Aturan Baru FIFA: Kartu Merah Pertama Untuk Pembicara Bertutup Mulut

Lia N. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Aturan Baru FIFA: Kartu Merah Pertama Untuk Pembicara Bertutup Mulut

Gambar atau konten salah?

Sebuah insiden unik mewarnai pertandingan babak penyisihan Grup D Piala Dunia 2026 antara Turki dan Paraguay. Pemain Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pesakitar pertama yang terkena dampak aturan baru FIFA setelah ia kedapatan berbicara sambil menutup mulut kepada lawan. Kejadian ini berlangsung di San Francisco Bay Area Stadium pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Aturan yang dikenal dengan sebutan Prestianni Law ini sebenarnya sudah menjadi perbincangan hangat sejak beberapa bulan lalu. Nama aturan ini diambil dari gelandang Benfica, Gianluca Prestianni, yang terlibat dalam sebuah insiden kontroversial pada laga playoff Liga Champions melawan Real Madrid pada Februari lalu. Saat itu, bintang Real Madrid, Vinicius Junior, menuduh Prestianni mengejeknya dengan sebutan monyet sambil menutup mulut. Meskipun Prestianni membantah tuduhan tersebut dan hanya mengakui kepada UEFA bahwa ia menyebut Vinicius seorang homo, ia tetap dihukum enam pertandingan. Tiga dari hukuman tersebut ditangguhkan selama dua tahun.

Insiden Prestianni dan Vinicius menjadi viral dan memicu perdebatan luas di kalangan pecinta sepak bola. FIFA kemudian memutuskan untuk mengambil tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Organisasi sepak bola dunia itu memberlakukan aturan baru yang melarang pemain berbicara sambil menutup mulut, terutama dalam situasi konfrontasi. Tujuannya jelas: menghilangkan serangan verbal yang bernuansa rasis dan seksis dari lapangan hijau.

Kembali ke pertandingan Turki vs Paraguay, pada pengujung babak pertama, Almiron tertangkap basah sedang berbicara sambil menutup mulut kepada bek Turki, Mert Muldur. Insiden ini terjadi setelah sebuah pelanggaran di tengah lapangan. Wasit asal El Salvador, Ivan Barton, langsung mendapatkan laporan dari asistennya. Setelah memeriksa tayangan ulang, Barton dengan tegas mengeluarkan kartu merah langsung kepada Almiron.

Keputusan wasit ini sempat diprotes oleh sejumlah pemain Paraguay, namun Barton tetap pada pendiriannya. Paraguay harus bermain dengan 10 orang selama babak kedua. Meskipun bermain dengan kekurangan pemain, Paraguay tetap mampu menjaga keunggulan 1-0. Gol cepat Matias Galarza di awal pertandingan menjadi penentu kemenangan timnya.

Aturan Prestianni Law ini menjadi sorotan utama dalam Piala Dunia 2026. Banyak yang mendukung langkah FIFA untuk memberantas perilaku tidak sportif di lapangan. Namun, ada juga yang mempertanyakan bagaimana aturan ini akan diterapkan secara konsisten di setiap pertandingan. Yang jelas, insiden Almiron ini menjadi contoh nyata bahwa FIFA serius dalam menegakkan aturan barunya.

Secara keseluruhan, kejadian ini menunjukkan bahwa FIFA berusaha keras untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih bersih dan bebas dari diskriminasi. Aturan baru ini memang kontroversial, tetapi tujuannya mulia: melindungi pemain dari serangan verbal yang merendahkan. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah aturan ini efektif atau justru menimbulkan masalah baru di lapangan.

FIFAaturan baruMiguel AlmironPrestianni Lawkartu merahPiala Dunia 2026rasis

Komentar

Memuat komentar...