Anomali Trafik Siber 5,5 Miliar di Indonesia 2025
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan bahwa potensi serangan siber di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya perkembangan era digital.
Mayjen TNI Bondan Widiawan, Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, menjelaskan bahwa lonjakan anomali trafik terbesar terjadi pada tahun 2025. Sepanjang tahun tersebut, tercatat sebanyak 5,5 miliar anomali trafik di Indonesia.
"Datanya 5,5 miliar anomali trafik. Ini sudah mendominasi data dari dijumlahkan di 2020 sampai 2024, itu kalah sama satu tahun. Dan, kemungkinan data ini di 2026 akan terus meningkat," ujar Bondan dalam acara R17 Podcast Show Vol.4 di Jakarta, Kamis (23 April 2026).
Untuk orang yang belum familiar, anomali trafik adalah aktivitas lalu lintas data di jaringan internet yang tidak normal atau mencurigakan. Contohnya lonjakan akses secara tiba‑tiba, pola komunikasi yang tidak biasa, atau upaya masuk ke sistem tanpa izin. Dalam konteks keamanan siber, kondisi ini sering menjadi indikasi awal adanya serangan, seperti penyebaran malware, percobaan peretasan, atau pencurian data. Namun, tidak semua anomali berarti serangan berhasil; sebagian hanya berupa percobaan atau gagal.
Bondan menambahkan bahwa pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026, BSSN telah mengidentifikasi sebanyak 1,5 miliar anomali trafik dalam skala nasional.
"Kita sudah analisa 1,5 miliar anomali trafik. Dari anomali trafik itu kita akan analisa lagi, mana yang compromise, mana yang attempt, mana yang fail, dan sebagainya," kata Bondan.
Lebih lanjut, Bondan mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 BSSN telah memberikan 2.855 notifikasi, dengan sekitar 2.186 di antaranya mendapat respons. Sementara pada 2026, BSSN telah mengeluarkan 1.002 notifikasi, dengan 776 di antaranya telah direspons terkait anomali trafik tersebut.
"BSSN nggak punya wewenang untuk menekan lebih jauh. Kalau kemudian kita berikan notifikasi dan tidak ditindaklanjuti," kata Bondan.
BSSN juga menyoroti bahwa anomali trafik yang terjadi mayoritas berupa malware, yang penanganannya tidak lagi efektif jika menggunakan metode tradisional. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan baru yang lebih canggih, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Makanya, ini sekarang sedang bergulir rancangan undang-undang keamanan dan ketahanan siber. Kalau itu disahkan atau menjadi undang-undang, mungkin nanti proses tata kelola ke depan, kita harapkan lebih baik, respon lebih baik," ucapnya.
Secara keseluruhan, data menunjukkan lonjakan signifikan dalam anomali trafik di Indonesia, menandakan perlunya upaya kolaboratif dan regulasi yang lebih kuat untuk mengatasi ancaman siber yang semakin kompleks.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jack Ma di Moskow: Tantang Mahasiswa Hadapi Ketakutan
Satria-1 Tambah 154 Titik Akses Sangihe-Sitaro, 50‑150 Mbps
Kaspersky: Phishing QR Teks ASCII Menambah Serangan 5x
Nanik Deyang Jadi Kepala BGN, Fokus Gizi Anak Nasional
Jack Ma Kenang Pencapaian Besar: Nikah dengan Zhang Ying
Pancingan Australia Dorong Konsumsi Ikan Mas Bagi Populasi
Berita Terbaru
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Florentino Perez Kampanye Presiden Real Madrid dengan Mourinho
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
