BI Naikkan Suku Bunga 25 BP, Rupiah Terus Menguat
Gambar atau konten salah?
Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, atau BI Rate, sebesar 25 basis point menjadi 5,5%. Suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis point menjadi 4,50%, sementara suku bunga Lending Facility meningkat 25 basis point menjadi 6,25%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan mendadak ini didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang lebih dalam dari proyeksi. Menurutnya, rupiah telah melemah secara signifikan, sehingga BI perlu bertindak cepat untuk menstabilkan mata uang.
"Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat, lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu," ucap Perry usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (09 Juni 2026).
Keputusan ini juga bertujuan untuk menarik investasi asing. Sejak April‑Mei, arus modal keluar (outflow) dari investor asing, khususnya SBN‑SRBI, membuat BI merasa perlu meningkatkan suku bunga untuk menjaga nilai rupiah tetap kuat dan inflasi tetap dalam sasaran.
"Kenaikan BI Rate ini untuk menarik masuknya investasi portfolio asing karena sejak April‑Mei itu SBN‑SRBI outflow sehingga kita perlu menaikkan BI Rate agar rupiahnya menguat, stabil dan inflasinya dan inflasinya tahun depan tetap dalam sasaran," terang Perry.
Reaksi pemerintah terhadap kebijakan ini positif. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai langkah tersebut tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi dan merespons gejolak pasar.
"BI rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian Rupiah juga sedikit menguat," ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (09 Juni 2026).
Data perdagangan menunjukkan bahwa pada penutupan Selasa (09 Juni 2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 404,51 poin ke level 5.746,64 atau 7,52%. Rupiah juga menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS, menurun 129,50 poin menjadi Rp 18.058 menurut Bloomberg.
Airlangga menambahkan bahwa stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama pemerintah. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, baik dari sisi ekspor maupun indikator makroekonomi.
"Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI rate ini cukup baik. Oleh karena itu, tentu kita terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro," terang Airlangga.
Menanggapi tuduhan bahwa kenaikan BI rate dilakukan secara terburu‑buruan dan di luar jadwal, Airlangga menegaskan bahwa tindakan tersebut menunjukkan responsifitas Indonesia dalam menghadapi gejolak dan ketidakpastian pasar keuangan.
"Karena ini memang membutuhkan, market membutuhkan signal yang kuat. Kenaikan BI rate 25 basis point itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang," jelas Airlangga.
Dengan langkah ini, BI berharap nilai tukar rupiah dapat stabil atau bahkan menguat, sekaligus menstabilkan inflasi dan menarik kembali arus modal asing. Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekonomi di tengah dinamika pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BPK: Lima ASN Ditangkap KPK Terkait Suap Pemerintah Daerah
Pemerintah & Komisi XI Sepakati Kerangka Fiskal 2027 RAPBN
Goodyear Minta Perpanjang SNI Hingga 1 Jan 2027 di Jerman
AFTECH Dorong Pindar, Pinjaman Online Tumbuh 1,388 Triliun
Goodyear Minta Perpanjangan SNI Hingga Januari 2027
Pemerintah Naik Batas Bawah Pendapatan Negara 12,01% PDB 2027
Berita Terbaru
XLSmart Luncurkan AI ESTA Eco & Vision di Bravo 500 Summit
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
Semifinal AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia 0-0
XLSmart: Jembatan Integrasi Tujuh Pilar Digital Indonesia
Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung
