Bank Dunia, IMF, dan OECD Proyeksi Ekonomi RI 5% di 2026

Ani R. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Bank Dunia, IMF, dan OECD Proyeksi Ekonomi RI 5% di 2026

Gambar atau konten salah?

Sejumlah lembaga ekonomi global memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 5% pada tahun 2026. Tiga lembaga yang sudah merilis proyeksi tersebut adalah Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Sebelumnya, pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6% pada tahun yang sama. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut angka itu tidak terlalu sulit untuk diraih. Ia mengungkapkan beberapa strategi untuk mendorong pertumbuhan, salah satunya dengan mempercepat penyerapan anggaran. Purbaya ingin belanja fiskal bisa digelontorkan sejak awal tahun.

"Tahun 2026, harusnya pertumbuhan 6% seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit tercapai," ujar Purbaya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, pada 31 Desember 2025.

Selain akselerasi anggaran, iklim usaha yang mulai membaik juga diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan investor, termasuk investor asing. Hal ini seiring dengan penyelesaian berbagai hambatan investasi dan usaha, atau yang disebut debottlenecking.

Proyeksi Bank Dunia

Bank Dunia, dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh melambat menjadi 5% pada 2026. Perlambatan ini terjadi karena kinerja investasi dan ekspor yang tertekan. Namun, pertumbuhan diperkirakan menguat lagi pada tahun-tahun berikutnya.

"Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 5% pada 2026 seiring tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor, sebelum kembali menguat ke level 5,2% pada periode 2027-2028," tulis Bank Dunia dalam laporannya, yang dikutip pada 13 Juli 2026.

Proyeksi untuk 2026 ini mencerminkan hasil kuartal I yang lebih baik dari perkiraan, berkat percepatan belanja pemerintah. Namun, Bank Dunia menegaskan perbaikan ini bukan karena kondisi eksternal yang membaik atau menurunnya risiko.

Konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5%, didukung oleh stimulus fiskal. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat sebesar 8,7%. Meski begitu, Bank Dunia menilai ketergantungan pada belanja pemerintah sebagai penopang pertumbuhan jangka pendek mengandung risiko.

"Mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah aturan fiskal yang berlaku," tulisnya.

Skenario dasar Bank Dunia memperkirakan konflik di Timur Tengah tetap terkendali, tetapi masih berlangsung sepanjang 2026. Gangguan pada pasar minyak dan hambatan pengiriman diperkirakan akan membuat harga minyak mentah Brent bertahan di level US$ 94 per barel. Angka ini US$ 24 lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN 2026.

Di sisi lain, kondisi moneter global diperkirakan masih relatif ketat. Imbal hasil obligasi dan premi risiko tetap tinggi serta rentan terhadap gejolak baru. Permintaan eksternal diproyeksikan melemah pada 2026 sebelum secara bertahap pulih pada 2027-2028.

Proyeksi IMF

IMF juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 5%. Angka ini kemudian meningkat menjadi 5,1% pada tahun berikutnya.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology edisi Juni 2026. Dalam laporan itu, IMF menyebut pertumbuhan ekonomi global akan lebih rendah pada 2026.

Secara kumulatif, IMF tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari laporan bulan April 2026. Perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi akibat perang di Timur Tengah.

"Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan mencapai 3% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,5% pada periode 2024-2025," tulis laporan IMF.

IMF juga memproyeksikan inflasi global akan meningkat dari 4,1% pada 2025 menjadi 4,7% pada 2026, sebelum turun menjadi 3,9% pada 2027. Proyeksi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada April dan menunjukkan bahwa tren penurunan inflasi yang telah berlangsung sejak awal 2024 mulai terhenti.

Proyeksi OECD

Sementara itu, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dibandingkan dua lembaga sebelumnya. Berdasarkan laporan OECD Economic Outlook, produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan tumbuh 4,7% pada 2026.

Tekanan biaya energi dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan membebani konsumsi dan investasi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja. Ekspor neto juga diproyeksikan tidak memberikan kontribusi bersih terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Produk domestik bruto (PDB) riil diproyeksikan tumbuh sebesar 4,7% pada 2026 dan kemudian meningkat menjadi 5,0% pada 2027," tulis laporan tersebut.

Pelemahan permintaan global terhadap sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia diperkirakan akan diimbangi oleh penurunan impor seiring melambatnya permintaan domestik. Inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,4% pada 2026, seiring kenaikan harga energi global yang secara bertahap mempengaruhi harga di dalam negeri.

OECD juga menilai kebijakan moneter diperkirakan tetap tidak berubah hingga akhir 2026. Pemerintah telah menerapkan kebijakan pembekuan harga bahan bakar untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi domestik.

Di sisi lain, kebijakan fiskal diproyeksikan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi pada 2026. Peningkatan belanja untuk subsidi bahan bakar dan program makan bergizi gratis (MBG) diperkirakan hanya akan sebagian diimbangi oleh kenaikan pajak dan pemangkasan pengeluaran di sektor lain.

Ketiga lembaga ini sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 5%, lebih rendah dari target pemerintah yang sebesar 6%. Faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan tekanan harga energi menjadi penyebab utama perlambatan. Pemerintah sendiri mengandalkan akselerasi belanja fiskal dan perbaikan iklim usaha untuk mendorong pertumbuhan.

pertumbuhan ekonomi 2026proyeksi Bank Duniaproyeksi IMFproyeksi OECDakselerasi anggaraniklim usahatarget pemerintah 6%

Komentar

Memuat komentar...