Bed Rotting: Fenomena Remaja Menyelami Kesehatan Mental

Eko P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Bed Rotting: Fenomena Remaja Menyelami Kesehatan Mental

Gambar atau konten salah?

Fenomena bed rotting semakin sering terlihat di kalangan remaja dan generasi Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil scrolling media sosial atau menonton video. Banyak orang menilai perilaku ini hanya sebagai kemalasan.

Dr. Yulina Eva Riany, pakar pendidikan anak dan remaja dari IPB University, menegaskan bahwa bed rotting memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks. Menurutnya, perilaku ini dapat mencerminkan dinamika emosional dan mental yang sedang dialami remaja. “Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ujarnya pada 24 April 2026.

Yulina menjelaskan bahwa bed rotting berada di wilayah abu-abu antara praktik self‑care dan perilaku maladaptif. Pada fase remaja, individu sedang mencari jati diri, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Dalam beberapa konteks, kebiasaan ini justru menjadi ruang jeda untuk memulihkan energi dan mengeksplorasi diri. “Bed rotting tidak selalu dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ruang jeda sekaligus ruang eksplorasi bagi remaja,” tambahnya.

Namun, perilaku tersebut juga dapat menjadi sinyal gangguan kesehatan mental. Jika dilakukan secara berlebihan dan tanpa kesadaran, bed rotting berpotensi berkaitan dengan kondisi seperti kelelahan emosional (burnout), kecemasan berlebih, hingga depresi. Yulina menyoroti beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • Kehilangan minat
  • Gangguan tidur
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Penurunan fungsi dalam akademik atau pelajaran

“Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” jelas Yulina.

Untuk menghindari dampak negatif, ia menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat. Istirahat sehat, menurutnya, adalah waktu istirahat yang dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi. Ia menyarankan agar Gen Z dan remaja menetapkan batasan waktu istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan, seperti berjalan santai atau peregangan.

“Self‑care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” tutup Yulina.

Kesimpulannya, bed rotting bukan sekadar kemalasan. Ia mencerminkan kebutuhan remaja akan ruang untuk menenangkan pikiran, namun juga dapat menandakan masalah kesehatan mental jika tidak diatur dengan bijak. Menyadari tanda-tanda peringatan dan menjaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas dapat membantu remaja mengelola stres tanpa menimbulkan konsekuensi negatif.

Bed rottingremajagenerasi Zpsikologi perkembangankesehatan mentalself‑careistirahat sehat

Komentar

Memuat komentar...