Anjing Hantu Amazon Terungkap: 15 Hewan per 100 km²

Ningsih R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Anjing Hantu Amazon Terungkap: 15 Hewan per 100 km²

Gambar atau konten salah?

Di dalam hutan lebat Bolivia dan Peru, tersembunyi spesies anjing yang jarang diketahui. Dikenal dengan julukan “anjing hantu”, Atelocynus microtis memiliki telinga pendek dan tubuh yang tampak seperti anjing kecil. Ia dianggap salah satu karnivora paling tidak dikenal di wilayah tersebut, bahkan di dunia.

Setelah hampir seperempat abad melakukan penelitian, para ilmuwan akhirnya berhasil mengumpulkan data baru tentang hewan yang sangat pandai bersembunyi ini. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation, memberikan pencerahan tentang anjing telinga pendek dan mengungkap fakta yang tak terduga.

“Aspek paling mengejutkan dari hasil ini adalah bahwa meskipun spesies ini bagaikan hewan mitos, anjing telinga pendek ternyata jauh lebih banyak dari yang kami bayangkan,” ungkap tim peneliti dalam sebuah pernyataan, meskipun hewan ini tetap belum bisa dikategorikan sebagai hewan yang “umum” atau sering dijumpai.

Peneliti melakukan 34 survei jebakan kamera di dataran rendah Bolivia dan Peru selama lebih dari 25 tahun. Dari survei tersebut, mereka memperoleh 594 foto individu, yang memperlihatkan ciri-ciri anjing tersebut: kepala besar, telinga bulat kecil, kaki pendek, ekor panjang lebat, serta bulu gelap dengan variasi warna mulai dari cokelat kemerahan hingga abu‑abu kehitaman.

Selain itu, anjing kecil ini juga memiliki telapak kaki berselaput sebagian, sesuatu yang tidak ditemukan pada keluarga anjing Amazon lainnya.

Berdasarkan data kamera, tim memperkirakan kepadatan populasi mereka adalah 15 anjing per 100 kilometer persegi. Angka ini menunjukkan bahwa populasi mereka tidak selangka yang dikhawatirkan. Spesies ini kemungkinan lebih banyak populasinya dibanding karnivora besar di sana seperti jaguar, tetapi masih lebih sedikit dibanding karnivora sedang seperti oselot.

“Penelitian ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jauh dapat memberi data substansial mengenai salah satu spesies paling tak dikenal di hutan hujan Amazon,” kata Robert Wallace, ilmuwan dari Wildlife Conservation Society yang menjadi penulis utama studi. Ia dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa spesies ini paling aktif antara pukul 06.00 pagi hingga siang hari.

Meskipun telapak kaki berselaput ini mungkin membuat Anda mengira ia adalah hewan air, spesies ini sebenarnya adalah spesialis hutan sejati, yang menunjukkan kecenderungan kuat terhadap hutan lahan tinggi yang jauh dari sungai. Kesukaan mereka pada habitat yang lebat ini menjadi alasan utama mengapa manusia sangat jarang melihat anjing liar tersebut, ditambah dengan sifat mereka yang tertutup serta indera pendengaran dan penciuman yang luar biasa tajam, memungkinkan mereka untuk terus menjauh dari manusia.

Dengan data yang baru ini, para peneliti dapat memulai langkah lebih lanjut dalam upaya pelestarian spesies yang masih tersembunyi di antara pepohonan Amazon. Penemuan ini menegaskan pentingnya penggunaan teknologi modern dalam memahami kehidupan liar yang sulit dijangkau, sekaligus menambah pengetahuan kita tentang keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis.

Anjing hantuAtelocynus microtishutan hujan AmazonBoliviaPerukarnivorapenginderaan jauhkonservasi

Komentar

Memuat komentar...