Bali Gabungkan Sekolah Sepi Murid, Jadi Solusi Kekurangan Guru
Gambar atau konten salah?
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, mengemukakan bahwa penggabungan sekolah, atau yang dikenal dengan istilah regrouping, bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah sekolah-sekolah yang memiliki jumlah murid sangat sedikit di berbagai daerah. Giri menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali sudah melakukan koordinasi terkait keberadaan sekolah-sekolah yang letaknya saling berdekatan dalam satu desa.
"Sehingga di sekolah lain ini bisa terakomodir sesuai dengan jumlah per kelas berkenaan dengan dapodiknya. Maka evaluasi yang kami lakukan ke depan kaitannya dengan kemungkinan besar kami akan melaksanakan salah satunya adalah regrouping," ujar Giri di Kantor DPRD Bali pada Selasa, 14 Juli 2026.
Giri menjelaskan lebih lanjut bahwa penggabungan ini nantinya akan mengubah fungsi sekolah yang kekurangan siswa menjadi fasilitas umum. Sementara itu, sekolah yang sudah ada akan diperkuat lagi. Bahkan, menurut Giri, akan dibangun ruang kelas baru untuk menunjang proses belajar mengajar.
"Kalau berbicara masalah tenaga pengajar ketika kita berbicara masalah tenaga guru kalau di Provinsi Bali ini kita masih kurang," jelas Giri.
Permasalahan kekurangan guru ini, menurut Giri, bisa diatasi dengan menempatkan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sekolah-sekolah tersebut. Guru-guru yang ditempatkan di daerah terpencil nantinya akan mendapatkan insentif dan tunjangan yang layak.
"Nanti kami koordinasikan dulu dengan Dinas Pendidikan karena ada guru yang pensiun juga, kami belum bisa menghitung secara riil (jumlahnya)," sebut Giri.
Sementara itu, di tingkat kabupaten, Komisi IV DPRD Kabupaten Karangasem juga mengusulkan hal serupa. Mereka mengusulkan penggabungan sekolah dasar (SD) yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit, bahkan ada yang tidak menerima peserta didik baru selama beberapa tahun terakhir. Langkah ini dinilai bisa membuat proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan sekaligus mengatasi masalah kekurangan guru.
Ketua Komisi IV DPRD Karangasem, I Wayan Sudira, mengatakan bahwa penggabungan sekolah bisa menjadi solusi jangka pendek sementara pemerintah mencari langkah penanganan yang lebih permanen.
"Saya usulkan untuk digabung proses belajarnya untuk sementara, sembari mencari jalan keluar terbaik untuk ke depannya. Nanti kami akan berkoordinasi dengan Pak Kadis Pendidikan," kata Sudira pada Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Sudira, penggabungan sekolah tidak hanya membuat kegiatan belajar mengajar lebih efektif. Langkah ini juga membantu pemerataan tenaga pendidik. Sebab, guru dari dua sekolah yang digabung bisa mengajar di satu lokasi sehingga kebutuhan tenaga pengajar lebih terpenuhi.
"Masalah utama kita saat ini adalah kekurangan guru, kalau digabung tentu sekolah lebih efektif karena guru yang mengajar jadi lebih banyak," ujar Sudira.
Ia mengungkapkan bahwa ada sekolah yang jumlah gurunya justru lebih banyak dibandingkan jumlah siswanya. Di sisi lain, ada sekolah dengan jumlah murid lebih banyak tetapi masih kekurangan tenaga pengajar. Kondisi inilah yang menurutnya menjadi alasan penggabungan sekolah layak untuk dipertimbangkan.
Menanggapi usulan tersebut, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem, I Made Adriana Putra, mengatakan bahwa pihaknya akan mengkaji rencana tersebut sebelum mengambil keputusan.
"Memang ada gagasan untuk menggabungkan sekolah yang dapat siswa sedikit, tapi hal tersebut harus dikaji dengan matang dulu," ujar Adriana.
Sebelumnya, pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, tercatat dua SD di Karangasem tidak mendapatkan siswa baru. Bahkan, ada satu sekolah yang sudah empat tahun tidak mendapatkan siswa baru. Selain itu, ada juga sekolah yang hanya mendapatkan 2-3 siswa baru. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tidak adanya anak usia sekolah di wilayah tersebut hingga jarak antar sekolah yang terlalu berdekatan.
Masalah sekolah dengan jumlah murid sedikit ini bukanlah hal baru. Di beberapa daerah, terutama di wilayah pedesaan, jumlah anak usia sekolah yang menurun drastis membuat beberapa sekolah kesulitan untuk memenuhi kuota siswa. Penggabungan sekolah menjadi salah satu opsi yang paling sering dipertimbangkan karena dinilai lebih efisien dari segi biaya operasional dan tenaga pengajar. Namun, keputusan ini tentu tidak bisa diambil secara terburu-buru dan memerlukan kajian yang mendalam agar tidak merugikan siswa dan orang tua.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bali Gabungkan Sekolah Sepi Murid, Jadi Solusi Kekurangan Guru
Rumah 30 Tahun Rusak Parah, Ahi Akhirnya Dapat Bantuan Perbaikan
Damkar Bandung Antar Anak Berkebutuhan Khusus ke RSJ
Kyohei Yoshina Jadi Rekrutan Kelima Persija
Rivalitas Inggris vs Argentina: Empat Duel Ikonik
Huawei Rilis FreeClip 2 S dengan Desain Elegan
Dian Sastro Bukan Dosen Tetap UI
OJK: Judi Online Kejahatan Terorganisir Lintas Negara