BBCA Turun 5,84% ke Rp 6.050, Fundamental Tetap Kuat

Arif S. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
BBCA Turun 5,84% ke Rp 6.050, Fundamental Tetap Kuat

Gambar atau konten salah?

BBCA turun 5,84% hingga Rp 6.050 pada penutupan pekan lalu, mencatat titik terendah sejak 2021. Penurunan ini disertai net foreign sell (NFS) mencapai Rp 2,1 triliun dalam satu hari. Meskipun begitu, analis menilai kondisi internal BBCA masih sehat.

Menurut Jonathan Gunawan dari Trimegah Sekuritas, tekanan ini bukan hanya pada BBCA saja, melainkan merata di semua bank besar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,81% ke Rp 4.500 dengan NFS Rp 655 miliar, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,85% menjadi Rp 3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

“Investor asing sedang melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global. Saham sektor perbankan, terutama big banks, banyak dilepas karena diposisikan sebagai etalase perekonomian nasional.”

Gunawan menambahkan, “Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA.”

Faktor utama yang ditekankan adalah konflik Iran dengan AS dan Israel, yang belum menunjukkan tanda mereda. Ketidakpastian ini menjaga harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pertumbuhan global. Pada saat bersamaan, nilai tukar terus melemah.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat.”

Selain geopolitik, tekanan datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global dan review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi faktor ini membuat aliran dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Jika dilihat lebih dalam, fundamental BBCA masih solid. BBCA berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun.

“Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid. BBCA bahkan berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun.”

Kuartal I-2026 BBCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun, tumbuh 4% secara tahunan. Riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan pencapaian laba ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus tahunan.

“Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM.”

Pertumbuhan kredit sekitar 6% secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Segmen konsumer masih menjadi tantangan, terutama pembiayaan kendaraan. Analis mencermati indikator risiko kuartalan, khususnya pada segmen di luar korporasi. Namun secara tahunan, kualitas aset masih menunjukkan perbaikan, mencerminkan ketahanan portofolio BBCA di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

“Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga.”

BBCA mempertahankan panduan kinerja 2026, termasuk target pertumbuhan kredit 8-10% dan NIM di kisaran 5,4-5,6%. BRIDS tetap merekomendasikan beli dengan target harga Rp 10.900, menilai potensi kenaikan signifikan dari harga terakhir.

“Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas.”

Secara keseluruhan, meski tekanan makro menekan saham perbankan, fundamental BBCA tetap kuat. Kinerja laba, kredit, dan kualitas aset menunjukkan ketahanan, sementara valuasi masih menarik bagi investor yang mencari peluang di pasar yang sedang berfluktuasi. 27 April 2026.

BBCAPenjualan Luar Negeri BersihKonflik Iran-AS-IsraelHarga EnergiPertumbuhan KreditKualitas AsetDividen Interim

Komentar

Memuat komentar...