kata Yukki dalam keterangan tertulis, Kamis 09 Juli 2026.

Pentingnya posisi Batam bisa dilihat dari ramainya lalu lintas kapal di Selat Malaka. Data UNCTAD menunjukkan lebih dari 100 ribu kapal melintas di sana sepanjang 2025. Kapal-kapal itu mengangkut sekitar 22 sampai 25 persen perdagangan maritim dunia setiap tahun.

Riset Mordor Intelligence juga mencatat pasar freight dan logistik ASEAN diproyeksikan tumbuh. Dari US$ 288,2 miliar pada 2025, diperkirakan jadi US$ 390 miliar pada 2030. Pertumbuhan tahunan majemuknya (CAGR) 6,23 persen. Dorongannya datang dari ekspansi manufaktur, perdagangan elektronik, dan investasi antarnegara di kawasan.

Tapi Yukki mengingatkan satu hal. Lokasi bagus aja nggak cukup buat menang dalam kompetisi logistik dan rantai pasok sekarang. Yang bakal menentukan daya saing ke depan adalah kemampuan membangun ekosistem logistik terpadu. Ekosistem itu harus menghubungkan pelabuhan, bandara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, gudang modern, layanan kepabeanan, transportasi multimoda, sampai platform digital dalam satu sistem.

"Modernisasi pelabuhan harus menjadi prioritas nasional. Transformasi pelabuhan bukan lagi sekadar soal kapasitas dermaga, tetapi mencakup digitalisasi proses bisnis, peningkatan produktivitas terminal peti kemas, hingga penerapan standar internasional yang meningkatkan kepercayaan pelaku usaha global," ujar Yukki yang juga menjabat Ketua Dewan Penasihat ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA).

Yukki menilai Pelabuhan Batu Ampar punya potensi besar. Pelabuhan ini bisa berubah jadi gerbang kontainer regional yang melayani perdagangan Indonesia bagian barat. Selain itu, juga bisa mendukung aktivitas transhipment, distribusi regional, dan konektivitas multimoda.

Selain pelabuhan, Yukki juga menyoroti Bandara Internasional Hang Nadim. Bandara ini punya landasan pacu sepanjang 4.025 meter, salah satu yang terpanjang di Indonesia. Lahan di sekitarnya juga luas. Menurut Yukki, bandara ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, bisa dikembangkan menjadi pusat kargo udara ASEAN.

"Pengembangan kawasan Aerocity, pusat Maintenance, Repair and Overhaul, fasilitas cold chain, hingga layanan express cargo akan memperkuat posisi Batam sebagai simpul logistik udara yang terintegrasi dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri. Konsep sea-air logistics yang memadukan Pelabuhan Batam dan Bandara Hang Nadim ini memiliki keunggulan kompetitif sektor logistik, terutama dalam memangkas biaya dan waktu," tegas Yukki.

Menurut Yukki, transformasi logistik harus didukung pemanfaatan teknologi. Misalnya kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), blockchain, digital customs, predictive logistics, dan port community system. Semua itu harus ditopang regulasi yang konsisten dan tata kelola yang baik.

Dalam konteks ini, Yukki bilang berbagai kerja sama internasional seperti AFFA dan FIATA terus mendorong harmonisasi regulasi dan konektivitas logistik di ASEAN. Tujuannya supaya terbangun rantai pasok yang lebih tangguh dan efisien.

"Batam dapat menjadi laboratorium terbaik untuk mewujudkan visi tersebut melalui integrasi pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas dan jaringan logistik nasional," ujar Yukki.

Visi besar ini bukan sesuatu yang mustahil. Asalkan pembangunannya dilakukan secara terintegrasi. Harus ada kepastian regulasi, percepatan investasi, penyederhanaan perizinan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, BP Batam, operator bandara, dunia usaha, perguruan tinggi, dan asosiasi profesi.

"Dari Batam, Indonesia dapat memimpin konektivitas ASEAN, memperkuat ketahanan rantai pasok dan menegaskan posisinya sebagai poros maritim, serta pusat logistik yang disegani di tingkat global. Artinya keberhasilan Batam tidak hanya akan meningkatkan daya saing Kepulauan Riau, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan internasional, memperluas peluang investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Yukki.

Batam memang punya modal geografis yang kuat. Tapi tanpa ekosistem logistik yang terpadu dan dukungan teknologi, posisi itu bisa sia-sia. Pelabuhan dan bandaranya perlu bertransformasi, bukan cuma diperluas. Regulasi yang jelas dan investasi yang cepat jadi kunci. Jika semua berjalan, Batam bisa menjadi contoh bagaimana Indonesia memanfaatkan peluang di tengah perubahan global.

BatamlogistikASEANrantai pasokpelabuhandigitalisasiekosistem

Komentar

Memuat komentar...