Argentina Telusuri Asal Hantavirus Kapal Pesiar MV Hondius
Gambar atau konten salah?
Argentina sedang memeriksa apakah negaranya menjadi asal mula wabah hantavirus yang menimpa beberapa penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius. Kementerian Kesehatan negara tersebut mengumumkan pada 06 Mei 2024 bahwa para ahli akan dikirim ke Ushuaia, wilayah paling selatan di Argentina, untuk menangkap dan menguji hewan pengerat yang biasanya menjadi vektor virus ini.
Ushuaia dipilih karena pernah menjadi tempat kedatangan pasangan Belanda yang meninggal karena hantavirus. Otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa tujuan mereka adalah menelusuri asal usul virus yang mungkin menular kepada manusia di kapal tersebut.
Per tanggal 06 Mei, terdapat 8 kasus hantavirus, 3 di antaranya telah dikonfirmasi melalui tes laboratorium. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan hal ini dalam sebuah unggahan di media sosial.
Hantavirus yang ditemukan di Amerika Selatan dikenal sebagai virus Andes. Virus ini dapat menimbulkan penyakit paru-paru serius, seringkali fatal, yang disebut sindrom paru hantavirus. Pihak berwenang Argentina berencana mengirim sampel RNA virus Andes serta pedoman diagnosis dan pengobatan ke laboratorium di Spanyol, Senegal, Afrika Selatan, Belanda, dan Inggris.
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Ia menjelaskan bahwa hantavirus menular jauh lebih lambat dibandingkan COVID‑19. “Ketika kita mengatakan kontak dekat (untuk penularan dari manusia ke manusia), yang kita maksud adalah kontak fisik yang sangat dekat, baik itu berbagi kamar tidur atau berbagi kabin, memberikan perawatan medis, misalnya, (itu) sangat, sangat berbeda dengan COVID dan sangat berbeda dengan influenza,” ujarnya. Maria menambahkan bahwa hantavirus varian Andes membutuhkan interaksi fisik yang lebih intim untuk berpindah inang, berbeda dengan COVID‑19 yang mudah menyebar melalui udara dalam jarak sosial biasa.
WHO kini bekerja sama dengan berbagai negara untuk melacak penumpang yang sempat turun di Pulau Saint Helena sebelum kapal mencapai Tanjung Verde. Di Afrika Selatan, sebanyak 65 orang yang pernah berhubungan dengan pasien telah diidentifikasi untuk pemantauan lebih lanjut, ditambah 12 orang lainnya di negara-negara berbeda.
Meskipun situasi medis di atas kapal sangat serius, suasana di antara penumpang dilaporkan tetap kondusif. Kasem Hato, salah satu penumpang, menceritakan bahwa kapten kapal terus memberikan informasi terbaru secara transparan. “Orang‑orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan. Kami mencoba menjaga jarak sosial dan mengenakan masker agar tetap aman. Hari‑hari kami berjalan hampir normal; kami menyibukkan diri dengan membaca, menonton film, dan minum minuman hangat. Semangat di atas kapal tetap tinggi,” ungkap Hato.
Wabah ini menyoroti pentingnya pengawasan hewan pengerat di wilayah rawan hantavirus dan perlunya koordinasi internasional dalam menangani potensi penyebaran penyakit. Dengan langkah-langkah cepat dan komunikasi yang jelas, Argentina dan WHO berusaha meminimalkan risiko bagi penumpang dan masyarakat luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai