Bawang Putih Target Swasembada dalam 3‑4 Tahun Indonesia
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan bahwa bawang putih kini menjadi bagian dari agenda swasembada pangan nasional yang diprakarsai oleh Presiden Prabowo Subianto. Rencana ini bertujuan menurunkan ketergantungan impor, yang saat ini menguasai 90% pasokan nasional.
Menurut Sudaryono, target swasembada bawang putih dapat dicapai dalam 3-4 tahun ke depan. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaannya menghadapi beberapa tantangan utama, yakni ketersediaan lahan dan bibit yang sesuai dengan iklim dalam negeri.
"Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini. Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, dan juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit," tutur Sudaryono dalam konferensi pers di kantor Wamentan, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.
Sudaryono menilai bahwa tantangan swasembada bawang putih relatif lebih ringan dibandingkan saat pemerintah mengejar swasembada beras. Lahan pertanian yang dibutuhkan untuk bawang putih hanya sekitar 100.000 hektare, sedangkan beras memerlukan lahan lebih luas. Namun, bawang putih memerlukan spesifikasi lahan di dataran tinggi.
"Kita sudah ada tiga, di Sembalun di Nusa Tenggara Barat, kemudian di Temanggung, dan juga di Humbang Hasundutan. Nah itu tantangannya, jadi nyari tempatnya yang kurang lebih mirip-mirip seperti itu, tempatnya yang tinggi," jelas Sudaryono.
Di sisi bibit, Sudaryono menilai Indonesia belum memiliki ketersediaan bibit bawang putih yang memadai. Hal ini disebabkan karena negara masih terlalu lama mengandalkan impor. Bahkan, tidak ada negara yang dapat menyediakan bibit untuk penanaman hingga 100 ribu hektare seperti target pemerintah.
Ia menambahkan bahwa ketika Indonesia berhasil mendapatkan bibit dari luar negeri, para petani masih harus melakukan penangkaran terlebih dahulu agar bibit tersebut dapat tumbuh dan hidup di iklim Indonesia.
"Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit. Bibit tuh misalnya kita impor dari mana lah, dari negara lain, misalnya mengimpor bibit dari China kan kita tidak mungkin impor bibit untuk 100 ribu hektare, Nggak mungkin tuh," jelasnya.
Sudaryono menjelaskan bahwa satu alasan utama tidak dapat mengimpor bibit dalam jumlah besar adalah karena negara asal tidak akan mengizinkan pengiriman bibit sebanyak itu. Oleh karena itu, bibit yang dikirim harus dalam jumlah kecil dan kemudian ditangkar oleh petani di bawah pengawasan Ditjen Hortikultura.
"Satu karena memang negara asal tidak akan mengizinkan mengirim bibit sebanyak itu. Pastikan dikirim bibitnya sedikit, nah sedikit itu harus ditangkar. Ditangkar oleh petani kita, di bawah binaannya Ditjen Hortikultura. Kemudian kenapa harus ditangkar, selain jumlahnya nggak cukup, juga harus ditangkar, disesuaikan dengan iklim kita," sambung Sudaryono.
Langkah awal agenda swasembada bawang putih adalah penyediaan bibit yang cukup untuk penanaman di lahan 100.000 hektare. Penyediaan bibit ini akan dilakukan secara bertahap mengingat pengadaan bibit tidak mudah.
Sudaryono menyebut bahwa Kementerian Pertanian akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Asosiasi Petani Bawang hingga BUMN pangan. Di antara para mitra, ID FOOD dan Bulog akan berperan sebagai off-taker hasil pembibitan, sementara PTPN akan mengalokasikan lahan-lahan di dataran tinggi untuk penanaman.
"Mulai jalan tahun ini, tahun ini kita 5 ribu hektare. Pakai APBN (tanam) 5.000 hektare, BUMN sama swastanya diharapkan 20 ribu hektare karena kita mengarah ke 100 ribu hektare," tutur Sudaryono.
Menjawab pertanyaan mengenai anggaran APBN, ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan dana pembibitan sekitar Rp 75 juta per hektar. Dengan target awal 5 ribu hektare, total biaya yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 375 miliar, mendekati Rp 400 miliar.
"5 ribu hektare ya, jadi kira-kira Rp 75 juta kali 5 ribu hektare berapa itu? Rp 75 juta kali 5 ribu hektare, sekitar Rp 400 miliaran lah," tegasnya.
Setelah bibit awal yang diberikan pemerintah berhasil tumbuh, Sudaryono menjelaskan bahwa bawang putih tidak langsung dipanen untuk konsumsi. Sebaliknya, hasil penanaman pertama akan digunakan untuk menghasilkan bibit baru. Dengan demikian, pada tahap awal pengurangan impor tidak akan signifikan.
Baru setelah jumlah bibit bawang putih yang dibutuhkan cukup untuk penanaman di lahan seluas 100.000 hektare, para petani baru diperbolehkan memanen hasil pertanian untuk konsumsi. Pada tahap awal pelaksanaan agenda swasembada ini, pemerintah akan lebih fokus pada penyelesaian kendala yang telah disebutkan.
Meski demikian, Sudaryono berharap seiring pelaksanaan program, kuota impor bawang putih nasional dapat dikurangi secara bertahap, seiring peningkatan produksi dalam negeri.
"Sembari berjalan ini nanti kuota impornya InsyaAllah akan terus kita, sambil kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita," tegasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berupaya menurunkan ketergantungan pada impor bawang putih, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pertanian dalam negeri. Rencana ini menandai komitmen berkelanjutan terhadap swasembada pangan, meskipun masih menghadapi tantangan signifikan terkait lahan, bibit, dan infrastruktur penanaman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga GOTO Tetap Stagnan Meski Buyback Rp 3,5 Triliun
Perlinsos AI Dijadwalkan Diluncurkan Nasional Oktober 2026
Harga BBM Non‑Subsidi Turun, Pemerintah Pastikan Penyesuaian
Pemerintah Turunkan Pajak Pertanian, Harga Bahan Makanan Naik
ESDM Mendorong Uji E20 Bioetanol, Target Kurangi Impor
Wajib NIB: Usaha E‑Commerce Ditetapkan Peraturan Baru 2026
Berita Terbaru
Doa Rosario Hari Kamis 18 Juni 2026: Panduan Peristiwa Terang
Sekolah Jadi Titik Kontak Utama SPMB 2026 Jawa Barat
Kepala Desa Jombang Kunjungi IKN, Rasakan Ibu Kota Baru
Jakarta Pagi Hari AQI 146, Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Masker
Messi vs Ronaldo: GOAT di Piala Dunia 2026, Debat Sengit
Pelatihan Spreadsheet + AI Online, 30 Juni, 19–21 WIB
Artotel dan Perisai Luncurkan Wisata Psikologi Midhavana