Tumpahan Batu Bara Pangandaran Buktikan Kekhawatiran Nelayan
Gambar atau konten salah?
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menyatakan kekhawatiran para nelayan soal tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22 di perairan Cibenda kini terbukti. Banyak biota laut mati, termasuk baby lobster di sekitar lokasi.
Sebelumnya, HNSI mendesak penutupan sementara aktivitas perairan akibat insiden itu. Langkah ini sempat dibantah Dinas Perikanan Kabupaten Pangandaran. Mereka mempertanyakan dasar hukum usulan tersebut. Tapi setelah laporan kematian massal benur (bibit lobster) dan biota laut di area terdampak marak, argumen dinas itu dinilai gugur dengan sendirinya.
"Saya kecewa benar sama Kepala Dinas Perikanan. Dua-tiga hari yang lalu mereka meng-counter pernyataan saya, mempertanyakan apa dasarnya penutupan sementara. Saya bilang dasarnya sudah ada, material (batu bara) yang tumpah itu mengandung B3 arsenik, merkuri, dan lainnya!" ujar Jeje kepada wartawan, usai pertemuan dengan sejumlah pihak terkait Kapal Tongkang dan Pemkab Pangandaran pada Rabu (08 Juli 2026) malam kemarin.
Jeje menegaskan, fakta di lapangan menunjukkan dampak nyata yang merugikan nelayan tradisional. "Sekarang terbukti kan? Omongan saya itu terbukti setelah benar-benar banyak yang mati," tambah Jeje.
Melalui pertemuan informal yang difasilitasi oleh Bupati Pangandaran, HNSI secara tegas mengajukan sejumlah tuntutan utama demi menyelamatkan ekosistem dan hajat hidup masyarakat pesisir. HNSI mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan penutupan sementara kawasan guna menghentikan segala aktivitas di area terdampak sebagai langkah mitigasi awal.
Selain itu, mereka menuntut pihak pengusaha muatan untuk memberikan kompensasi ganti rugi atas hilangnya pendapatan nelayan, sekaligus mendanai pemulihan area konservasi. Langkah evakuasi dasar laut juga menjadi prioritas krusial, di mana pengusaha dipaksa mendahulukan pengangkatan material batu bara yang tenggelam.
"Bagi saya, pengangkatan kapal tongkang itu tidak penting, itu urusan nomor sepuluh. Yang paling utama adalah pengangkatan material batu bara di dasar laut karena itu yang meracuni lingkungan," pungkas Jeje.
Kekhawatiran yang disuarakan oleh HNSI diperkuat oleh temuan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat. DLH Jabar mengonfirmasi adanya dugaan kuat pencemaran air laut di kawasan Pangandaran akibat tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22.
Kepala DLH Provinsi Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menjelaskan bahwa ombak besar telah menghancurkan batu bara tersebut menjadi partikel-partikel halus. Sifat batuan yang tidak mudah terurai ini langsung mengubah kondisi fisik dan kimia air laut. "Warna air laut cenderung menghitam dan tingkat kekeruhannya meningkat," kata Ai Saadiyah dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, partikel halus batu bara yang melayang di dalam air telah menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar laut. Akibatnya, parameter kimia menunjukkan kondisi yang kritis. Konsentrasi Oksigen Terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) ditemukan merosot tajam di bawah ambang batas normal.
"Parameter DO ini mempengaruhi secara signifikan daya dukung makhluk hidup di dalam air. Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil tangkapan nelayan atau menekan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) pada tambak maupun hatchery yang memanfaatkan air laut," ujar Ai Saadiyah.
Selain dampak jangka pendek, DLH Jabar memberikan perhatian khusus pada ancaman jangka panjang. Batu bara yang terendam lama di dasar laut akan melepaskan logam berat seperti arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium melalui proses pelindian (leaching).
Kekhawatiran ini diperkuat oleh pengujian sedimen dasar laut yang menunjukkan akumulasi logam berat yang tinggi. Tim ahli menemukan kandungan arsenik, kromium, dan nikel sebagai unsur logam tertinggi, disusul oleh timbal, kadmium, dan merkuri.
"Hal ini menunjukkan bahwa batu bara mengendap di dasar laut dalam jumlah yang cukup besar. Kami menyimpulkan telah terjadi dugaan pencemaran air laut oleh tumpahan batu bara," tegas Ai Saadiyah.
Saat ini, DLH Jabar bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan tenaga ahli masih melakukan analisis lebih mendalam menggunakan pemodelan sebaran polutan guna mengaitkan data fisik-kimia dengan arus laut, pasang surut, hingga kondisi habitat fitoplankton di perairan Pangandaran.
Insiden tumpahan batu bara ini menunjukkan bagaimana dampak lingkungan bisa langsung dirasakan oleh nelayan kecil. Data dari DLH Jabar mengonfirmasi bahwa partikel batu bara halus tidak hanya mengubah warna air, tapi juga menurunkan kadar oksigen terlarut secara drastis. Ancaman jangka panjang dari logam berat yang terlepas perlahan-lahan juga menjadi perhatian serius bagi ekosistem laut Pangandaran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa 2,6 Guncang Cimahi, BMKG Imbau Warga Tenang
Jalan Dago Giri Ditutup Total, Perbaikan Berlangsung Beberapa Pekan
Bocah 10 Tahun di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin
Pria di Ciamis Digigit Usaat Beri Makan Ayam
Perbaikan Jembatan Bodogol Dimulai Agustus, Warga Cari Jalur Alternatif
80 Siswa Bandung Didiskualifikasi dari SPMB karena Dokumen Palsu
Berita Terbaru
Tumpahan Batu Bara Pangandaran Buktikan Kekhawatiran Nelayan
Gempa 2,6 Guncang Cimahi, BMKG Imbau Warga Tenang
Ibu di Inggris Kaget Lihat Tagihan Fish and Chips
Jalan Dago Giri Ditutup Total, Perbaikan Berlangsung Beberapa Pekan
Batam Dinilai Jadi Kunci Pintu Logistik ASEAN
Agrinas Tanggapi Keluhan Gaji Pengelola Gerai Kopdes Merah Putih
